mimbar jumat april
Ketua MUI Kota Depok, KH A Mahfudz Anwar.

Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar

Iman artinya percaya atau yakin terhadap adanya Tuhan Sang Pencipta alam raya ini. Semua orang dari berbagai agama ataupun kepercayaan mempunyai keyakinan yang kuat terhadap apa yang diimaninya. Baik itu percaya terhadap keadaan Tuhan maupun wujud Tuhan. Bahkan ada yang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Itulah kepercayaan yang masih bersifat umum.

Tapi bagi Islam, Iman itu diartikan suatu keyakinan terhadap Tuhan (Allah SWT). Di mana Iman itu identik dengan Tauhid, yaitu meyakini bahwa Tuhan itu maha Esa yang bernama Allah SWT. Atau biasa disebut meng-Esakan Allah SWT. Dan keyakinan inilah yang diakui kebenarannya secara mutlak.

Keimanan seseorang bisa menjadi jangkar bagi kehidupannya, apabila telah tertanam dalam jiwanya. Karena Iman itulah yang menyetir dirinya untuk berjalan di muka bumi ini, baik ketika sendiri maupun sedang bersama dengan banyak orang. Baik ketika berdiam diri maupun berjalan. Apapun yang diperbuat oleh manusia itu keluar dari jiwanya yang ada di dalam setiap diri manusia. Maka beruntunglah orang yang bisa mengendalikan keimanannya secara konsisten (Istiqamah). Karena dengan konsistensi Imannya itu, seseorang bisa mengatur perbuatannya.

Di situlah perlunya setiap orang mengenal aturan yang dibuat oleh Allah SWT. baik berupa Sunnatullah (hukum alam) maupun Syari’atullah (aturan dalam beragama). Mengetahui hukum alam agar dapat berdamai dengan alam. Bisa menghadapi tantangan dan resiko-resiko alam. Sehingga bisa hidup bersama alam dan ada di dalam alam. Sedangkan mengetahui syari’at, agar bisa menjalankan perintah agama dengan baik, sesuai dengan rambu-rambu yang telah diatur dalam Kitab Suci Al-Qur’an maupun as-Sunnah. Rambu-rambu itulah yang harus diikuti dan dipatuhi dengan baik dan benar. Tanpa kepatuhan, maka dia akan mendapat resiko sanksi atau hukuman dari Allah SWT.

Ketika Allah SWT memerintahkan puasa, maka manusia harus berpuasa, mengendalikan hawa nafsunya tidak makan dan minum. Dan kemudian dilanjutkan pada waktu-waktu di luar puasa agar selalu mengontrol nafsunya agar tidak melakukan pelanggaran makan barang haram, misalnya. Demikian juga perintah shalat yang diatur secara disiplin waktunya (kitaaban mauquta) untuk dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Jika seseorang patuh dengan ketentuan waktu (jadwal) shalat tersebut, maka berarti dia telah membiasakan dirinya mengatur nafsunya untuk berbicara dan bersikap sesuai dengan waktu dan kebutuhan. Misalnya kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Karena itu ditemukan dalam aturan shalat sejak takbiratul Ihram sampai mengucapkan kalimat salam.

Ketika Allah SWT melarang menggunjing orang lain, berarti kita diperintahkan untuk diam atau berbicara yang baik-baik saja tentang orang lain. Karena menggunjing itu tidak menyelesaikan masalah, tapi justru memperkeruh masalah. Begitu juga larangan makan barang haram, berarti Allah swt. memerintahkan makan barang halal saja (halalan thayyiba). Maka pemahaman tentang halal dan haramnya suatu makanan hendaknya dipahami sebagai syari’at Allah SWT yang baku dari Tuhan. Dan Syari’at Allah SWT itu telah diintrodusir kepada semua orang melalui Rasul-Nya. Sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya.

Menolak ajakan Rasul, berarti menolak perintah Allah SWT mematuhi ajakan Rasul, berarti mematuhi perintah Allah SWT. Maka Allah SWT telah mengirim malaikat untuk mencatat setiap perbuatan hamba-Nya. Dan mengutus seorang Rasul yang kelak akan menjadi saksi di hari Pengadilan-Nya. Dengan demikian sudah cukup bukti untuk Allah SWT. memberi balasan amal setiap orang. Yang baik akan dibalas baik, yang buruk akan dibalas buruk. Maka disediakan surga, juga disiapkan neraka. Di situlah letak Keadilan Allah SWT. Menghukum manusia pasti disertai bukti, dan memberi pahala juga disertai bukti dan saksi.

Maka Iman dan Tauhid bagi setiap muslim akan menjadi suatu sistem nilai yang berjalan seiring dengan semua perbuatan manusia itu sendiri. Dan kelak akan menjadi bukti dalam pembalasan Allah SWT terhadap setiap hamba-Nya. “Dan kepada setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Dan Dia (Allah SWT) lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S.Az-Zumar, ayat :70). Wallahu a’lam.(*)

Editor : Fahmi Akbar