Ilustrasi kawin kontrak.
Ilustrasi kawin kontrak.

RADARDEPOK.COM – Kawin kontrak di kawasan Cianjur, ternyata menghasilkan uang yang cukup lumayan. Sampai akhirnya banyak yang tergiur dan mulai melakoninya, terutama untuk mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur pun telah mengaluarkan larangan untuk kawin kontrak. Hal itu dilakukan untuk mencegah adanya prostitusi terselubung yang dianggap merendahkan martabat perempuan.

Salah seorang calo kawin kontrak di Cianjur, Udin menjelaskan, mahar di dalam kawin kontrak bervariatif. Itu semua dilihat dari berapa lama usia perkawinan dan juga usia perempuannya.

“Paling kecil Rp 15 juta untuk sepekan. Tapi biasanya bisa juga untuk dua minggu dengan biaya segitu. Tergantung komitmen dan perjanjian awal saja. Kalau maksimalnya tidak terhingga, bisa lebih sampai puluhan juta,” ucap Udin.

Menurut dia, biaya mahar tersebut di luar dari biaya sehari-hari, termasuk belanja pakaian dan kebutuhan lainnya.

“Jadi untuk beli pakaian, makan, dan lainnya ditanggung oleh pihak laki-laki. Istilahnya uang awal itu bersih,” kata dia.

Tetapi, lanjut Udin, uang yang diterima tersebut tak sepenuhnya untuk perempuan yang melakoni kawin kontrak, tetapi dibagi dua dengan perantara atau calo.

“Misalnya dapat Rp 15 juta, dibagi dua, Masing-masing Rp 7,5 juta,” kata Udin.

Duit jatah untuk calo pun akan dibagikan lagi kepada pihak-pihak yang terlibat, mulai penghulu hingga wali nikah sewaan.

“Kan banyak wali nikah yang bukan aslinya, itu harus dibayar. Kecuali kalau memang kawin kontrak atas persetujuan orang tua dan pakai wali nikah yang asli, bagian untuk calonya lebih kecil,” tuturnya.

Udin menegaskan hal tersebut membuat kawin kontrak layaknya praktik prostitusi. Meski mendapat cukup banyak uang dari praktik kawin kontrak, dia sebenarnya kasihan dengan sang perempuan.

“Kasihannya lagi kalau sampai hamil dan punya anak, sedangkan statusnya hanya kawin kontrak. Saya juga prihatin perempuan kita jadi sekadar pemuas nafsu,” kata Udin. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya