kemungkinan harga BBM naik
Harga minyak dunia terus naik.

RADARDEPOK.COM – Harga minyak mentah dunia terus naik. Dari posisi US$ 53,54 per barel untuk harga minyak Brent dan US$ 50,01 per barel untuk West Texas Intermediate (WTI) pada 5 Januari 2021, kini hargnya telah melebihi US$ 70 per barel.

Harga kontrak Brent pada awal pekan ini mencapai US$ 71,65 per barel, sementara kontrak West Texas Intermediate (WTI) atau minyak light sweet sebesar US$ 69,45 per barel.

Rata-rata harga minyak mentah di Indonesia (Indonesian Crude Price/ ICP) bulan Mei 2021 pun melonjak menjadi US$ 65,49 per barel atau naik sebesar US$ 3,53 per barel dari US$ 61,96 per barel pada April 2021.

Kenaikan harga tersebut pun membuat sejumlah badan usaha pengecer bahan bakar minyak (BBM) seperti Shell Indonesia dan Vivo menaikkan harga BBM non subsidi untuk jenis bensin dengan nilai oktan (Research Octane Number/ RON) 90, 92, 95, hingga diesel non subsidi sejak April 2021.

Adapun kenaikan harga mencapai sekitar Rp 675 sampai lebih dari Rp 1.000 per liter, dibandingkan harga pada Maret 2021.

Lantas, bagaimana dengan PT Pertamina (Persero)? Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga dituntut mengejar keuntungan, apakah juga akan berencana menaikkan harga bensin non subsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92)?

Pjs SVP Corporate Communications & Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan, perseroan terus melakukan analisa dan evaluasi terhadap berbagai faktor yang menjadi komponen penting dalam penentuan harga BBM.

“Pertamina terus melakukan analisa dan evaluasi terhadap berbagai faktor yang menjadi komponen penting dalam penentuan harga BBM, sesuai dengan ketentuan peraturan (Menteri) ESDM terkait,” jelasnya.

Pihaknya pun menyadari saat ini harga BBM Pertamina merupakan yang terendah dibandingkan harga BBM pesaingnya seperti Shell, Vivo, maupun BP-AKR.

Seperti diketahui, sejak awal tahun hingga kini harga Pertalite dan Pertamax masih berada di harga Rp 7.650 per liter untuk Pertalite dan Rp 9.000 per liter untuk Pertamax, khususnya di Jakarta dan Pulau Jawa.

“Saat ini harga BBM Pertamina merupakan yang terendah dari seluruh harga BBM yang dipasarkan di dalam negeri,” imbuhnya.

Tapi, menurutnya opsi menaikkan harga masih terbuka, tapi tergantung dari Peraturan Menteri ESDM nantinya.

“Opsi terbuka yang menyesuaikan dengan peraturan,” ujarnya saat ditanya apakah ada rencana menaikkan harga Pertalite dan Pertamax.

Berdasarkan laporan riset Bahana Sekuritas, harga eceran untuk bensin RON 90 Pertalite seharusnya berada di kisaran Rp 7.783 (US$ 0,54) per liter dan bensin RON 92 Pertamax berada di kisaran Rp 9.156 (US$ 0,64) per liter. Dengan kata lain, sebagian besar sesuai dengan harga saat ini.

“Pada Juni tahun lalu, harga pasar Pertamax sempat meroket menjadi Rp 10.760, namun berangsur-angsur menurun seiring dengan penguatan rupiah,” bunyi riset Bahana tersebut, dikutip Selasa (8/6).

Selama pandemi, Indonesia maupun Pertamina tetap menjaga harga bahan bakar, baik non-subsidi seperti Pertamax dan Pertalite, maupun BBM bersubsidi dan penugasan seperti Solar dan Premium, meskipun adanya volatilitas dolar dan patokan harga minyak global.

“Kebijakan tersebut telah berhasil menahan inflasi domestik dari lonjakan harga minyak, sehingga berkontribusi pada stabilitas di pasar obligasi domestik, meskipun muncul pertanyaan tentang keberlanjutan keuangan perusahaan minyak milik negara PT Pertamina,” ungkap riset tersebut.

Dalam laporan riset yang sama, kondisi harga minyak saat ini dinilai tidak akan menimbulkan tekanan jangka pendek untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Pertamina.

“Namun, mungkin ada tekanan jangka pendek pada rupiah jika harga minyak terus meningkat: Pertamina adalah pembeli dolar terbesar di pasar spot valuta asing Indonesia, terhitung sekitar 20% dari transaksi FX harian,” ungkap laporan riset tersebut. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya