Walikota Depok Mohammad Idris
Walikota Depok, Mohammad Idris

RADARDEPOK.COM – Pesebaran Covid-19 di Provinsi Jawa Barat (Jabar) masuk dalam Siaga 1. Tapi, kondisi tersebut tidak buat Kota Depok. Sampai Selasa (1/6), penularan penyakit mematikan tersebut masih landai. Fakta tersebut bisa dilihat dari tingkat keterisian tempat tidur (TT) isolasi dan ICU Covid-19 di RSUD, yang terpakai 30 persen. Hanya saja, warga Depok jangan abai dengan datangnya perhelatan Piala Eropa.

Walikota Depok, Mohammad Idris menjelaskan, Kota Depok memiliki 5.000-an Rukun Tetangga (RT) dari 11 kecamatan. 4.700 RT dinyatakan dalam zona hijau, 300 RT zona kuning, dan 16 lainnya masuk ke zona oranye. Bisa dibilang, sesuai kondisi tersebut, perhitungan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro  di Kota Depok termasuk bagus.

“Pernah waktu itu ada satu RT zona merah di Kota Depok, tetapi sekarang sudah tidak ada. Karena Depok adalah bagian dari Jabodetabek, makanya mengikuti aturan Jabodetabek,” bebernya kepada Harian Radar Depok, Selasa (1/6).

Menurut wlaikota, sesuai instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) mengenai PPKM Mikro yang diperpanjang dari 1 hingga 14 Juni 2021. Dia melarang masyarakat untuk melakukan kegiatan menonton bareng (nobar).

“Nobar Euro kita larang. Kalau nobar khawatir masalah kedisiplinan. Namanya anak muda terutama jaga jaraknya. Meski Kota Depok relatif bagus dan membaik angka penularan Covid-19, pasca lebaran juga tidak ada lonjakan,” katanya kepada Harian Radar Depok, di Stadion Mahakam, Selasa (1/6).

Dia menambahkan, pelaksanaan turnamen olaharga seperti sepak bola diperbolehkan, dengan catatan membatasi jumlah penonton yang hadir serta penerapan protokol kesehatannya. Seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer (3M).

“Turnamen sudah boleh, tetapi penonton kalau bisa dibatasi. Atau kalau bisa syukur-syukur tidak ada penonton sama sekali,” bebernya.

Sementara, Direktur RSUD Kota Depok, Devi Maryori  memastikan, kapasitas ruang perawatan pasien Covid-19, di RSUD Kota Depok masih dalam tahap aman. “Masih aman, tidak ada lonjakan pasien yang signifikan,” katanya, Selasa (1/6).

Dia mengungkapkan, saat ini kapasitas ruangan yang terpakai untuk merawat pasien Covid -19 di sana mencapai 25 hingga 30 persen. “Tempat tidur isolasi terpakai 25 persen dari 128 , ICU Covid-19 terpakai 33 persen dari 7 tempat tidur,” bebernya.

Devi mengakui, seminggu belakangan memang ada kenaikan jumlah pasien Covid-19. Akan tetapi kenaikan tersebut tidak begitu signifikan. “Kenaikannya hanya 5 persen saja,” tuturnya.

Dia menambahkan, saat ini ada 34 orang yang dirawat di RSUD Kota Depok dengan diagnosa Covid -19. Sementara 32 orang dintaranya dirawat di ruangan isolasi sedangkan dua orang lainnya di ICU. “Pasien cuma 34 orang aja, mayoritas gejala sedang aja,” bebernya.

Saat ini Kasus Covid-19 di Jawa Barat melonjak pasca-Lebaran 2021. Kondisi seperti itu menjadikan Jawa Barat berstatus Siaga 1 Covid-19. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyatakan, lonjakan kasus Covid-19 ditandai dengan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 di Jabar yang mengalami peningkatan.

Gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu menyebutkan, pekan ini, BOR RS rujukan Covid-19 berada di angka 38,6 persen atau naik 8 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya 30,6 persen. “(Jabar) Sedang siaga 1,” kata Kang Emil seusai Rapat Komite Percepatan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi di Makodam III Siliwangi, Kota Bandung.

Kenaikan ukurannya BOR, kalau sampai 10 persen itu ada lonjakan. Ini imbas dari libur dan mudik yang bocor yang sudah kita upayakan. Mudah-mudahan jadi pembelajaran. Bahkan, Kang Emil mengungkapkan, ada beberapa RS rujukan Covid-19 di Jabar tingkat BOR-nya sudah melebihi ambang batas yang mencapai 70 persen hingga 90 persen seperti RS Al-Ihsan, RS Immanuel, dan RS Santosa di Kota Bandung.

Kang Emil meminta, RS rujukan Covid-19 yang tingkat BOR-nya sudah di atas 70 persen segera menyiapkan kamar perawatan dengan mengubah kamar perawatan penyakit umum untuk pasien Covid-19.  Di sisi lain, Kang Emil juga menyinggung beberapa daerah yang kasusnya selalu tinggi dengan tingkat kesembuhan rendah, di antaranya Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Garut.

Dia meminta Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 di daerah tersebut melakukan evaluasi, apakah penularan kurang terantisipasi atau distribusi obatnya tak maksimal. “Karena (daerah) yang lain kasus aktifnya 10 persen, tapi di Kabupaten Cianjur 49 persen, Kabupaten Bogor 47 persen, Kabupaten Garut 27 persen. Saya kira ini sangat tinggi sekali. Rabu saya perintahkan Pak Sekda dan jajaran untuk melakukan antisipasi dan koreksi,” katanya.

Lebih lanjut, Kang Emil pun menyoroti mulai longgarnya penerapan protokol kesehatan (prokes) masyarakat, termasuk industri pariwisata. Menurutnya, tingkat kedisiplinan penerapan prokes biasanya berada di atas 80 persen, namun pekan ini turun jadi 72 persen.  “Jadi BOR-nya naik, kedisiplinan turun. Seiring dengan varian baru yang ada, tidak ada lain, prokesnya harus disiplin. Warga jangan menyepelekan Covid-19 yang makin ganas, jangan sampai negara kehilangan kendali,” ujarnya lagi.

Kang Emil menekankan, jika ekonomi ingin membaik dan pariwisata jalan lagi kuncinya hanya satu, yakni taat prokes yang seiring dengan upaya pemerintah dalam menekan kenaikan kasus Covid-19.  “Kemarin didapati hotel bintang lima di Bogor Raya, tidak taat prokes. Berenang membiarkan tanpa pembatasan jumlah pengunjung. Tolong tempat wisata jika ingin produktif, dimulai dengan pembatasan, daftar online itu harus diterapkan,” tandasnya.(daf/dra/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah, Indra Abertnego

Editor : Fahmi Akbar