terminal jatijajar
RAMAI : Ratusan penumpang yang ingin mudik ke kampung halaman di Terminal Jatijajar Kota Depok, Minggu (2/5/2021). DOK RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Jelang penyekatan mudik yang diterapkan 6-17 Mei mendatang, Terminal Jatijajar dipadati penumpang yang pulang kampung alias mudik, Senin (3/5). Kendati banyak penumpang, pengelola tiket perusahaan otobus (PO) maupun supir, ngeluh penurunan drastis penumpang. Akhirnya, mesti menaikan harga tiket lebih daro 100 persen.

Mudik, menjadi sebuah tradisi bagi warga Indonesia pulang ke kampung halamannya. Seperti yang dilakukan Taufik (35) bersama kawannya, Hakim (32), yang berencana mudik ke Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah dengan menempuh 12 jam perjalanan menggunakan bus.

“Disini saya merantau untuk kerja, dan tinggal mengontrak. Kebetulan sudah libur dari kantor. Dari pada disini seperti tahun lalu, akhirnya kami putuskan untuk pulang bertemu orang tua. Milih bus karena lebih nyaman,” katanya kepada Radar Depok, Minggu (2/5).

Sementara, Supir Bus PO Murni Jaya, Asep Saputra menjelaskan, menjelang lebaran, terdapat lonjakan harga tiket. Tetapi, berbanding terbalik dengan penurunan penumpang. Menurutnya, kendala saat ini, jumpah penumpang berkurang akibat kekhawatiran penyekatan mudik pada 6-17 Mei nanti. Baik proses pemeriksaan swab, hingga putar balik di titik penyekatan.

Bus ini kapasitasnya 52 penumpang. Kami selalu menerapkan protokol kesehatan dengan menyediakan masker dan hand sanitizer bagi penumpang. Sejujurnya, dampak dari penyekatan ini luar biasa. “Setiap harinya, kuota penumpang tidak memenuhi untuk keberangkatan. Jadinya, kami sering tertahan keberangkatanya akibat tidak adanya penumpang,” ungkapnya.

Adapun, lanjutnya, batas satu bus layak untuk keberangkatan itu memiliki penumpang minimal 15 orang. Namun, hari ini saja, hanya ada sembilan orang yang dipaksakan untuk berangkat.

“Penurunannya sampai 65 persen. Memang pandemi virus ini tidak terlihat. Harapan saya pribadi mungkin untuk pemerintah, supaya secepatnya memberikan solusi permasalahan penurunan penumpang,” bebernya.

Terpisah, Koordinator Lapangan PO Blue Star Group Kota Depok, Aziz Prakoso juga mengungkapkan, memang terjadi kenaikan harga tiket menjelang lebaran hingga 140 persen. Dari biasanya Rp180 ribu untuk satu seat, melonjak hingga Rp430 ribu bagi trayek Jakarta-Solo. Untuk grafis penumpang, terjadi penurunan signifikan.

“Biasanya h-7 lebaran, penumpang itu luar biasa, sampai 65 persen peningkatan tiket terjual. Sisanya pada h-4. Sekarang, yang biasanya bisa mengangkut penumpang hingga dua sampai tiga bus, ini hanya satu unit, itupun separuh saja. Per hari dibawah 10 orang,” tuturnya.

Menurut Aziz, sejumlah upaya steril telah dilakukan  perusahaan guna meningkatkan keamanan, kesehatan serta kenyamanan penumpang. Sebelum berangkat, Bus akan disemprot disinfektan di Pool. “Kami menyediakan hand sanitizer, dan masker. Supir dan kenek juga sudah dilakukan rapid tes seminggu sekali,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Polana B Pramesti menjelaskan, penghentian sementara terminal adalah bentuk tindak lanjut dari Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Idul Fitri Tahun 1442 H Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran  Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Pemberhentian sementara untuk dua layanan bus ini dilaksanakan baik di terminal dibawah pengelolaan BPTJ, maupun berada dalam kelola Pemerintah Daerah. Mulai 6-17 Mei” ujarnya.

Sejumlah terminal yang masuk dalam pengelolaan BPTJ antara lain Terminal Jatijajar Kota Depok, Terminal Poris Plawad Kota Tangerang, Terminal Pondok Cabe Tangerang Selatan, dan Terminal Baranangsiang Bogor.

“Kalau Terminal Kampung Rambutan dan Terminal Tanjung Priok berada dibawah pengelolaan Pemprov DKI Jakarta, serta Terminal Bekasi dibawah pengelolaan Pemerintah Kota Bekasi,” bebernya.

Guna mengakomodir kepentingan masyarakat yang harus melaksanakan perjalanan keluar Jabodetabek dalam kepentingam mendesak dan non mudik, maka akan mendapatkan pengecualian sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. 13 Tahun 2021.

“Nantinya mereka ini dapat melalui Terminal Terpadu Pulo Gebang dan Terminal Tipe A Kalideres Jakarta yang dipersiapkan tetap membuka layanan AKAP,” jelasnya.

Melalui kebijakan tersebut, dia berharap dapat mengurungkan niat masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik, atau pulang ke kampung halaman keluar Jabodetabek yang berpotensimenyebarkan Covid-19.

Meski layanan AKAP dan AKDP pada Terminal Bus di Jabodetabek akan dihentikan sementara, bukan berarti akifitas terminal tersebut akan berhenti total. Terlebih pada angkutan perkotaan antar lintas wilayah Jabodetabek atau TransJabodetabek yang tidak ikut dihentikan  layanan operasionalnya. (rd/daf)

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar