bps depok
MENUJUKAN : Koordinator Fungsi Statistik Sosial, Hilmiah saat memberitahukan data kenaikan angka kemiskinan dan pengangguran di Kota Depok tahun 2020, di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok, Kawasan Boulevard GDC, Senin (7/6). FOTO : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Kota Depok dipaksa harus segera melakukan inovasi demi memulihkan kemiskinan dan pengangguran. Badai Pandemi Covid-19 selama hampir satu tahun lebih menimbulkan efek yang dasyat. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok mencatat pada tahun 2020 angka kemiskinan dan pengangguran mengalami peningkatan yang sangat drastis. Angka kemismikanan naik 2,45 persen dan penganggguran naik 3,76 persen.

Kepada Harian Radar Depok, Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Kota Depok, Hilmiah menerangkan, tentunya kenaikan tersebut karena terdampak pandemi Covid-19. Sehingga terjadi pemberhentian kerja, pengurangan pendapatan, dan lain sebagainya, hingga berakhir penurunan pendapatan. “Kenaikannya cukup tinggi, tahun ini persentasenya 2,45 persen. Kalau tahun 2019 persentasenya 2,07 persen. Jadi cukup terasa kenaikannya,” ungkapnya, Senin (7/6).

Sebelum pandemi Covid-19, tepat pada tahun 2019 garis kemiskinan di Kota Depok 615.255 dengan total penduduk miskin sebanyak 49.350 jiwa. Lalu pada tahun 2020 garis kemiskinan menginjak angka 644.860 dengan total penduduk miskin sebanyak 60.434 jiwa. “Jadi total penduduk miskin meningkat sebanyak 11.084 jiwa pada tahun 2020,” katanya saat dikonfirmasi.

Namun, lanjut Hilmiah, meningkatnya angka kemiskinan di Depok, tetap menjadi yang pertama dengan tingkat kemiskinan paling rendah se-Jawa Barat. Tapi posisi kemiskinan Kota Depok meningkat menjadi 5 besar paling bawah. “Sebelumnya kita ada di 3 besar se-Indonesia. Kalau Jawa Barat kita tetap pertama terendah,” jelas Hilmiah.

Terkait pengangguran, dia juga mengatakan terjadi kenaikan yang pesat. Hal tersebut dilihat dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun 2020 sebesar 9.87 persen, mengalami kenaikan sebesar 3,76 persen. “Kenaikan itu kalau kita bandingkan dengan persentase pengangguran Kota Depok tahun 2019 ada di 6,11 persen,” jelas Hilmiah.

Perlu diketahui, tahun 2020 pengangguran Kota Depok untuk Pria sebanyak 77.369 orang dan Wanita sebanyak 40.663 orang. Jika dibandingkan tahun 2019, untuk Pria 43.621 orang dan Wanita sebanyak 28.704 orang. “Kalau dibandingkan tahun 2019 dan 2020, berarti untuk pengguran pria bertambah 33.748 orang. Untuk yang wanita 11.959 orang,” ucapnya.

Pada tahun 2020, penggangguran keseluruhan di Kota Depok ada 118.032 orang, baik pria maupun wanita. Untuk persentase Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 63.96 persen, dengan total angkatan kerja sebanyak 1.195.632 orang.

Menimpali hal ini, Sekretaris Komisi D DPRD Depok, Rudi Kurniawan menilai, masuk dalam hal wajar. Karena kenaikan terjadi akibat pandemi Covid-19. Bahkan seluruh daerah dan kota juga mengalami hal serupa, yang mana perekonomiannya terdampak pandemi.

“Ini hal yang wajar, setiap daerah dan kota juga seperti itu. Pertumbuhan ekonominya menurun. Kita memang prihatin ya soal pandemi ini,” terangnya.

Data kemiskinan yang naik belum tentu seluruhnya valid. Sebab selama pandemi banyak masyarakat yang menerima berbagai macam bantuan sosial, sehingga masuk dalam kategori miskin. “Itu juga jadi salah satu pengaruh terjadinya peningkatan kemiskinan dan pengangguran, kan memang data kemiskinan berpacu sama data Kementerian Sosial,” ungkapnya.

Langkah yang harus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi kembali bangkit dan masyarakat kembali bekerja, hingga angka kemiskinan menurun. Menurutnya perlu berinovasi dengan memberikan peluang kepada Unit Menengah Kecil Mikro (UMKM) menerima bantuan.

“Sama seperi pemerintah pusat yang memberikan bantuan untuk bangkitkan kembali ekonomi. Hal ini juga yang harus dilakukan pemerintah Depok. APBD juga harus masyarakat yang diprioritaskan untuk kembali bangkit,” tuturnya

Hal penting lainnya, adalah membuka peluang investasi di Depok biar perputaran ekonomi terus berangsur membaik. Depok diketahui banyak pabrik maupun perusahaan yang bisa di maksimalkan untuk menggaet investor. “Kan banyak pabrik dan perusahan yang bangkrut, ini tolong di bangkitkan lagi, tarik investor agar mau investasi,” pungkasnya. (arn/rd)

Fakta dan Data Penganggur-Kemiskinan Depok :

Penganggur Tahun 2019 :

Jumlah Jiwa :

Pria : 73.080 orang

Wanita : 28.704 orang

TPAK : 65,03 Persen

TPT : 6,11 Persen

Penganggur 2020 :

Jumlah Jiwa :

Pria : 77.369

Wanita : 40.663

TPAK : 63,96 Persen

TPT : 9,87 Persen

Meningkat :

Pria : 33.748 orang

Wanita :  11.959 orang

Total Penganggur 2020 :

118.032 orang

Kemiskinan 2019 :

Garis Kemiskinan : 615.255 Orang

Total Penduduk Miskin : 49.350 Orang

Persentase : 2,07 Persen

Kemsikinan 2020 :

Garis Kemiskinan : 644.860 Orang

Total Penduduk Miskin : 60.434 Orang

Persentase : 2,45 Persen

Meningkat :

Garis Kemiskinan : 29,605 Orang

Total Penduduk Miskin : 11.084 Orang

Persentase : 0,38 Persen

*sumber : Badan Pusat Statistik Kota Depok

Jurnalis : Arnet Kelmanutu 

Editor : Fahmi Akbar