epidemologi
Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Iwan Ariawan

RADARDEPOK.COM – Tak lama lagi Piala Eropa 2020  yang tertunda akan dihelat, tepatnya 12 Juni 2021. Seperti yang sudah-sudah latennya masyarakat senang dengan menonton bareng (nobar) pertandingan sepak bola. Di tengah Pandemi Covid-19 adanya nobar dinilai sangat berpotensi terjadinya penyebaran Virus Korona (Covid-19). Apalagi, saat ini klaster pemudik di Kota Depok belum diketahui.

Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Iwan Ariawan menyebut, masyarakat jangan melakukan kegiatan nobar khawatir menimbulkan kerumunan. Karena saat ini, penularan Covid-19 sedang tinggi dan muncul virus mutasi yang menularnya lebih cepat.

“Jadi kalau dari saya jangan nonton bareng. Kalau nonton bareng secara daring sih gak masalah. Tetapi nonton bareng di suatu tempat secara bersama-sama atau offline sebaiknya dihindari dahulu,” tuturnya kepada Harian Radar Depok, Minggu (30/5).

Adapun, lanjut Iwan, jika nonton bareng sudah terjadi, dan menimbulkan kerumunan, otomatis penerapan protokol kesehatannya akan menurun. Selain itu, hype menonton sepak bola dengan semangat sambil berteriak bisa mengeluarkan droplet atau cipratan liur yang lebih jauh penyebarannya.

“Perlu adanya pengawasan supaya tidak terjadi menonton bareng. Kalau sudah nobar, kerumunan jaga jaraknya susah. Meski memakai masker pun tetap saja berisiko lewat permukaan. Seperti menyentuh meja atau yang lainnnya,” ucap dia.

Sementara, Pengamat Sepakbola Nasional, Supartono menyebut, masyarakat jangan melakukan menonton bareng (nobar) pada Piala Euro 2020.  Permintaan tersebut tentunya juga perlu didukung Pemerintah, Satgas Covid-19, TNI-Polri dan Satpol PP.

“Untuk imbauan jangan hanya sekedarnya saja. Contoh nonton bareng yang dilihat selama ini terdeteksi di EO, Cafe dan tempat umum lainnya. Kalau sekarang gak mungkin ada yang berani. Jadi meskipun ada yang memaksakan pasti akan bermasalah dengan aparat,” ucapnya.

Kata dia, selama ini, permasalahan di masyarakat adalah kegiatan nobar di lingkungan kampung-kampung. Untuk  tindakan preventif, harus ada sinergitas yang terjalin antara RT/RW, Babinsa maupun Bhabinkamtibmas agar mengawasi lingkungan.

“Kalau di Indonesia itu kesadaran masyarakat dari unsur bawah. Lebih utamanya keluarga dan orang tua.  Jadi nonton bareng tidak bisa dicegah ketika orang tua tidak dapat mengontrol anak-anaknya, dibarengi dengan RT/RW yang tidak mengawasi lingkungan. Apalagi yang melakukannya di dalam ruangan atau rumah,” bebernya.

Dia juga meminta kepada masyarakat untuk tetap di rumah, dan menonton dari rumah dalam kondisi tetap menjaga jarak sesuai protokol kesehatan baik dengan keluarga maupun tetangga. Agar tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19.

Terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana mengungkapkan, sejauh ini belum ada lonjakan yang berarti pasca lebaran. Tren kasus harian juga masih terkendali. Hampir sama dengan waktu sebelum-sebelumnya. “Saat ini Kota Depok kembali berstatus Zona Oranye,” singkatnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok Minggu (30/5), total pasien terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 49.693 kasus, dengan kasus aktif berjumlah 1.290 pasien. Sedangkan jumlah kasus yang sudah dinyatakan sembuh dan telah menyelesaikan masa isolasi tercatat sebanyak 47.452 kasus.

Kemudian, pasien dinyatakan meninggal dunia mencapai 951 jiwa. Sementara itu, kasus kontak erat dan masih menjalani pemantauan berjumlah 680 orang.  Di sisi lain, pasien suspek yang masih dalam masa pemantauan tercatat sebanyak 88 orang. Terakhir, jumlah pasien probable yang masih menjalani pengawasan berjumlah 17 orang.

Pertandingan Piala Eropa 2020 akan berlangsung 12 Juni 2021. Selama satu bulan penuh warga Kota Depok akan disuguhkan skil dari 24 negara di eropa. Bisa dibayangkan jika nobar offline dilangsungkan penularan Covid-19 akan semakin masif.(daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar