K.H. A. Mahfudz Anwar, Ketua MUI Kota Depok

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

Orang-orang dari dulu sampai sekarang masih ada saja yang selalu mengeluh. Merasa kecewa dengan lingkungannya ataupun bosan dengan keadaan dirinya. Apalagi anak-anak zaman sekarang (anak milenial) yang kebanyakan gandrung dengan main game di medsos atau di HPnya. Dikiranya main game dalam durasi waktu yang lama itu tidak bisa menyebabkan kebosanan. Justru itu sangat berdampak negatif pada dirinya. Misalnya akan menimbulkan kejenuhan otak dan kejenuhan fisik (karena fisiknya tak bergerak). Apa lagi kalau dia main game bisa menang, maka dia akan terus berusaha main yang lebih lama lagi. Dan itu semakin lama akan menimbulkan kebosanan yang berat. Jika dia kalah dalam permainan itu, maka dia akan kecewa dan sedih. Semakin sering kalah, lama-lama akan menumpuk kekecewaan dalam hatinya.

Demikian juga orang yang keseringan nonton TV baik melalui layar kaca maupun melalui HP. Semakin lama waktu yang digunakan untuk menonton, maka mau tidak mau pasti menerima resiko. Antara lain resiko radiasi, ataupun tercuci otaknya dengan pengaruh tontonan yang ditonton dalam HP tersebut. Akibatnya bisa merasa jenuh, lalu bersikap destruktif, mencak-mencak ataupun berteriak, meneriakkan kata-kata yang tak jelas manfaatnya. Dan inilah penyakit manusia di zaman milenial sekarang ini yang bisa jadi mendegradasi ke-Imanan seseorang. Unsur religiusitasnya tergerus oleh hal-hal negatif yang timbul akibat kejenuhan tersebut.

Untuk itu seorang muslim yang taat pada ajaran agamanya akan dengan mudah membatasi diri dalam pengaruh teknologi, seperti HP dan sejenisnya. Karena seorang muslim mempunyai manajemen waktu yang sangat bagus. Sebagai contoh kepatuhan dalam menjalankan ibadah shalat lima waktu saja, bisa menjadikan seorang muslim disiplin menggunakan waktu yang dimilikinya. Di samping itu juga bisa mengisi interval di antara waktu-waktu shalat fardlu tersebut dengan pekerjaan yang dinamis dan variatif. Misalnya pekerjaan sebelum shalat dzuhur akan berganti (variasi) dengan pekerjaan lain setelah shalat dzuhur – menjelang Ashar. Demikian seterusnya, pekerjaan itu akan dilakukan dengan senang hati karena habis dipakai shalat (seperti halte di sepanjang perjalanan). Jadi shalat itu juga bisa memberikan rasa segar (fresh) dalam pikiran, menjernihkan hati. Dan akhirnya mengerjakan sesuatu dengan senang hati.

Orang yang bekerja dengan senang hati (ridla) tidak akan mudah dijangkiti rasa jenuh, kecewa ataupun sakit hati. Tapi justru akan selalu senang gembira dalam mengerjakan pekerjaannya setiap saat. Dan pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati akan menghasilkan buah yang menyenangkan. Seperti memperoleh bonus, ataupun memperoleh upah yang lumayan, karena pekerjaannya benar dan tidak banyak salah, karena kehati-hatiannya. Hal ini sangat berbeda hasilnya, jika dikerjakan dengan hati yang tidak senang, atau merasa terpaksa, maka akan lekas jenuh dan lama-lama menimbulkan kekecewaan yang berat. Dan kekecewaan itu akan menjadi penderitaan yang berat yang menimpa dirinya.

Maka tidak aneh jika Rasulullah saw. dalam memberi pelajaran (dakwah) selalu bergiliran di antara para sahabat, untuk menghindari kejenuhan (karahatas sa’amati). Sekali tempo Rasulullah saw. berdakwah di kampung A dan lain kali di kampung B atau C. Secara tidak langsung beliau itu mengajarkan manajemen waktu yang sangat teratur. Bahkan ajaran agamanya disampaikan dalam bentuk ceramah (mauidzah hasanah) atau dialogis (mujadalah) dalam cara-cara yang sangat baik (ahsan). Sehingga seorang muslim bisa mencontoh dan meneladani cara-cara hidup beliau yang sangat dinamis dan tidak menjenuhkan.

Cara yang ditempuh di samping penggunaan waktu-waktu shalat yang disiplin juga banyak variasi : dzikir atau wirid, atau membaca Kitab Suci Al-Qur’an.  Masing-masing bacaan ada waktunya tersendiri. Jadi di samping pekerjaan kantor ataupun bisnis, selalu diramu dengan kegiatan Ibadah, shalat, mengaji Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat dan banyak lagi kegiatan yang bisa dikerjakan. Sehingga hidupnya bisa menyenangkan dan menggairahkan. Jadi seorang muslim yang taat dalam menjalankan ajaran agamanya akan hidup dinamis dan kreatif. InsyaAllah.(rd)

Editor : Fahmi Akbar