Kejari sampaikan keterangan Kasus Lurah Pancoranmas
SAMPAIKAN KETERANGAN: Kepala Kejaksaan Negeri Depok, Sri Kuncoro saat memberikan keterangan resmi soal penanganan perkara hajatan, yang melanggar protokol kesehatan serta menyeret nama Lurah Pancoranmas. FOTO: ARNET KELMANUTU/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Lima Jaksa pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok diturunkan menangani perkara hajatan yang melanggar protokol kesehatan, dengan menyeret nama Lurah Pancoranmas, Suganda. Hal ini dinyatakan resmi Kepala Kejaksaan Negeri Depok, Sri Kuncoro, Selasa (6/7).

Suganda ditetapkan sebagai tersangka kasus kerumunan saat hajatan pernikahan di Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoranmas.

Sri menyampaikan, pihaknya telah menunjuk lima Jaksa Penuntut Umum untuk mengikuti perkembangan penyidikan dan penelitian dari tindak pidana yang disangkakan terhadap S yang juga berprofesi sebagai lurah di Kota Depok.

“Kami akan segera pelajari terkait kelengkapan formil dan materiil,” ungkap Sri.

Hal ini ditindak lanjuti, setelah pada Selasa tanggal 06 Juli 2021 Kejaksaan Negeri Depok telah menerima SPDP dari Polres Metro Depok terkait proses penyidikan Tindak pidana pasal 14 undang-undang RI nomor 4 tahun 1984 tentang wabah menular dan atau pasal 212 KUHP dan atau pasal 216 KUHP pidana atas nama tersangka Suganda (54) yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri sipil.

Tersangka S disangkakan telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur pada Pasal 14 UU RI Nomor 4 tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular dan atau Pasal 212 KUHP dan atau Pasal 216 KUHP.  Lima Jaksa yang menjadi Jaksa Penuntut Umum adalah Arief Syafriyanto, Ivan Rinaldi, Ardhi Haryo Putranto, Athar Bungo Ramadan, dan Hengki Charles Pangaribuan.

“Kelima JPU itu, di antaranya tiga pejabat struktural eselon empat, satu pejabat struktural eselon lima dan Jaksa senior,” jelas Sri di hadapan awak media.

Kejari Depok mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menaati terkait dengan aturan yang diatur dalam PPKM, sebagai upaya pencegahan penularan atau penyebaran covid-19 yang saat ini penularan di Kota Depok sudah sangat mengkhawatirkan .

Sementara itu, Lurah Pancoranmas, Suganda mengakui bahwa apa yang terjadi pada hajatan tersebut adalah hajatan putrinya. Lalu yang membuat video viral tersebut adalah dari pihak besan.

“Karena besan dari Nias, jadi ucapan selamat jalan dan pamitan kepada si tuan rumah dilakukan tradisi seperti itu,” jelas Suganda.

Menurutnya, tidak ada yang mengadakan acara dangdutan dengan berjoget ria. Melainkan ini salah satu tradisi yang biasa dilakukan di Nias setiap silaturahmi, terlebih kegiatan pernikahan semacam ini.

“Tradisi Nias tepatnya 14.15 WIB sebelum jam 15.00. Kemudian setelah selesai acara itu durasi tujuh menit mereka langsung pulang semuanya meninggalkan kami. Yang ditinggalkan di situ hanya pengantinnya saja. Jam tiga selesai, acara kami tutup dan dirapikan. Memang kami akui disana sini tamu masih ada satu dua orang. Kemudian jam 17.00 WIB datang Satpol PP untuk menutup secara keseluruhan dengan penyegelan,” bebernya.

Selain itu lanjutnya, setelah kedatangan petugas, Suganda bersama keluarga lainnya mempersilakan petugas untuk melakukan penutupan atau penyegelan. Serta menyambangi Polsek setempat untuk dimintai keterangan. “Saya dalam hal ini menyampaikan permohonan maaf kepada pimpinan, warga saya, RT, RW. Artinya dengan saya melaksanakan kegiatan pernikahan ini berbuntut kepada hal menuju viral,” katanya.

Sebenarnya, Suganda tidak memberikan izin secara tertulis. Dia mengatakan, telah melihat adanya perpanjangan PSBB sampai 28 Juni. Namun, di tanggal 25 atau 26 Juni pihaknya menyebar undangan. “Tapi di tengah perjalanan, tanggal 2 turunlah itu PPKM Darurat yang dimulai pada 3 juli. Di lain hal juga undangan sudah kami sebar, itu juga hanya ke keluarga inti saja,” ungkap Suganda.

Meski begituSuganda mengaku, membentuk panitia kecil untuk menerapkan dan memantau protokol kesehatan selama hajatan berlangsung. Mulai dari alat cuci tangan di dua pintu masuk, thermogun, sanitizer, masker. Kemudian juga disediakan sarung tangan plastik. Selanjutnya, di pelaminan disiapkan 30 kursi sesuai peraturan yang berlaku, itu dari luas tanah 300 meter tanah yang kosong. Hal ini dapat teguran dari Polres bahwa akan segera ditutup. “Jadi saya mulai resepsi jam 12.30. Karena akad setengah 10 dimulai, jam 10 selesai. Habis Dzuhur kami mulai resepsi,” pungkasnya. (rd/arn)

 

Jurnalis: Arnet Kelmanutu

Editor: M. Agung HR