budidaya lintah
TERAPI : Abdul Gani sedang menerima kunjungan dari pasien yang ingin mengikuti terapi lintah. FOTO : INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK

Lintah, hewan melata dengan tekstur yang berlendir, kerap kali dianggap sebagai parasit bagi sebagian besar masyarakat. Akan tetapi, di tangan Abdul Gani (50), warga RT2/16, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, lintah bisa menjadi penghasil pundi-pundi rezeki dan sumber terapi kesehatan.

Laporan : Indra Abertnego Siregar

RADARDEPOK.COM, Abdul Gani, sedang menempelkan beberapa ekor lintah ke punggung seorang pasien yang datang ke tempat terapinya. Dengan lahap lintah itu menyedot darah pasien yang sedang diterapi. Hal itu terlihat dari perubahan bentuk tubuh lintah yang semula berbentuk panjang dan pipih kini sudah menjadi gemuk setelah menempel di tubuh pasien.

Abdul Gani mendapatkan lintah ini dari berbagai wilayah di Depok. Lintah yang dicari di kawasan berair seperti rawa-rawa dan kali di wilayah Kelurahan Pengasinan, hingga daerah Raga Mukti, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor.

Kegiatan budidaya dan terapi lintah ini sudah dilakoni selama lima tahun belakangan. Proses budidayanya pun dianggap tidak begitu sulit. Satu ekor lintah, menurut Abdul Gani bisa berkembang biak menjadi lima ekor dalam beberapa pekan.

Saya mulai membudidayakan lintah sekitar 2016, awalnya keinginan budidaya lintah karena adanya permintaan konsumen sehingga saya mencari lintah ke rawa-rawa dan kali yang ada di wilayah Pengasinan termasuk di Kali Putih, Desa Raga Jaya,” kata Abdul Gani, Kamis (3/6).

Hingga saat ini, jumlah lintah yang dibudidayakan ada sekitar 40 ribu ekor. Jumlah itu juga dibatasi karena keterbatasan lahan dan modal. “Budidaya lintah sempat tembus di angka 100 ribu karena permintaan konsumen untuk diekspor ke luar,” ujarnya.

Namun, lanjut dia, di masa pandemi Covid-19 permintaan lintah berkurang sehingga budidaya juga dibatasi. “Sekarang ini lintah tersebut dijadikan terapi untuk penyakit,” terangnya. (*)

Editor : Junior Williandro