Ketua MUI Depok KH Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

RADARDEPOK.COM, Sering kita jumpai seseorang melakukan kesalahan dalam suatu pekerjaannya. Padahal pekerjaan tersebut sebenarnya mudah untuk terhindar dari kesalahan. Karena sudah terbiasa dan rutin dikerjakan sehari-hari, tapi mengapa masih saja terjadi kesalahan ?  Bahkan kesalahan yang dilakukan mungkin kecil saja, tapi mempunyai dampak yang fatal dan membawa kerugian yang besar. Kalau dalam urusan rumah tangga, bisa jadi fatal berantakan rumah tangganya. Kalau dalam suatu organisasi atau lembaga, bisa jadi hancur organisasi atau lembaga tersebut.

Hal ini sering tidak disadari sebab atau sumber masalahnya. Untuk itu perlu diketahui bahwa kesalahan kecil bisa berdampak besar. Ibarat percikan api yang kecil bisa membakar gedung yang besar. Bahkan bisa membakar ribuan hektar hutan di musim kemarau. Sebagai contoh klasik adalah kesalahan atas tindakan rutin yang dianggap biasa-biasa saja. Seseorang menganggap pekerjaan rutin itu mudah dikerjakan, sehingga mengerjakannya ngasal saja. Ia tidak sadar bahwa dengan menggampangkan suatu pekerjaan, bisa mengakibatkan kesalahan walau kesalahannya kecil juga. Seperti orang yang biasa bertemu dengan klien , karena sudah sering bertemu, akhirnya dianggap biasa-biasa saja tanpa ada kreatifitas pertemuan.

Hal ini berbeda dengan sikap seorang muslim yang baik. Tidak mudah terjerumus pada kesalahan walau kecil. Mengapa demikian ? Karena seorang muslim yang baik selalu menghidupkan pikirannya. Dan pikirannya selalu aktif, baik dengan mengingat Tuhannya (dzikrullah) maupun dengan konsentrasi (khusyu’) dalam melakukan setiap jengkal pekerjaannya. Sehingga ia bisa fokus pada pekerjaannya, karena ia sadar bahwa setiap pekerjaannya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhannya. Baik dalam pekerjaan rutin dalam rumah tangga, dalam lembaga, dalam organisasi dalam kehidupan masyarakat dan di mana saja ia bekerja selalu dikerjakan dengan yang terbaik, selalu menghindari kesalahan. Karena menganggap bahwa pekerjaannya itu sangat berarti buat dirinya sendiri dan buat orang lain.

Dalam rumah tangga -misalnya- sebagai seorang suami selalu berbuat baik kepada keluarga, isteri dan anak-anaknya. Selalu ada saja hal baru yang ia tampilkan sebagai sikap memuliakan kepada sang istri maupun kepada anak-anaknya yang ia sayangi selalu. Dan sebaliknya sebagai seorang istri selalu berusaha melayani suami dan anak-anaknya dengan pelayanan yang terbaik. Menganggap bahwa pekerjaannya itu sebagai bagian dari pengabdian kepada Tuhannya yang telah mengaruniai suami dan anak-anak. Dia tidak menganggap sepele dalam melakukan pekerjaan rutinnya. Selalu ada saja kreatifitas yang muncul setiap saat, bersamaan dengan pikiran yang selalu aktif. Dengan minat yang antusias, ia selalu berusaha tampil yang terbaik dan menyelesaikan tercepat. Dan hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan rumah tangganya yang bernuansa “Baitie Jannatie”, rumahku adalah surgaku.

Demikian juga dalam suatu oraganisasi atau lembaga. Seorang Pemimpin muslim yang baik, selalu menganggap bawahannya (ummatnya) adalah orang-orang hebat yang pantas untuk mendapat apresiasi atau acungan jempol. Karena berpedoman pada QS.Asy-Syu’ara’ : 215 ; “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang mukmin yang mengikutimu.” Jadi ia tak pernah menganggap bawahan sebagai manusia yang hina atau rendah derajatnya. Sehingga ia selalu berhati-hati dalam sikap dan tutur katanya terhadap bawahannya, tidak pernah mentang-mentang, merasa yang paling berkuasa atas diri bawahannya. Maka dari pada itu ia jarang atau bahkan tidak pernah melakukan kesalahan terhadap bawahannya. Dan oleh karenanya berjalan dan maju bersama-sama, dalam memajukan oraganisasi atau lembaga yang dimiliki.

Walhasil kesalahan apapun sebenarnya bisa dihindari dengan cara mengaktifkan pikiran. Karena dengan mengaktifkan pikiran, akan mengurangi ketergelinciran dalam setiap pekerjaan yang sedang dikerjakan. Dan potensi baik ini selalu dimiliki oleh seorang muslim yang baik. Pikirannya hidup, hatinya pun hidup. Dan jiwa nya senantiasa tenang. Maka dengan ketenangan itulah modal utama menjaga konsistensi pekerjaan. InsyaAllah.***