metropol boks 2
SUKSES : Achiruddin Akiel (Kemeja Putih), saat foto bersama dengan mahasiswanya setelah perkuliahan, di Kampus Universitas Indraprasta PGRI. Dokumen Pribadi For Radar Depok

RADARDEPOK.COM – Berprofesi sebagai dosen dan konselor memang membuat Akiel banyak memahami karakter tiap orang yang berada di lingkungannya. Bagi dia, ini sebuah anugerah luar biasa dari Sang Pencipta dan tak semua orang memilikinya.

Laporan : Lutviatul Fauziah

Gayanya yang santai dan humoris, membuat siapapun betah berlama-lama bercakap dengan pria berusia 41 tahun ini. Sejak 2015 membuka praktek di rumahnya, dia memang harus membagi waktu untuk mengajar, konselor hingga aksi-aksi sosial yang selalu dilakukan bersama oranganisasi yang membesarkannya.

Beruntunglah, Akiel memiliki istri dan tiga anak laki-laki yang selalu memahami pekerjaan ayahnya. Dia pun sangat pandai membagi waktu, untuk keluarga yang menjadi support sistemnya.

Sebelum adanya virus tak kasat mata yang mematikan ini melanda, dalam seminggu Akiel hanya mendapat klien 2 hingga 7 orang. Namun, setelah wabah mengguncang dunia dalam sepekan penah mendapat 5 hingga 30 klien.

Banyaknya tekanan hidup, mulai dari tidak bekerja, tuntutan ekonomi, kesehatan, ataupun sekolah membuat meningkatnya klien di masa pandemi. Karena ada orang yang psikisnya terganggu. Di masa pandemi terbanyak memang ekonomi dan perceraian.

“Sudah ada 3 klien selama pandemi yang berkonsultasi masalah keluarga hingga perceraian. Setahun lebih tertekan segala hal karena virus ini, memang bukanlah hal sepele,” jelas pria yang jago Taekwondo ini.

Biasanya kliennya tersebut berusia 35 tahun keatas. Bahkan, ada yang sudah berusia 52 tahun yang ingin mengakhiri hidupnya. Sadis memang pandemi ini. Sedari dia membuka praktek ada satu masalah yang menurutnya sangat berkesan dalam membantu kliennya sebelum adanya virus mematikan ini. Saat itu ada perempuan remaja yang datang untuk berkonsultasi, dan ingin bunuh diri akibat hamil di luar nikah.

Sudah dilakukan pendekatan selama 7 bulan, akhirnya klien bisa move on dari laki-laki dan masalah yang dihadapinya saat itu. Ternyata, keluarganya kembali melakukan penekanan, sehingga anaknya kembali depresi dan lari dari rumah. Permasalahan kian rumit, karena si klien menjadi pecandu obat-obatan terlarang.

Yang lebih menyedihkan lagi, remaja tersebut menjadi Pekerja Seks Komersil (PSK). Dalam sehari bisa melakukan hubungan badan dengan tiga sampai tujuh pria. Bukan karena ekonomi, ini dilakuakan untuk melampiaskan dendamnya karena remaja itu terserang HIV. Dibayar ataupun tidak, pria tetap dilayani, yang terpenting visi untuk menularkan bisa disampaikan.

Tidak hanya sampai disitu saja, dokter memvonis kliennya hanya dapat bertahan empat bulan lagi, akibat penyakit yang dideritanya sudah berada di stadium akhir. Akiel mencoba memgubah pola pikir kliennya, dan membuat perempuan ini agar kembali kejalan yang di ridhoi Allah. Agar mampu bermanfaat untuk banyak orang disisa akhir hidupnya.

Ternyata Tuhan berkehendak lain, remaja tersebut mendapat mukjizat hidup lebih lama dari prediksi dokter. Delapan bulan hidup dan kembali ke jalan yang benar, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Terharu campur senang, karena setidaknya Akiel bisa membuat kliennya kembali ke jalan yang benar setelah melalui masa sulit dalam hidupnya. Walaupun memang berakhir untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih abadi. Itu pengalaman Akiel yang paling berkesan selama manjadi konselor. Dia tak luput bersyukur karena bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat untuk membantu sesama. (bersambung)

Editor : Fahmi Akbar