nyamuk untuk artikel

Oleh : Kezia Yovanka Irawan

Mahasiswa Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana

NIM : 31180241

 

DEMAM berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit vektor yang ditemui di sebagian besar negara beriklim tropis dan subtropis dengan tingkat tinggi, termasuk Indonesia. Penularan DBD ke manusia terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus dengue dari genus Flavivirus. Virus dengue yang sudah menginfeksi nyamuk Aedes spp akan tetap infektif sepanjang hidupnya dan terus menularkan kepada manusia melalui gigitan dan hisapan darah. Masa inkubasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk (inkubasi ekstrinsik) terjadi selama 8 – 10 hari, sementara masa inkubasinya di dalam tubuh manusia (inkubasi intrinsik) berkisar antara 3 sampai 14 hari sebelum gejala klinis muncul. Ketika virus dengue masuk ke tubuh manusia, maka virus tersebut langsung menuju organ sasaran dan menimbulkan gejala berupa demam tinggi berkepanjangan, pendarahan diatesis, trombositopenia, dan kebocoran plasma.

Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menunjukkan bahwa provinsi Jawa Barat menempati posisi pertama sebagai wilayah dengan kasus DBD tertinggi di Indonesia. Kasus DBD terus mengalami fluktuasi, mulai dari tahun 2011 dengan jumlah kasus sebanyak 3822 kasus, tahun 2012 sebanyak 5.075 kasus, tahun 2013 sebanyak 3.132 kasus, tahun 2014 sebanyak 3.447, hingga di akhir tahun 2020 telah diketahui kasus DBD yang pernah terjadi di Jawa Barat mencapai 14.636 kasus. Tingginya angka kasus DBD di Jawa Barat umumnya dipengaruhi faktor vector capacity, seperti kepadatan nyamuk, lamanya siklus gonotropik, umur nyamuk, dan lamanya inkubasi ekstrinsik yang dipengaruhi oleh kondisi iklim, terutama suhu, kelembaban, dan curah hujan. Hal ini sesuai dengan kondisi Jawa Barat yang memang memiliki tingkat intensitas hujan dan kelembapan yang tinggi sehingga peningkatan populasi nyamuk kerap terjadi. Pertumbuhan dan mobilitas penduduk juga memberikan pengaruh terhadap peningkatan angka kasus DBD di Jawa Barat. Semakin tinggi jumlah dan mobilitas penduduk akan memicu terjadinya peningkatan frekuensi gigitan nyamuk dan penularan DBD, terutama di daerah dengan kondisi hygiene yang kurang baik.

Peningkatan kasus DBD di Jawa Barat memerlukan perhatian khusus dari setiap lapisan masyarakat melalui upaya-upaya pengendalian, baik itu secara represif, preventif, maupun edukatif. Upaya represif diartikan sebagai upaya pengendalian vektor DBD dengan perlakuan kimiawi dan biologis. Pada perlakuan biologis akan diaplikasikan agen biokontrol berupa organisme pemakan jentik untuk menghambat pertumbuhan serta mengurangi populasi larva nyamuk di sekitar pemukiman warga. Sementara itu, berbeda dengan perlakuan biologis yang menggunakan agen biokontrol, pada perlakuan kimiawi digunakan bahan-bahan kimia yang memiliki kemampuan untuk membunuh nyamuk pembawa virus aedes, seperti bubuk abate, obat nyamuk, dan larvasida. Upaya lainnya yang dapat dilakukan adalah upaya preventif. Preventif disini dimaksudkan dengan upaya pencegahan munculnya kasus baru DBD. Salah satu tindakan yang tergolong ke dalam upaya preventif vektor DBD adalah manajemen lingkungan yang bertujuan untuk menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan. Dalam manajemen lingkungan, masyarakat diminta berpartisipasi aktif dalam memelihara sanitasi lingkungan agar tetap higiene dengan gerakan 3M, yaitu menguras, menutup dan mengubur. Gerakan 3M menginisiasi masyarakat untuk mulai peduli terhadap kebersihan lingkungan melalui penerapan kebiasaan mencegah dan memberantas tempat perkembangbiakkan nyamuk di lingkungan rumah, seperti menguras bak mandi secara berkala, menutup atau tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang sudah tidak terpakai.

Upaya represif dan preventif saja tidaklah cukup untuk mengendalikan vektor DBD di Jawa Barat, tetapi juga dibutuhkan upaya edukatif untuk meningkatkan wawasan dan informasi masyarakat mengenai DBD. Edukasi menjadi suatu hal yang sangat penting dalam pengendalian vektor DBD dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat juga menjadi faktor tingginya angka kasus DBD di Jawa Barat. Dalam upaya edukatif ini, peran aktif pemerintah beserta lembaga kesehatan terkait, baik itu di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, atau kelurahan sangat dibutuhkan. Pemerintah dan lembaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya penyakit vektor DBD melalui program penyuluhan kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan sosialisasi perilaku hidup sehat. Melalui program penyuluhan tersebut diharapkan masyarakat bisa meningkatkan perilaku hidup sehat sehingga mengurangi resiko terjadinya kasus DBD. Masyarakat sebagai partisipan harus memiliki kemauan untuk terlibat secara aktif dalam upaya edukatif ini sebab tanpa partisipasi masyarakat maka program ini tentu tidak dapat terlaksana dengan baik. Masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan pihak tertentu, tetapi disini perlu diperhatikan bahwa kerjasama dan kemitraan dari berbagai pihak di sektor terkait sangat penting karena menjadi penentu keberhasilan upaya pengendalian vektor DBD di Jawa Barat. (*)

 

Referensi :

Candra, Aryu. 2010. Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko Penularan. Aspirator, 2(2), 110 –119.

Manalu, Helper Sahat Parulian, dan Amrul Munif. 2016. Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat dalam Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Provinsi Jawa Barat dan Kalimantan Barat. Aspirator, 8(2), 69 –76.