pasar kemirimuka
REBUTAN ASET : Suasana Pasar Kemiri Muka yang sedang dalam perseteruan kepemilikan aset, antar Pemerintah Kota Depok dan PT Petamburan Jaya Raya, di Jalan Margonda Raya. FOTO : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok masih belum nyerah memperjuangkan aset miliknya : Pasar Kemirimuka, sampai titik akhir. Rabu (9/6), pemkot tetap berusaha mempertahankan pasar tradisonal itu sampai ada eksekusi lahan.

“Biarkan saja, sebelum dieksekusi, aset itu masih menjadi lahan Pemkot Depok,” tegas Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Depok, Nina Suzana, kepada Harian Radar Depok, Rabu (9/6).

Menurut Nina, hal itu tidak masalah sebab Hak Guna Bangunan (HGB) PT Petamburan Jaya telah habis masanya, sehingga tidak masalah. “Kami pasti terus berjuang ya, sampai akhir, selama belum dibongkar berarti masih punya aset pemerintah,” ungkapnya.

Pertikaian kepemilikan aset Pasar Kemirimuka antar Pemerintah Depok dan PT Petamburan Jaya telah berjalan hampir 13 tahun. Belum lama ini, Mahkamah Agung memutuskan bahwa aset pasar kemirimuka menjadi hak PT Petamburan Jaya.

Sementara, Ketua Perkumpulan Pedagang Tradisional Margonda Depok (PPTMD), Yaya Barhaya menambahkan bahwa kasus ini membawa dampak pada aktifitas pembeli yang sepi. Hal ini karena keadaan pasar semakin tidak layak. “Pedagang sangat terdampak sama perseteruan ini. Pembeli sepi, kondisi pasar kurang baik, membuat pembeli jarang datang,” tambahnya.

Menurutnya, jika sudah ada keputusan terkait siapa yang berhak atas kepemilikan aset tersebut, berarti perseteruan juga harus diselesaikan agar nasib pedagang bisa dijamin.

Kondisi pasar kini semakin memprihatinkan, pasalnya selama perseteruan berlangsung, pasar menjadi tempat yang tidak sesuai, misalnya bermain judi. Jadi dimanfaatkan sama orang yang tidak bertanggung jawab,” beber Yaya.

Diketahui, Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan bernomor No. 2957 k/Pdt/2020 tertanggal 18 November 2020, yang isinya menyatakan PT Petamburan Jaya Raya memiliki hak atas lahan dan aset Pasar Kemirimuka. (arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu

Editor : Fahmi Akbar