novarita pakai masker
Kepala Dinkes Kota Depok, Novarita

RADARDEPOK.COM – Indikasi hadirnya varian India : Delta B1617 ternyata sudah dideteksi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok. Sebuah sampel sudah diserahkan Dinkes Depok ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia, sejak akhir Mei lalu. Hingga saat ini uji lab tersebut belum juga diketahui hasilnya.

“Belum ada yang terkonfirmasi varian itu (India B1617). Belum masuk di Depok. Saat ini memang sedang kita uji, sampel sudah di kirim ke Litbangkes sejak Mei tapi memang belum keluar hasilnya,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita kepada Harian Radar Depok, Rabu (16/6).

Dia menerangkan, sampel tersebut di dapat dari pasien Covid-19. Hal ini setelah pihaknya melihat gejala yang mulai mendekati virus varian itu. Secara garis besar memang tidak ada perbedaan, tapi ada satu indikator yang menujuk angka di bawah 30. “Gejalanya sama saja dengan covid 19. Tapi ada satu angka indikator kesehatan jika dibawah 30 itu ada kemungkinan terindikasi,” bebernya.

Sampel yang telah diserahkan Dinkes Depok ke Litbangkes hingga kini belum kunjung keluar hasilnya. Hal ini karena harus mengatre dengan daerah ataupun kota lain yang juga melakukan pengujian. “Ya sampai sekarang belum. Harus antre dulu, karena banyak yang uji juga,” ungkap Nova.

Terkait peningakatan Covid yang terjadi di Depok, Novarita mengakui kenaikannya yang melesat. Menurut Nova –sapaanya-, peningkatan terjadi dari klaster keluarga, baik kumpul keluarga kecil maupun keluarga besar. “Tidak bisa dipungkiri klaster keluarga penyumbang tertinggi saat ini. Alasannya hanya tidak disiplin saat kumpul keluarga, padahal virus itu tidak kenal keluarga. Jadi wajib disiplin, pakai maskernya selalu,” katanya.

Dari jumlah yang terkonfirmasi, Nova mengutarakan ada beberapa pasien yang positif meski sudah dilakukan vaksinasi. Hal ini terjadi karena imun dalam tubuh belum terbentuk atau anti bodinya belum kuat. “Persepsi vaksin harus disamakan dulu kalau setelah terima bukan berarti tidak bisa kena, tapi vaksin untuk membuat kekebalan jika virus itu masuk ke dalam tubuh,” tuturnya.

Nova menyarankan, agar pola hidup sehat selalu diterapkan agar imun dan kekebalan tubuh segera meningkat dengan cepat. Tentunya juga dengan olahraga yang seimbang agar kondisi badan tetap stabil.

Terpisah,  Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menduga penyebaran strain virus baru Covid-19 dari India atau varian Delta, telah ada di wilayah Jabar. Dia meminta warganya untuk tidak longgar dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Jadi per door stop har ini (Kemarin) belum ada data. Feeling saya sih ada tapi harus kita tunggu secara resmi,” kata pria yang akrab disapa Emil itu di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung, Rabu (16/6).

Emil mengaku pihaknya masih menunggu pengambilan sampel tes Covid-19 melalui metode whole genome sequencing (WGS). Pengetesan ini dilakukan seiring dengan masuknya varian baru Covid-19 dari India yang menjadi salah satu faktor penyebab lonjakan kasus yang terjadi di wilayah Jawa Tengah yang bertetanggaan dengan Jawa Barat.

“Belum ada (kasus varian baru di Jabar). Menurut laporan Menteri Kesehatan, varian delta atau dari India baru ada di Jawa Tengah dan terduga di Jakarta, yang Bandung sedang dites genome sequencing-nya,” ujarnya.

Emil meminta agar seluruh kepala daerah lebih waspada terkait varian baru asal India, mengingat varian baru ini atau B1617.2 disebut menular lebih cepat. “Kalaupun ada 5M jawabannya, kedisiplinannya jawabannya dan persiapan karena daya mematikannya tidak terlalu tinggi cuma daya tertularnya 2,4 kali lipat. Jadi kata pak menkes yang sekarang 1.000 cc yang varian baru 3.000 cc,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Minggu, 13 Juni 2021, mengonfirmasi temuan 28 kasus virus Corona varian Delta di Kudus, Jawa Tengah.

Varian Delta dahulu dikenal dengan sebutan virus Corona varian B.1617.2 atau varian India.

Temuan varian Delta di Kudus menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia selama satu minggu terakhir.

Perlu diketahui sebelumnya, Pengamat Epidemologi Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, jika melihat dari statistik kasus aktif di Depok yang terus meningkat setiap harinya, Pemerintah Kota Depok wajib berhati–hati akan kehadiran varian baru Covid-19 asal India : Delta B1617.

“Kalau meningkat dua kali lipat dalam satu hari dan terus menerus, pemerintah sudah harus mulai hati–hati. Karena di Jakarta sudah ditemukan varian baru Covid-19  B1617: atau varian Delta yang disebut WHO,” katanya kepada Harian Radar Depok, Selasa (15/6).

Dia mengungkapkan, Covid-19 varian Delta ini merupakan virus yang mengakibatkan ledakan Covid-19 di India. Kemungkinan besar, varian ini bisa muncul di Depok lantaran jaraknya yang berdekatan dengan Jakarta.  “Kalau benar varian Delta, kemungkinan penularannya bisa lebih meningkat di Depok,” tuturnya.

Peningkatan kasus Covid-19 di Depok ini kemungkinan disebabkan dari penularan yang terjadi sebelum lebaran kemarin. “Faktornya bisa karena belanja, taraweh, dan kegiatan yang menimbulkan kerumunan,” ucapnya.

Menurutnya, jika peningkatan Covid-19 terus meningkat lebih dari dua kali lipat, dia meyakini varian Delta ini sudah menyebar di Depok. “Kalau setiap hari peningkatakan kasus lebih dari dua kali lipat dari hari sebelumnya, saya yakin itu ada varian baru,” bebernya.

Dia menyarankan, Pemerintah Kota Depok harus segera melakukan upaya pencegahan dan deteksi dini adanya varian Delta di Depok. Salah satunya dengan melakukan genetic squencing kepada pasien positif Covid-19.  “Pemerintah harus memeriksa genetic squencingnya si virus ini. Kalau benar ditemukan, penderita harus cepat diisolasi, kemudian kontak tracing dengan benar. Semua yang kontak dikarantina dengan baik, jangan sampai gara – gara varian Delta ini terjadi ledakan seperti di India,” terangnya.

Dia menambahkan, genetic squencing dapat dilakukan jika ada lebih dari 10 orang di wilayah yang sama terpapar Covid-19, pada waktu yang sama. Kalau ada kasus di satu RW, 10 orang lebih di hari yang sama, wajib segera diperiksa dan dilakukan genetic squencing. Kalau ketemu, langsung diisolasi. Sebab, varian virus ini lebih ganas dan berbahaya dari yang ada sebelumnya. “Varian baru ini penularannya lebih cepat dan gejala yang ditimbulkan lebih berat, serta bisa menyasar semua usia,” tegasnya.(arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelamanutu

Editor : Fahmi Akbar