ketua serikat kerja depok
Ketua FSPMI Kota Depok, Wido Pratikno

RADARDEPOK.COM – Hampir dua pekan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diberlakukan. Dampaknya, sangat dasyat. Jumat (16/7), diketahui   ada sekitar 2.000 hingga 3.000 karyawan yang dirumahkan untuk sementara waktu.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Depok, Wido Pratikno menerangkan, PPKM Darurat ini memang sangat berdampak pada karyawan khususnya di Kota Depok. Namun, menurutnya hingga saat ini belum ada karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Sampai saat ini diindustri belum ada yang melakukan PHK, tetapi kalau yang dirumahkan cukup banyak,” ucapnya kepada Harian Radar Depok, Jumat (16/7).

Dia menyebutkan, dalam satu perusahaan besar saja karyawan yang dirumahkan bisa mencapai 200 hingga 500 karyawan, dan di Depok sendiri cukup banyak jumlah perusahaan. “Mungkin di Depok jumlah yang dirumahkan sekitar 2.000 sampai 3.000 karyawan,” jelasnya.

Untuk lokasi perusahaan yang merumahkan karyawannya, Wido menerangkan hampir seluruh perusahaan menerapkan sistem ini, dan hanya sektir esenssial yang masih bertahan. Terebih, perusahaan yang bergerak dibidang Alat Kesehatan (Alkes), obat-obat hingga multivitamin. “Perusahaan yang disempajang Jalan Raya Bogor saja hampir semua merumahkan karyawannya, kecuali memang industri tertentu,” jelasnya.

Tetapi memang yang menjadi kendala perusahaan, saat karyawannya dirumahkan atau ada juga yang Work From Home (WFH) perusahaan harus membayar gaji secara full sesuai ketentuan. “Jika PPKM masih terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan perusahaan akan melakukan PHK kepada karyawannya,” terangnya.

Karena saat ini perusahaan, produksi hanya 50 persen, sedangkan gaji semua harus dibayar 100 persen. Kalau kondisinya seperti ini lama-lama perusahaan tidak akan sanggup. “Apalagi buruh-buruh yang seperti di ITC atau sektor lainnya yang gajinya hanya harian, mereka mau makan dari mana,” jelasnya.

Menurutnya, harusnya negara membuat kebijakan tetap memperhatikan kesejahteraan para buruh. Kalau memang jalannya harus memperketat aturan, fasilitasi masyarakatnya. “Penghasilan menurun, maka otomatis kesejahteraan para buruh pun terganggu. Semoga PPKM ini cepat berkahir dan semua bisa kembali seperti sediakala,” ungkapnya.

Terpisah, salah satu buruh di PT Selera Prima Sugino mengatakan, untuk dibeberapa sektor memang adanya PPKM Darurat ini sangat berdampak besar.
“Kalau saya kan dibidang makanan atau eseensial, dan kami tetap masuk karena karyawannya juga terbatas,” ucapnya.

Bahkan, hingga saat ini diperusahaannya tidak ada PHK ataupun karyawan yang dirumahkan. Tetapi memang, ada karyawan yang habisa masa kontrak dan tidak diperpanjang.

“Kami masuk seperti biasa, tetapi memang protokol kesehatannya sangat ketat, dan selalu dilakukan penyemprotan disinfektan dan diberikan multivitamin,” tandasnya. (tul/rd)

Jurnalis : Lutviatul Fauziah

Editor : Fahmi Akbar