diskominfo sebar wifi
FOKUS : Anak-anak di RW6 Sukatani, tengah mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dengan memanfaatkan wifi gratis dari Pemerintah Kota Depok. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Tak lama lagi, semua jenjang pendidikan : TK, SD, SMP dan SMA/SMK bakal menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tahun ajaran 2021/2022, Juli mendatang. Sejauh ini Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok mengklaim pesiapannya sudah 90 persen, dan Disdik Provinsi Jawa Barat (Jabar) justru mewajibkan satuan pendidikan mempersiapkan PTM dan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kepala Disdik Jabar, Dedi Supandi mengatakan, untuk di Jabar di namai PTM terbatas dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Kebijakan di Juli yang akan datang, dinas pendidikan dan sekolah sebagai satuan pendidikan harus siap menyediakan dua layanan, baik PTM ataupun PJJ, dan orang tua berhak memilih dua metode tersebut. Satuan pendidikan juga wajib memuhi daftar periksa, yang meliputi kesiapan sarana, alat disinfektan, handsanitzer, termogun, ruang kelas, serta vaksinasi guru.

“Di Jawa Barat saat ini vaksinasi guru sudah mencapai 68 persen, dan akan terus dilanjutkan hingga seluruhnya,” terangnya kepada Harian Radar Depok, Kamis (3/6).

Dalam hal ini, pemerintah daerah wajib melakukan pengawasan jika terdapat kasus saat PTM. Maka sekolah atau satuan pendidikan wajib memberhentikan sementara. Dan jika saat PTM berjalan, ada situasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maka sekolah sekolah diberhentikan sementara. “Berbagai persiapan harus dengan baik. Dan untuk Rombongan Belajar (Rombel) maksimal 18 atau disarankan 12 siswa dengan  jarak 1 hingga 1,5 meter,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini bukan lagi perlu ditanyakan berapa persen kesiapannya. Karena memang sudah diwajibkan setiap satuan pendidikan menyediakan dua pilihan untuk siswa dan orangtuanya. Selama satu tahun melaksanakan pendidikan dengan PJJ, Dedi mengatakan timbul dampak negatif yang terjadi pada anak. Dan tatap muka memnag dapat membentuk karakter anak.

“Seperti angka putus sekolah tinggi, karena belajar dari rumah sehingga anak dipekerjakan oleh orang tua, resiko pernikahan usia dini, serta penurunan capaian belajar, kesenjangan bejalar antara sosial ekonomi tinggai dan rendah,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Disdik Kota Depok, Mohammad Thamrin mengatakan, kesiapan TK, SD dan SMP di Kota Depok sudah mencapai 90 persen. Dan vaksinasi tenaga pengajar sudah diatas 70 persen. “Dari jumlah TK/PAUD sekitar 1.000, SD 400 dan SMP 250 di Kota Depok, sudah siap melaksanakan PTM,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Satgas dan dinas-dinas terkait serta melihat kondisi Covid-19 di Kota Depok.  “Kami masih harus melihat kondisi di Kota Depok ini, jika membaik maka siap tatap muka. Kami akan koordinasi dan selanjutnya akan dibuat Perwal atau surat edaran untuk di Kota Depok,” jelasnya.

Komitmen orang tua juga sangat diperlukan dalam pelaksanaan PTM. Kesanggupan orang tua dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, memberikan bekal makan dan minum, mempersiapkan segala kebutuhan anak selama disekolah, serta siap antar jemput untuk anak SD.

Dia berpesan, bagi orang tua yang sudah lelah dengan kondisi memberikan pendampingan sekolah di rumah, diharakan tidak tergesa-gesa dan dapat melihat kondisi terkini.

“Kondisi anak juga perlu diperhatikan, karena anak juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan kesehatan, sehingga orang tua perlu membantu dalam kesiapan,” tuturnya.

Sementara, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Farida Rachmayanti menerangkan, secara umum panduan yang dikeluarkan Kemendikbud sangat dibutuhkan, penerima manfaat utamanya dalam hal ini guru dan tenaga kependidikan tentunya perlu di kontekstualisasikan  sesuai kondisi daerah dan satuan pendidikan. “Kita berharap strategi yang ada didalamnya memberi manfaat sebesar-besarnya bagi para murid, yakni pembelajaran yang mengantisipasi dampak negatif learning loss,” ungkapnya.

Kondisi pandemi yang masih belum terprediksi kapan berakhirnya, memang menuntut kesigapan pemerintah untuk terus menemukan formulasi yang pas. Agar proses mencerdaskan kehidupan bangsa berjalan dengan efektif. “Konsekuensi logisnya, kita berharap dukungan anggaran juga harus memadai. Pemerintah harus riil membantu para siswa dan keluarga dalam mensukseskan berbagai strategi yang diterapkan dimasa pandemi ini,” katanya.

Implementasinya harus sarat dengan kemudahan. Agar perlindungan anak secara kesehatan dan tumbuh kembang dapat diwujudkan, dan pada sisi lain proses pendidikan formal mereka pun terjamin. “Kalau untuk Depok sendiri, saya belum mendapat update terbaru tentang persiapan PTM di tahun ajaran baru 2021/2022 yang akan dimulai pertengahan juli 2021,” terangnya.

Dari komunikasi dengan Kadisdik, Farida mengatakan akan dibahas terlebih dahulu dengan dinas terkait dan tim satgas Covid-19 di minggu ke 3 bulan Juni. Yang nantinya akan dibuat Perwal bisa atau tidaknya PTM di tahun ajaran baru. “Kami apresiasi upaya Disdik Depok untuk menelaah secara detail sesuai dengan kondisi Depok. InsyaAllah untuk kebaikan semua pihak,” tandasnya. (tul/rd)

Jurnalis : Lutviatul Fauziah

Editor : Fahmi Akbar