bola lagiii
UNJUK GIGI : U-11 Persez saat mengikuti sebuah turnamen. IST

RADARDEPOK.COM – Kampung Zhabon, memang terkenal sebagai kampung olahraga. Kala itu, sedang maraknya klub sepak bola kampung di masing-masing RW maupun gang. Salah satunya di depan Gang Fatimah. Akibat tidak adanya wadah pemuda setempat untuk bermain bola, akhirnya mereka bergabung dengan klub bola.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

Empat pemuda Gang Fatimah yang bergabung ke dalam klub, beberapa kali bermain. Tetapi, lambat laun mereka merasa resah. Alasannya, disaat menyampaikan aspirasi tidak pernah di dengar klub Gang Fatimah. Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dan mengumpulkan remaja lainnya untuk membentuk klub sendiri.

Hidayat, menjadi salah satu dari pemuda itu. Dia bersama kawanannya membuat klub bernama Persatuan Sepak Bola Zhabon (Persez) untuk pemudia di tingkat RW. Menampung pemuda setempat untuk sekedar mempererat silaturahmi, bermain sepak bola bersama, maupun berlatih bersama di tahun 1995.

“Awal terbentuknya Persez ini di tahun 1995 hanya 15 orang pemuda disini, Jalan Fatimah Bawah, RT2/14, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji. Waktu itu, pemuda hanya bermain permainan saja, sementara olahraganya jarang,” ujar Pembina Persez, Hidayat.

Lokasi yang menjadi andalan mereka untuk bermain dan berlatih ada dua, yaitu lapangan Hockey Universitas Indoneisa (UI) dan Lapangan Adidas, Kelurahan Pondok Cina. Canda tawa, dan cucuran keringat pasti keluar setiap kali bermain bersama. Meski memakai lahan umum, tidak menyurutkan semangat pemuda ini.

Seiring berjalannya waktu disertai latihan rutin, Persez memberanikan diri mengikuti turnamen sepakbola di 1997. unjuk gigi pada dua ajang, yaitu Mawar Cup tingkat Kelurahan Kemiri Muka dan open turnamen Adidas Cup. Unjuk gigi beradu taji dengan klub lainnya.

Di Mawar Cup, mereka beradu taji dengan 10 team yang ada dari berbagai kelurahan di Kecamatan Beji. Sementara, pada Adidas Cup, diikuti oleh 10 tim. Persez memiliki 18 pemain andalan. Dari dua ajang itu, mereka menyabet gelar juara ketiga.

“Dari sini, kami mendapat hadiah, uang pembinaan, trofy, dan kaos tim. Tetapi ada yang lebih berkesan. Nama klub jadi lebih dikenal luas, sehingga banyak pemain lain mau bergabung bersama kami dan latihan bareng,” terangnya.

Disinilah mulainya perubahan besar bagi warga Zhabon. Persez semakin percaya diri dengan mengikuti beberapa ajang lainnya. Sampai sekarang, Persez masih eksis di dunia persepakbolaan. Sudah ada lima generasi yang mengurus klub ini. (bersambung)

Editor : Fahmi Akbar