pelepasan siswa SMPN 20
APRESIASI : Kepala SMPN 20 Depok, Sumarno (kiri) dan mantan Kepala SMPN 20 Depok, Komar Suparman (kanan) bersama dengan siswa yang mendapatkan penghargaan dalam kegiatan pelepasan dan wisuda siswa kelas IX tahun pelajaran 2020/2021. FOTO : PEBRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Tahun pelajaran 2020/2021, SMPN 20 Depok melepas 238 siswanya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Kepala SMPN 20 Depok, Sumarno mengatakan, mereka yang lulus di tahun ini adalah angkatan ke-5 dari SMPN yang berlokasi di Jalan Martadinata, Kelurahan Rangkapanjaya, Kecamatan Pancoranmas.

“Tema dalam kegiatan pelepasan ini adalah ‘Generasi Tangguh dan Inovasi”. Hal itu berkaitan semangat dan terus mengembangkan kemampuan di masa pandemi virus Korona (Covid-19),” ucapnya, Selasa (22/06).

Sumarno menjelaskan, karena masih dalam masa pandemi, maka kegiatan pelepasan dan wisuda dilaksanakan secara virtual. Namun, tetap diadakan juga prosesi di sekolah, dengan protokol kesehatan. Dimana, hanya dihadiri perwakilan siswa, guru, dan juga beberapa tamu undangan.

“Kami tidak ingin meninggalkan esensi sebuah prosesi perpisahan siswa. Jadi, tetap diadakan sebuah acara dengan konsep virtual dan protokol kesehatan,” jelasnya.

Sumarno menuturkan, keberhasilan dengan kelulusan siswa tentunya berkat terjalinnya kerjasama yang baik antara sekolah, guru, siswa, orang tua, dan juga stakeholder lainnya.

“Semoga bisa menjagga nama baik dan kebanggan SMPN 20 Depok dimana dan kapan pun,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Mohammad Thamrin mengatakan, karena masih dalam masa pandemi Covid-19, tentunya sekolah melakukan beberapa penyesuaian kegiatan, termasuk dalam kegiatan pelepasan dan wisuda siswa.

“Apa yang dilakukan SMPN 20 sangat baik, karena meski ada batasan-batasan, tetap bisa menjalankan kegiatan pelepasan dan wisuda siswa dengan lancar,” terangnya.

Thamrin menuturkan, siswa yang lulus harus bisa bersyukur, karena di masa pandemi Covid-19, bisa menyelesaikan pendidikan yang mungkin dirasa berat. Karena, tidak 100 persen mendapatkan materi pembelajaran dari sekolah. Tetapi, itu bukan sebuah halangan, karena berkata adanya dukungan dari orang tua dan stakeholder lainnya, pembelajaran bias tetap berjalan.

“Siswa harus memiliki rasa empati dan terima kasih kepada guru-guru dan sekolah. Karena, berkat mereka semua bisa berjalan baik dalam pembelajaran dari sekolah,” tuturnya. (rd)

 

Jurnalis/Editor : Pebri Mulya