Penyekatan kendaraan di Cilangkap Kota Depok
JALUR MASUK DIPERKETAT: TNI, Polri, Satpol PP, dan Dishub saat menggelar penyekatan di kawasan Cilangkap, pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Kasus Covid-19 yang semakin meningkat, membuat Kota Depok terus memperketat pembatasan aktivitas masyarakat. FOTO: IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kota Depok saat ini masih menyandang status Zona Merah, dan sedang menerapkan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, 3 hingga 20 Juli 2021.

Masyarakat harus lebih ketat lagi dalam menjalani protokol kesehatan. Pasalnya, penyebaran virus Covid-19 semakin mengganas di Kota Depok. Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Depok, pada Minggu (4/7) telah mengalami penambahan kasus terkonfirmasi sebanyak 1.169 kasus, meninggal empat orang, dan sembuh 173 orang. Dengan total terkonfirmasi mencapai 64.117 kasus, 1.136 total meninggal, dan 52.487 orang sembuh.

Juru Bicara Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana menyebutkan,  berdasarkan data Distribusi Kasus Baru Berdasarkan Wilayah per kelurahan, Kelurahan Harjamukti menjadi wilayah dengan distribusi kasus baru terbanyak pada, Minggu (4/7) dengan 94 kasus baru. Disusul Kelurahan Limo 74 kasus baru pada posisi kedua, dan Curug 71 kasus baru di posisi ketiga.

“Penambahan kasus terendah ada di wilayah Tapos dan Kedaung. Masing-masing ada penambahan satu kasus,” beber Dadang.

Sementara, Kelurahan Baktijaya masih menduduki peringkat teratas, total kasus terkonfirmasinya menyentuh angka 543 kasus. Dan Kelurahan Tugu menjadi peringkat kedua dengan total 531 kasus terkonfirmasi, serta Kelurahan Sukamaju menyentuh posisi ketiga, 388 kasus terkonfirmasi.

Selain itu, Pemerintah Kota Depok mengumumkan secara resmi hasil pemeriksaan laboratorium Whole Genome Swquencing (WGS). Dari 10 specimen warga Depok yang dilakukan pemeriksaan, hasilnya keseluruhan dinyatakan Positif Covid-19 Varian Delta B.1.617.2. Selama tiga minggu terakhir, terjadi peningkatan yang sangat tinggi mengenai kasus Covid-19 di Kota Depok. Dengan positivity rate 42.23 persen serta berdampak kepada tingkat keterisian bed ICU, dan isolasi rumah sakit hingga mencapai di atas 95 persen.

Walikota Depok, Mohammad Idris menjelaskan di Kota Depok telah ditemukan 10 orang terjangkit virus Korona dengan varian B.1.617.2 atau Delta. Berdasarkan hasil pemeriksaan di Laboratorium LIPI menggunakan Laboratorium WGS. “Saat ini, hasilnya 10 orang dinyatakan Positif Covid-19 Varian Delta,” katanya.

Specimen tersebut berasal dari pasien terkonfirmasi Covid-19 dengan hasil CT(cycle threshold) Value yang kecil (dibawah 30) serta memiliki sejumlah kriteria. Di antaranya penularan yang cepat di masyarakat atau lokal tertentu, Orang yang baru mendarat dari negara asing, dan Mulai menginfeksi kelompok yang sebelumnya tidak rentan (misalnya anak-anak). “Orang sudah divaksin tetapi terinfeksi, penyintas Covid-19 terinfeksi kembali, serta kematian dengan komorbid penyakit menular,” tuturnya.

Idris mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan untuk menaati protokol kesehatan secara ketat. Guna melindungi diri dari paparan virus Korona Varian Delta B.1.617.2 yang sangat cepat tingkat penularannya, dan menghasilkan penyakit berat. Juga membutuhkan hospitalisasi atau tindakan penanganan lebih tinggi.

“Mari bersama-sama kita terapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas, dan menghindari makan bersama (6M). Untuk meningkatkan perlindungan gunakan dua lapis masker, serta menjalankan aturan PPKM Darurat,” tegasnya.

Sementara itu, Ahli Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Iwan Ariawan mengatakan, varian Delta lebih mudah menular kepada orang lain. Karena itu, yang diperlukan adalah pembatasan mobilitas dan kerumunan penduduk secara ketat. Dia menilai PPKM Darurat yang dilakukan Pemerintah Kota Depok sudah tepat untuk menghindari penyebaran varian Delta.

“Secara kebijakan PPKM Darurat sudah tepat. Tapi perlu diawasi pelaksanaannya. dan disertai juga dengan contoh yang baik dari para pejabat pemkot, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Jangan ada yang membuat kerumuman. Saat ini semua harus punya tujuan yang sama untuk menurunkan kasus Covid-19 secara cepat,” terangnya.

Apabila pelaksanaan PPKM Darurat telah selesai selama 14 hari dan dilakukan evaluasi. Jika belum sepenuhnya kasus Covid-19 terkendali, maka harus diperpanjang kebijakan tersebut. Disertai peningkatan cakupan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat. “Target saat ini menurunkan kasus supaya fasilitas kesehatan kita tidak kewalahan menangani kasus Covid-19 seperti saat ini,” ucapnya.

Iwan juga mengimbau masyarakat Kota Depok agar menaati peraturan PPKM Darurat demi kesehatan dan keselamatan bersama. Seperti tidak keluar rumah kecuali sangat mendesak. Bila terpaksa, maka usahakan sesingkat mungkin dengan protokol kesehatan. “Membatasi mobilitas bertemu orang sesedikit mungkin. Pemerintah kota Depok juga perlu melakukan pengawasan ketat orang yang melakukan isoman dan pelacakan kontak eratnya,” tuturnya.

Kasus varian baru, khususnya Delta di Indonesia, memang sudah sangat mengkhawatirkan. Merujuk data hasil pemeriksaan genetik dari sampel spesimen yang dilakukan lembaga Eijkman. Saat ini sudah hampir 80% variant delta. “Sampel yang diperiksa lembaga eijkman itu dari seluruh Indonesia. Kemungkinan besar di Depok polanya mirip seperti itu,” tandasnya.

882 Pelanggar PPKM Darurat Terjaring

Terpisah, dua hari diterapkannya PPKM Darurat Kota Depok, mencatat ada 882 pelanggar dengan beragam sanksi sesuai Peraturan Walikota Nomor 60 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakkan Hukum Protokol Kesehatan, sebagai Upaya Pencegahan Dan Pengendalian Corona Virus Disease (Covid-19).

Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja Kota Depok, Fery Birowo mengatakan selama dua hari pelaksanaan PPKM Darurat, pihaknya menemukan ratusan pelanggaran, baik pengelola atau badan usaha, maupun protokol kesehatan. “Secara keseluruhan dalam dua hari ini ada 882 pelanggar. Terdiri dari 59 badan usaha dan 823 pelanggar masker,” ujarnya kepada Radar Depok, Minggu (4/7).

Hingga saat ini, ada 853 pelanggar yang diberi sanksi secara lisan. 25 secara tertulis, dan empat denda administratif. “Untuk sanksi tergantung jenis pelanggarannya. Yang paling berat itu dikenakan denda lewat Bank BJB, dan paling ringan hanya teguran lisan,” bebernya.  (rd/daf)

Jurnalis: Daffa Syaifullah

Editor: M. Agung HR