pemerintah beli laptop lokal
Ilustrasi

RADARDEPOK.COM, JAKARTA – Penggunaan produk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) buatan lokal sedang diupayakan pemerintah, terutama dalam kebutuhan laptop di sektor pendidikan.

Pemerintah pun telah menyiapkan anggaran Rp 17 triliun untuk pengadaan produk TIK lokal hingga 2024.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, permasalahan utama belanja pemerintah pada bidang pendidikan adalah masih rendahnya belanja produk TIK buatan lokal dibandingkan dengan produk impor.

“Maka untuk tujuan utama meningkatkan produk TIK dalam negeri dilakukan melalui pengadaan barang pemerintah yang ditargetkan Rp 17 triliun di 2021, jadi selama sekitar 4 tahun ke depan kita akan belanjakan sebanyak itu,” ungkap Luhut.

Ia menjelaskan, pada tahun 2021, anggaran kebutuhan pengadaan laptop di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan pemerintah daerah (pemda) mencapai Rp 3,7 triliun dengan total 431.730 unit laptop.

Secara rinci pengadaan 189.165 unit laptop senilai Rp 1,3 triliun akan dibiayai langsung dari APBN 2021, sementara untuk 242.565 unit laptop senilai Rp 2,4 triliun diberikan melalui dana alokasi khusus (DAK) fisik pendidikan.

“Saat ini pemerintah pun sudah melakukan penandatanganan kontrak (dengan pihak industri) atas penggunaan produk TIK dalam negeri senilai Rp 1,1 triliun,” kata dia.

Luhut mengatakan, ada enam perusahaan yang siap memasok laptop lokal sebanyak 718.000 unit di tahun ini, dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang sudah memenuhi ketentuan pemerintah.

Keenamnya yakni PT Zyrexindo Mandiri Buana, PT Tera Data Indonusa, dan PT Supertone, PT Evercoss Technology Indonesia, PT Bangga Teknologi Indonesia, dan PT Acer Manufacturing Indonesia.

Menurut dia, kemampuan produksi Indonesia akan produk TIK harus terus ditingkatkan, terlebih mengingat masa pandemi membuat penggunaan produk TIK melonjak tinggi. Oleh sebab itu, peluang ini pun harus dimanfaatkan dengan baik.

“Justru momen sekarang kita lagi seperti ini, itu kita harus betul-betul dorong, jadi tidak boleh impor-impor padahal kita bisa produksi sendiri,” kata Luhut. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya