UPN Jakarta
Suasana saat Webinar Pencegahan Penularan dan Aspek Hukum Kesehatan Terkait Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan FK UPN Jakarta, Rabu (14/07). FOTO/ REPRPO

RADARDEPOK.COM, BOGOR – Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta bekerjasama dengan Klinik Cahaya Kemang Bogor melakukan abdi masyarakat (Abdimas) melalui webinar bertajuk ‘Pencegahan Penularan dan Aspek Hukum Kesehatan Terkait Pandemi Covid-19’.

Adapun dalam webinar yang diikuti puluhan partisipan tersebut diisi pemateri, Ratna Puspita, S.Si, M.Si, dan  dr. Erna Harfiani, M.Si yang mengulas tentang pencegahan penularan Covid-19. sementara, di sesi dua, ada dr.Isniani Ramadhani Sekar Prabani, MH, Dr (C) dr. Putra Sang Fajar El Harry, MH.

COVID-19 (coronavirus disease 2019) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, yaitu virus jenis baru dari coronavirus (kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan). COVID-19 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan seperti flu, hingga infeksi paru-paru seperti pneumonia.

“Mengapa bisa menjadi pandemik padahal awalnya tidak ada.Penyebabnya banyak faktor, tapi paling utama adalah kerusakan lingkungan dan pemanasan Virus dapat bermutasi ketika terpapar sinar UV akibat pemansan global, dimana mutasi ini merupakan bagian dari proses evolusi. Virus bermutasi untuk bertahan,” tutur Erna Harfiani.

Covid-19 ditularkan melalui DROPLET(percikan cairan) orang yang terinfeksi COVID-19, ia menguraikan, seperti ketika batuk/berbicara, berjabat tangan/kontak dan menyentuh permukaan benda/barang yang terkontaminasi

Sedangkan, sebagian pasien Covid-19 pun ada yang mengalami penurunan oksigen tanpa adanya gejala apapun (happy hypoxia).

Pada beberapa penderita, Covid-19 dapat tidak menimbulkan gejala sama sekali. Orang yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 melalui pemeriksaan RT-PCR namun tidak mengalami gejala disebut sebagai kasus konfirmasi asimptomatik (OTG). Penderita ini tetap bisa menularkan COVID-19 ke orang lain.

“Hampir 80% orang mengalami gejala ringan dan pulih dalam 2 minggu. Akan tetapi tetap dapat menularkan kepada orang lain yang berisiko tinggi. Sebagian besar gejala dapat diobati dengan perawatan medis yang tepat waktu,” katanya.

Covid-19 dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila menyerang orang lanjut usia, ibu hamil, perokok, penderita penyakit penyerta/komorbid (hipertensi, penyakit jantung, diabetes), dan orang yang daya tahan tubuhnya lemah, seperti penderita kanker.

Belum ada obat 100 persen untuk menyembuhkan: Obat yang ada merupakan obat untuk mengurangi keluhan dan gejala seperti pengencer darah dan pencegah penggumpalan darah.

Pencegahan  atau cara mengurangi risiko apapun varian covid yang menginfeksi, menjaga Prokes 6 M yakni Meski sudah di vaksin, tetap gunakan masker, mencuci tangan hingga bersih, minimal 20 detik dengan air mengalir+sabun, menjaga jarak 2 meter dengan siapapun terutama saat demam dan batuk, menghindari keramaian dan kontak lansung (berjabat tangan), mengurangi mobilitas, berpergian hanya dalam kondisi darurat dan menghindari makan bersama, makanlah secara bergiliran.

“Juga meningkatkan daya tahan tubuh dengan Pola Hidup Sehat dan teratur serta vaksinasi,” ucapnya.

Sementara, Isniani Ramadhani Sekar Prabani bersama Putra Sang Fajar El Harry menjelaskan terkait pandemi, yakni meningkatnya angka kasus infeksi di suatu wilayah dengan cepat dengan munculnya cluster-cluster.

“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemic pada tanggal 8 Maret 2020.  Dalam waktu  kurang dari 3 bulan,  menginfeksi lebih 126.000 orang di 123 negara  Asia, Eropa,  AS, hingga Afrika Selatan, Dalam dua minggu terakhir jumlah kasus di luar China meningkat 13 x lipat dan jumlah negara yang terkena dampak meningkat tiga kali lipat,” tuturnya.

Berkaitan dengan tentang Undang-Undang Kesehatan  Internasional merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat negara-negara di dunia, termasuk anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun bukan anggota WHO, untuk bekerja sama dalam hal kesehatan internasional.

Peraturan ini bertujuan untuk membantu komunitas internasional dalam mencegah dan merespons risiko kesehatan masyarakat akut yang berpotensi melintasi batas dan mengancam orang-orang di seluruh dunia.

Sedangkan, prinsip-prinsipnya Kemampuan deteksi dini serta merespon  berbagai ancaman Kesehatan yang berpotensi menyebar lintas negara, Harus menghormati martabat, hak asasi manusia serta kebebasan dasar manusia secara penuh ( UU No. 39/1999 tentang HAM), Dipandu oleh tujuan universal precaution untuk melindungi semua orang di dunia dari penyebaran penyakit internasional, Dilaksanakan berdasarkan system surveillance nasional yang sudah ada dan melakukan penanggulangan pada sumbernya  dengan Tindakan yang sesuai dan adekuat dan Dikomunikasikan ke WHO melalui IHR National Focal Point (Gugus Tugas).

Ketika WHO menerima informasi tentang wabah di Wuhan yang mungkin merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, WHO menawarkan kerjasama /kolaborasi  terkait penilaian potensi penyebaran penyakit internasional, kemungkinan gangguan pada lalu lintas internasional; dan kecukupan tindakan pengendalian, serta tawaran untuk memobilisasi bantuan internasional

Apabila negara tersebut pada awal pandemi menolak kolabarasi, WHO dapat berbagi informasi dengan negara lain mengingat besarnya risiko kesehatan masyarakat, sambil membujuk negara tersebut untuk bekerjasama.

“WHO akan mengirimkan informasi kepada seluruh negara, organisasi pemerintah terkait, secepat mungkin dengan cara seefisien mungkin, secara rahasia, informasi kesehatan masyarakat yang diterimanya, yang diperlukan untuk memungkinkan negara-negara tersebut menanggapi risiko kesehatan masyarakat,” ucapnya. (*)

 

Editor : Ricky Juliansyah