BOKS Sekolah Tanpa Batas Gandul
CERIA: Proses belajar saat awal berdiri, bersama murid pertama di Sekolah Tanpa Batas, yang sebelumnya bernama Pondok Anak Pertiwi. FOTO: DOKUMEN PRIBADI FOR RADAR DEPOK

Mengenal Sekolah Tanpa Batas di Gandul (1)
RADARDEPOK.COM, Sekolah Tanpa Batas. Ya, mungkin masih terasa cukup asing di kalangan masyarakat Kota Depok. Padahal sekolah ini telah berdiri sejak 2007 silam.

Laporan : Lutviatul Fauziah

Andi Darmawan dan istrinya Wuri merupakan pendiri Sekolah Tanpa Batas yang awalnya bernama Pondok Anak Pertiwi. Saat pertama kali didirikan pada 2017, memang sebuah pondok kecil di teras rumah temannya, yaitu ibu Farah dan pak Wandi.

Andi bercerita, saat itu Ruth yang merupakan mertuanya sangat ingin sekali memiliki sebuah sekolah sosial yang memang ditujukan untuk keluarga kurang mampu. Dengan cita-cita yang sama, yaitu memberikan pelayanan pendidikan terbaik dengan tanpa sekat dan status sosial.

Saat itu dia pesimis, karena mencari murid yang perlu dibantu bukanlah hal mudah. Terlebih, melihat kondisi di daerah Gandul yang terlihat cukup mampu dengan banyak bangunan rumah yang baik, membuat dirinya sedikit berpikir, apakah ada anak-anak yang pelu ditolong di daerah ini.

Akhirnya mereka dibantu warga sekitar, diajak menyusuri setiap gang yang ada di wilayah  tersebut. Ternyata, betapa pilunya saat melihat kenyataan yang ada, bahwa dibalik tembok-tembok rumah besar masih ada lapak-lapak pemulung yang kondisinya memprihatinkan.

Banyak anak-anak yang tidak bersekolah karena orangtua tidak sanggup membiayai. Perjalanan malam itu memberikan dirinya banyak pelajaran berharga. Ternyata si kaya bisa terlihat kaya, saat si miskin berada dibalik temboknya.

Ternyata pendidikan begitu sulit diraih bagi mereka, karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Di malam itu, ada lima lapak pemulung yang mereka datangi, dari sana mereka memiliki 13 murid yang luar biasa.

“Ditengah saya dan Kak Wuri mencari siswa, ibu mertua dan Kak Via mengurus perizinan. Alhamdullilah, mendapat respon luar biasa dari pak Lurah saat itu. Kami mendapat mandat untuk bisa mencerdaskan Gandul dengan cara yang tak biasa, yaitu pendidikan gratis tapi berkualitas,” jelas Kepala Sekolah Tanpa Batas, Andi Darmawan.

Baginya, ini merupakan sebuah mandat dan tantangan yang cukup besar. Mengingat, saat memulainya mereka betul-betul tidak memiliki pegangan uang sama sekali.

“Benar-benar hanya modal iman, nekat dan yakin niat tulus pasti akan banyak yang mendukung. Setelah izin selesai dan anak-anak sudah ada, akhirnya kami memutuskan untuk tanggal pembukaannya di awal September 2007,” jelas pria berkulit sawo matang ini.

H-2 sebelum dibuka, jumlah pendaftar membeludak sampai di angka 183 anak. Mereka sangat senang sekali, karena akhirnya bisa membantu banyak anak. Setelah 1 September 2007, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mulai berjalan. Dan karena terlalu banyak siswa akhirnya mereka kewalahan dengan hanya beberapa guru.

Kembali dengan modal nekat, mereka beranikan diri open recruitment untuk warga sekitar dan alhamdullilah responnya luar biasa, banyak warga sekitar yang ingin menjadi volunteer. Ada dua warga yang akhirnya membantu mereka, Kak Ibay dan Kak Nia namanya. Keduanya sangat loyal dan penuh semangat.

Seiring berjalannya waktu banyak volunteer yang datang dan bersemangat membantu. Jumlah siswa yang banyak pun bisa tertangani dengan baik. Pelajaran yang mereka ajarkan bukan hanya sekedar pelajaran akademik untuk mendapat nilai bagus.

Mereka mengajak anak-anak untuk datang pagi untuk belajar cara mandi yang benar, cara menggosok gigi, cara untuk memilihh sarapan yang sehat, setelah wangi dan perut kenyang baru bisa siaap belajar.

Walaupun ini merupakan hal sederhana, tetapi yang sering diabaikan oleh mereka dirumah yaitu tubuh yang bersih dan makanan yag sehat. Mengingat, kondisi rumah dan pekerjaan orangtua yang hidup berdampingan dengan sampah melaksanakan hidup sehat tentu bukanlah hal mudah. (bersambung)

 

Jurnalis: Lutviatul Fauziah

Editor: M. Agung HR