boks 3 habiss
PEDULI: Pemeriksaan kesehatan gratis, hasil sinergitas Komunitas GPTB bersama Katar Sub Unit RT2/1 Kelurahan/Kecamatan Pancoranmas beberapa waktu lalu. IST

RADARDEPOK.COM – Keberadaan Komunitas Gerakan Pemuda Taruna Bhakti (GPTB) ini bukan hanya bergerak untuk kepedulian sosial kebencanaan saja. Tetapi, kontribusi nyata juga dinampakkan di lingkungan Kelurahan/Kecamatan Pancoranmas.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

Peraturan pemerintah dalam mengatasi wabah pandemi menjadi faktor terbesar Komunitas GPTB berhenti bergerak. Program terakhirnya, ialah mendistribusikan bantuan ke Sulawesi Barat ketika terjadi gempa bumi pada Semester I 2021.

Namun, aksi mereka untuk tanah tinggalnya yakni Kampung Jemblongan RT2/11 Kelurahan/Kecamatan Pancoranmas masih terus berlanjut. Setiap agenda yang dicanangkan, sebagian sumber pendanaanya berasal dari hasil ngecrek di jalan protokol.

“Untuk di lingkup Pancoranmas, kami punya agenda fogging dan penyemprotan disinfektan,” terang Ketua Komunitas Gerakan Peduli Taruna Bakti (GPTB) Depok, Riki Syarifudin.

Langkahnya dinamis. Kadang kala sering menggelar kegiatan bersama Karang Taruna baik dari sub Rukun Warga, sampai ke tingkat kelurahan. Memang, keberadaan anggota GPTB tak terlepas dari pemuda karang taruna. Setiap kegiatan yang mereka agendakan, perlu persetujuan RT/RW setempat.

Contohnya saja saat bersinergi dengan Karang Taruna Sub Unit RT2/11 Kelurahan/Kecamatan Pancoranmas, mereka menggelar pemeriksaan kesehatan secara gratis untuk warga RT2/11. “Untuk bersinergi itu,¬†jika program tersebut bisa diterima oleh warga, maka dapat berkelanjutan tanpa ada batas waktu yang ditentukan. Asalkan istiqomah untuk menjalankan,” terangnya.

Pemeriksaan kesehatan ini juga mengajak salah satu remaja yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Orang tua dan lanjut usia (lansia) menjadi sasaran dalam kegiatan tersebut untuk dicek gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tensi darah.

“Alhamdulillah sudah berjalan satu tahun lebih medical check up ini. Tetapi khusus di lingkungan RT2/11 saja, belum untuk lingkup RW dan warga luar karena keterbatasan alat serta tenaga medis,” tuturnya.

Komunitas GPTB juga punya kebiasaan tersendiri ketika berkumpul. Selalu ada istilah “topi terbalik” di forum itu yang dimaksudkan untuk mengisi kas anggota. Isinyapun variatif. Jika dihadiri anggota saja bisa terkumpul uang hanya Rp50 ribu. Tetapi, kalau sedang ada program di luar dan berkumpul bersama komunitas lain, bisa sampai Rp100-200 ribu. “Meskipun kami jarang kumpul. Yang penting komunikasi jangan sampai terputus agar bisa lebih kokoh membangun komunitas GPTB ini,” ucapnya.

Saat ini, mereka telah menyusun list program. Apa saja yang akan menjadi gerakan selanjutnya. Mulai dari donor darah sampai sunatan massal. “Masih rencana. Belum bisa direalisasikan akibat keterbatasan anggota dan terbentur pandemi Covid-19,” tandasnya. (daf/rd)

Editor : Fahmi Akbar