operasi yustisi
BAGIKAN MASKER : Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono didampingi Kapolresto Depok, Kombes Imran Edwin Siregar saat melakukan pendekatan persuasif  pada operasi yustisi dengan membagikan masker di Grand depok City, Minggu (13/6). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Warga Depok tolong jangan anggap sepele penularan Virus Korona (Covid-19). Sudah beberpa hari ini kasus pesebaran penyakit mematikan tersebut, terus meningkat. Contohnya Minggu (13/6), berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok virus kembali menularkan 350 jiwa di Kota Depok. Tingginya akan tersebut didominasi melalui klaster keluarga.

Wakil Walikota Depok, Imam Budi Hartono (IBH) mengatakan, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, Pemerintah Kota Depok bersama TNI-Polri menggelar operasi yustisi secara mendadak ke tiga titik wilayah Kecamatan Cilodong, Sukmajaya, dan Cimanggis.

“Memang, pada hari ini (Kemarin), peningkatannya cukup tajam. Dari 225 positif Covid-19 Sabtu (12/6), hari ini (Kemarin) bertambah menjadi 350 orang. Sehingga kita perlu memberitahu masyarakat agar tetap waspada terhadap Covid-19 masih ada di Kota Depok,” ujarnya saat menggelar operasi yustisi kepada Harian Radar Depok, Minggu (13/6).

Sebanyak 115 personel, akan bertugas memantau kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan terutama memakai masker, dan menjaga jarak dengan melakukan pendekatan persuasif. Diharapkan adanya agenda ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar terus menjaga diri, keluarga, dan juga lingkungan sekitarnya.

“Kami berikan masker bagi yang tidak mengenakan, dan membubarkan kerumunan dikhawatirkan menjadi penyebaran Covid-19. Semoga masyarakat tetap menaati aturan yang dibuat pemerintah. Agar pandemi Covid-19 bisa turun lagi. Apalagi menjelang hari raya Idul Adha, dan pas Juli ada pembelajaran tatap muka (PTM) ini akan mendukung kalau terjadi penurunan. Tetapi kalau terjadi lonjakan maka akan tetap dengan PJJ-nya,” terangnya.

Saat ini, kata Imam, rasio di setiap rumah sakit (RS) terutama Intensive Care Unit (ICU) telah menyentuh angka 64 persen keterisian, dan warga melakukan isolasi mandiri di beberapa rumah sakit mencapai 60 persen. “Mari, masyarakat Kota Depok jangan sampai lengah menerapkan 5M, yakni tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, menjauhi kerumunan, serta mengurangi mobilitas,” tuturnya.

Sementara, Juru Bicara Penanganganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana menyebut, kasus konfirmasi positif Covid-19 bertambah 350 jiwa. Total kasus positif Covid-19 menjadi 51.851 kasus. Adapun jumlah pasien konfirmasi positif Covid-19 yang sembuh bertambah sebanyak 53 orang. Sehingga totalnya menjadi 48.767 orang sembuh.

“Sedangkan, untuk kasus kematian akibat Covid-19 di Kota Depok bertambah tiga kasus. Totalnya korban meninggal menjadi 978 orang,” ungkap pria yang juga menjabat Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok.

Jumlah kasus konfirmasi aktif Covid-19 di Kota Depok sebanyak 2.106 kasus. Kemudian, tercatat jumlah warga Kota Depok yang berstatus kontak erat aktif berjumlah sebanyak 1.012 orang. Sedangkan untuk kategori kasus suspek aktif di Kota Depok adalah sebanyak 131 orang.

Menurutnya, lima kelurahan penyumbang kasus positif terbanyak mulai dari Kelurahan Baktijaya ada 103 jiwa, Sukatani sebanyak 100 jiwa, Tanah Baru ada 77 jiwa, Sukamaju 76 jiwa dan Cilangkap sebanyak 73 jiwa. Sementara kecamatan yang paling banyak penyumbang positif, pertama Kecamatan Tapos sebanyak 309 jiwa, Kecamatan Sukmajaya 266 jiwa, Beji ada 222 jiwa, Cilodong sebanyak 209 jiwa dan Kecamatan Cimanggis 197 jiwa.

“Saat ini kami akan lebih mengintensifkan penegakan 5M yakni menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Termasuk, melakukan penguatan terhadap 3T yakni testing, tracing, dan treatment,” tegas Dadang.

Terpisah, Direktur RSUD Kota Depok, Devi Maryori menjelaskan, terjadi peningkatan pasien Covid-19 selama dua minggu kebelakang. Dengan kondisi gejala sedang sampai berat. Ruang ICU, dikatakannya, sudah terisi penuh dan masuk ke dalam zona merah. “Kita punya 6 ICU dewasa itu terisi penuh 100 persen. Rencana, kami akan menambah dua ICU lagi. Peralatan tambahannya sedang dibeli, ada 4 unit High Flow Nasal Cannual (HFNC) yaitu alat bantu nafas,” ujarnya.

Pengadaan ICU tambahan tersebut ditargetkan paling cepat tiga minggu sejak pemesanan atau sekitar Juli mendatang. Karena perlu adanya uji fungsi terlebih dahulu sebelum dapat dipakai. “Targetnya kurang lebih di minggu pertama Juli sudah ready, maksimal di minggu kedua. Karena prosesnya lama juga dari kita klik sampai baang itu ada,” bebernya.

Dia menambahkan, saat ini, terdapat tiga ruangan selain instalasi gawat darurat di RSUD untuk perawatan pasien Covid-19. Terdiri dari lantai tujuh dengan 49 bed, lantai delapan kapasitas 54 bed, dan ruang Kenanga 20 bed. Untuk keseluruhan, dari 128 bed khusus Covid-19 di RSUD, yang sudah terisi itu 42 persen. “Tadinya lantai tujuh masih gak ada pasiennya, sekarang kita mulai mengisi lantai tujuh itu. Hari ini (Kemarin)  lantai tujuh sudah terisi 49 bed. Kemudian ruangan kenanga dari 20 sudah terisi 18,” bebernya.

Adapun, lanjutnya, instalasi gawat darurat (IGD) Covid-19 sudah terisi penuh. Kapasitasnya hanya 9 saja. Bila diperlukan, pihaknya akan menambah extrabed atau bahkan jika pasien masih bisa duduk dan tidak mau dirujuk, maka dengan persetujuan pasien, dia bisa menunggu bed.

“Peningkatan kita rasakan dari awal lebaran sampai selesai lebaran ada 15 persen. Tetapi di pekan terkahir ini, agak kenceng naiknya. Kita ini masih masuk ruangan isolasinya itu zona hijau karena dibawah 60 persen terisinya,” tegas Devi.

Menanggapi adanya lonjakan kasus covid-19 tersebut, Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono menyebutkan, Kota Depok harus bersiap dalam menghadapi adanya lonjakan kasus covid-19. Karena kapasitas pelayanan kesehatan di Kota Depok terancam penuh. “Karena pasti rumah sakit yang menangani Covid-19 di Depok akan penuh, begitu juga dengan tempat isolasi mandiri,” tutur Tri Yunis kepada Radar Depok.

Bahkan Tri Yunis menegaskan, Kota Depok harus siap melakukan lockdown. Dengan melalui proses analisa, lockdown akan dilakukan tingkat kelurahan, kecamatan, atau bahkan tingkat kota. “Harus dilihat dulu, sebaran Covid-19 nya seperti apa. Ada di wilayah kelurahan, kecamatan, atau kota. Upaya penanggulanggannya harus serius,” tegasnya.

Selain itu Tri Yunis menilai, Pemkot Depok harus mempercepat proses vaksinasi Covid-19. Karena dengan adanya vaksinasi Covid-19 akan bisa mengurangi penambahan kasus positif Covid-19. “Jangan sampai kasus di India terjadi Kota Depok,” ucapnya.

Dia menjelaskan, klaster keluarga memang bisa jadi yang paling banyak di masa sekarang. Pasalnya, klaster keluarga pasti masih ada hubungannya dengan efek pascalebaran. “Klaster tetangga atau keluarga akan banyak pastinya. Ini masih ada kaitannya dengan efek pascalebaran,” tandasnya.(daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar