boks metro
INSPIRATIF : Achiruddin Akiel (41) saat masih mengajar sebagai guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dokumen pribadi for Radar Depok

RADARDEPOK.COM – Sekolah tinggi untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang didambakan memang sudah menjadi impian semua orang. Terlebih, ilmu yang di dapat bisa ditularkan ke masyarakat banyak yang ada di lingkungannya.

Laporan : Lutviatul Fauziah

Siang itu, udara cukup bersahabat. Cerah namun banyak angin bersemilir menambah semangat Achiruddin Akiel, yang santai di depan Balai Warga RW 11 Perumahan Taman Anyelir 3, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong Kota Depok.

Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini, menjalani kuliah S1 dan S1 Bimbangan Koseling di Universitas Indraprasta PGRI. Dia mengambil profesi konselor di Universitas Negeri Padang, sebagai salah satu syarat untuk membuka praktek.

Semasa mudanya, Akiel memang sudah begitu akrab dengan oraganisasi sosial yang diikutinya. Salah satunya, aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) sejak 1999 di Jakarta Barat. Dan saat ini masih menjadi spesialis bidang perawatan keluarga di PMI. Bahkan, dia juga aktif di Taekwondo sejak kecil hingga ikut dalam PON tahun 1990an.

Setelah lulus kuliah, ayah tiga orang anak ini tidak serta merta langsung menjadi dosen. Dia sudah merasakan asam manisnya kehidupan. Mulai menjadi guru SD, SMP, SMA bahkan sekolah SLB.

Nasib baiklah yang membuat dipercayai untuk menajdi seorang dosen Bimbingan dan Konseling di Universitas Indraprasta PGRI sejak 2006 hingga saat ini. Bahkan, istrinya pun merupakan dosen Matematika di perguruan tinggi yang sama dengannya.

Menjadi dosen bukanlah sebuah mimpi yang didambakan bagi Akiel, sejak kecil justru ingin menjadi seorang polisi. Namun, menang tidak disetujui oleh almarhum ayahnya. Hingga akhirnya Akiel bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk pendidikan di Indonesia melalui keilmuan yang dimilikinya.

Sejak 2015 membuka praktek konselor di rumahnya, dengan bekerjasama dengan teman seprofesi yang membuka praktik di klinik ataupun rumah sakit. Banyak sekali client yang datang kepadanya dengan permasalahan yanh sangat kompleks. “Kalau dikalangan mahasiswa biasanya permasalahan pribadi, seperti persoalan adaptasi lingkungan, penyesuaian diri, proses perkuliahan, skripsi bahkan hingga putus cinta,” ucap pria berusia 41 tahun ini.

Disamping itu, dia juga membuka konselor secara umum kecuali yang berkaitan dengan nyawa. Karena baginya itu urusan sang Maha Pencipta. Menjadi seorang dosen sekaligus konselor ada kebahagiaan tersendiri, karena bisa membantu orang, bisa melihat dari prespektif keilmuan yang dimiliki. Dari karakter, body language, dirinya bisa membaca prilaku dan permasalahan yang sedang clientnya hadapi.

“Keilmuan saya sifatnya hanya membantu, memandirikan masalah client dan mereka sendiri yang menyelesaikannya. Kita hanya memberikan arahan dan motivasi,” terang pria yang juga sebagai motivator.

Pedoman hidupnya, yakni Tiga Jadi Satu (TJS) terdiri dari ilmiah, amaliyah, serta imaniah. Baginya tiga poin tersebut harus ada satu kesatuan agar hidupnya dapat berguna untuk banyak orang. (bersambung)

Editor : Fahmi Akbar