hotel dibersihin
ILUSTRASI : Seorang pegawai salah satu Hotel di kawasan Depok saat membersihkan kamar guna menjaga kebersihan. Tercatat ada ribuan pegawai hotel dan restoran yang tidak terima hak jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan. FOTO : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat benar-benar menyisakan kepedihan bagi pegawai hotel dan restoran di Kota Depok. Ribuan pegawai hotel dan restoran yang telah dirumahkan, terpaksa tidak menerima jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan, bahkan banyak yang menerima gaji 25 hingga 30 persen.

“Banyak sekali, biasanya mereka pertama menerapkan Unpaid leave alias cuti tidak bayar sampai dengan 50 persen gaji mereka di potong, semua tunjangan dihilangkan, banyak yang hanya menerima gaji 25 sampai 50 persen,” beber Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Kota Depok, Fajar Prawinto Bagiakusuma, kepada Harian Radar Depok, Kamis (22/7).

Namun, dipastikan Fajar, tidak ada pemecatan, melainkan hanya merumahkan pegawai secara bergantian. Sebab hal ini untuk memangkas PTEB. Di Kota Depok sendiri seluruh hotel telah merumahkan pegawainya sebanyak 50 persen. Bahkan, gaji pegawai hotel dibayar hanya 25 hingga 50 persen bukan menjadi rahasia publik.

“Seluruh Daerah lakukan ini. PHRI Garut saja sudah kibarkan bendera putih. Kota Depok sedang dipikirkan akan lakukan hal serupa atau tidak,” tegasnya.

Menurutnya, tidak ada siasat yang tepat dari terdampak pandemi, selain merumahkan pegawai hotel dan restoran sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengusaha. Sebab hingga saat ini, upaya demi melakukan relaksasi sejumlah sektor, seperti pajak, penundaan pembayaran listrik, hingga relaksasi reklame. “Memang di Depok tidak banyak hotel, tapi banyak restoran. Mungkin di Depok ada ribuan yang di rumahkan,” tegas Fajar.

Salah satu pegawai restoran di Margonda, Nurul M mengaku, PPKM Darurat memang sangat menyedihkan bagi dia dan kawan-kawannya. Memang pandemi khawatir bisa menularkan ke siapa saja, tapi tidak ada yang menjamin gajinya bisa menerima full. “Saya lebih baik kena virus ketimbang mati kelapran. Anak dan keluarga saya mau makan apa kalau semuanya ditutup,” singkatnya.(arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu 

Editor : Fahmi Akbar