antigen
PEMERIKSAAN : Dinkes Kota Depok saat melakukan pemeriksaan Rapid Antigen kepada para pemudik, di Check Point Bojongsari. FOTO : PUTRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Pelacakan pemudik yang lolos bisa pulang kampung, kemudian kembali ke Depok terus digalakan. Hari ketiga Selasa (18/5), tercatat ada 12 pemudik yang reaktif positif setelah dirapid tes antigen. Belasan warga yang dinyatakan reaktif langsung ditindaklanjuti dengan Swab PCR di puskesmas warga tinggal.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita megungkapkan, pada kegiatan rapid tes antigen bagi pemudik yang dilakukan di sejumlah lokasi, menunjukkan adanya pemudik yang reaktif setelah kembali dari kampung halaman. Di check poin ada 635 pemudik yang di swab antigen, hasilnya 3 reaktif sisanya non reaktif. Di puskesmas ada 669 yang diswab antigen, hasilnya 9 reaktif, sisanya non reaktif.

“Bila ditotal hingga hari ada 12 pemudik yang reaktif setelah dirapid tes antigen,” ucap Nova –sapaan akrab Novarita- kepada Harian Radar Depok, Selasa (18/5).

Nova mengungkapkan, semua pemudik yang dinyatakan reaktif akan dilakukan swab PCR di puskesmas tempat tinggal mereka masing–masing. Hal ini dilakukan guna memastikan kondisi kesehatan mereka. Bagi pemudik yang non reaktif, diimbau untuk melakukan isolasi mandiri selama beberapa hari di rumah masing–masing.

“Karena ini bukan kontak erat dengan kasus positif, maka pemudik yang reaktif hanya dilakukan swab PCR di puskesmas, tidak langsung dirujuk ke Wisma Makara UI,” tegasnya.

Sementara, perusahaan di Kota Depok diwajibkan melakukan rapid test antigen kepada karyawannya. Langkah ini dimaksudkan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan perkantoran usai libur lebaran.

“Ya, perusahaan di Kota Depok wajib melaksanakan rapid test antigen untuk karyawannya. Tes ini ada yang dilaksanakan di kantor setempat dengan biaya perusahaan, maupun pribadi. Artinya, karyawan ketika masuk, membawa surat keterangan bebas Covid-19,” ujar Kepala Disnaker Kota Depok, Manto Jorghi, Selasa (18/5).

Selasa (18/5), dia mengaku, telah melakukan monitoring ke beberapa perusahaan. Dari kunjungan itu, dia mendapat laporan, di PT Medifarma dari 370 orang yang menjalani tes, satu di antaranya dinyatakan positif. Sementara PT Yanmar, dari 452 orang yang dites, didapati dua orang positif dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG). Sedangkan di PT Bayer, dilaksanakan swab PCR, dimana hasilnya akan keluar dalam dua sampai tiga hari ke depan.

Manto berharap, perusahaan bisa memberi kebijakan yang tepat untuk karyawan yang terindikasi positif Covid-19. Dengan begitu, penularannya dapat dicegah.

“Rapid test ini menjadi salah satu filter agar tidak ada penularan Covid-19 pada klaster perkantoran. Kami berharap, protokol kesehatan di perusahaan terus ditingkatkan agar penularan Covid-19 bisa ditekan,” jelasnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok pesebaran Virus Korona masih terjadi. Selasa (18/5), tercatat ada 126 jiwa yang positif bila ditotal sudah 48.402 jiwa terkonfirmasi positif. Pasien yang sembuh mencapai 98 jiwa, sehingga totalnya menjadi 46.430 jiwa. Warga yang meninggal juga ada kenaikan, 3 jiwa. Kini menjadi 936 jiwa yang meninggal. Pasien yang belum sembuh atau aktif kini 1.036 jiwa angka tersebut naik 25 jiwa dari sebelumnya.

Provinsi Jawa Barat menyumbang penambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia pada Selasa (18/5). Dilaporkan, dari 4.185 kasus pasien terkonfirmasi, 1.119 di antaranya berasal dari Jawa Barat.

Dalam sepekan terakhir, penambahan kasus Covid-19 di Jabar fluktuatif. Pada 11 Mei terjadi penambahan 1.373 kasus, tetapi turun kembali menjadi 814 kasus keesokan harinya, lalu berturut-turut 814 kasus, 400 kasus, 610 kasus, 723 kasus, 792 kasus dan 1.361 kasus. Berdasarkan laporan yang dirilis laman Pusat Informasi dan Koordinasi (Pikobar) total kasus terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 299.784 kasus. Rinciannya 29.255 di antaranya masih dalam isolasi atau perawatan.

266.505 telah selesai isolasi atau sembuh dan 4.024 meninggal dunia. Berdasarkan sebarannya, kasus aktif paling banyak berada Kabupaten Bogor dengan 4.920 kasus. Kemudian disusul Kota Depok (3.855 kasus), Kabupaten Bandung (2.829 kasus), Bandung Barat (2.477) dan Kota Bekasi (2.435 kasus).

Sementara itu, di Jawa Barat terdapat empat kelurahan atau desa yang masuk ke dalam kategori zona merah, atau daerah dengan potensi penularan Covid-19 yang tinggi. Yakni Karang Tengah (Babakan Madang, Kabupaten Bogor), Cibangkong (Batununggal, Kota Bandung), Cikutra (Cibeunying Kidul, Kota Bandung) dan Cibeureum (Cimahi Selatan, Kota Cimahi).

Gubernur Jabar Ridwan Kamil menuturkan, antisipasi penularan COVID-19 dari pemudik yang kembali ke Jabar di lingkungan rukun warga dilakukan untuk mencegah munculnya klaster COVID-19 di permukiman. “RT/RW wajib melaporkan siapa saja warganya yang hilang selama Lebaran, artinya dia mudik. Lalu, mereka (pemudik) akan kami prioritaskan melakukan tes COVID-19, baik rapid test antigen maupun PCR,” kata Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– di Gedung Sate, Kota Bandung.

Pengetesan Covid-19, kata Kang Emil, akan diutamakan bagi pemudik yang berasal dari kawasan Bodebek (Bogor-Depok-Bekasi) dan Bandung Raya. Dua kawasan tersebut menjadi sumber pemudik. Sedangkan kapasitas pengetesan di 17 titik mencapai 200 tes per hari. “Ada 17 titik yang sudah disiapkan masing-masing titik 200 pengetesan jadi per hari sekitar 3.500-an pengetesan rapid test antigen,” ucapnya.(dra/hmi/rd)

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar

Editor : Fahmi Akbar