pemakaman
PEMAKAMAN: Tim pemulasaran jenazah Covid-19 Kota Depok, saat melakukan pemakaman di salah satu TPU Kota Depok, beberapa waktu lalu. FOTO : PUTRI/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Kondisi pesebaran Virus Korona (Covid-19) di Kota Depok sudah mengkhawatirkan. Suasananya mencekam, jasad ada yang meninggal saat isolasi mandiri (Isoman). Belum lagi, kasus meninggal saban harinya sangat tinggi. Contohnya Minggu (11/7), dalam sehari ada 28 jiwa yang meninggal akibat Covid-19. Akibatnya, saat proses pemulasaran atau pengurusan jenazah Covid-19 harus antre sesuai dengan pengajuan yang masuk.

Relawan pemulasaraan jenazah Covid-19 Kota Depok, Nurhikmahwati menyebut, saat ini sedang mendapat banyak tugas, seiring dengan peningkatan kasus yang terjadi sejak awal Juni 2021 lalu.

Mahwat –sapaanya Nurhikmahwati- mengatakan, sudah hampir tiga pekan ini, dia hampir tidak punya waktu istirahat untuk tidur bahkan sekedar makan. Mengingat, jika dirata-ratakan, laporan penyintas Covid-19 yang meninggal setiap harinya mencapai 5 hingga 10 orang. Tiap laporan itu membutuhkan waktu setidaknya 1 jam untuk dilakukan penanangan.

“Sudah hampir 3 minggu ini memang sedang terjadi lonjakan jumlah orang meninggal, paling banyak itu sehari 15 orang,” kata Mahwat.

Mahwat pun mengatakan, seiring dengan peningkatan itu, dia meminta maaf apabila terjadi keterlambatan penanganan jenazah penyintas Covid-19. “Ya kami mohon maaf sebesar-besarnya, harap keluarga bersabar menunggu, karena kami pun punya keterbatasan baik tim maupun kendaraan,” kata Mahwat.

Mahwat menambahkan, dengan adanya lonjakan kasus saat ini, pihaknya pun memberlakukan sistem antrean, “Jadi keluarga harap bersabar, pasti semua kita tangani kok, tapi maaf ada sistem antrean, jadi kami mendahulukan yang lapor pertama,” kata Mahwat.

Dia menjelaskan per Minggu (11/7) angka kematian akibat Covid-19 terbilang landai di Kecamatan Pancoranmas. Tidak ada antrean jenazah yang harus menunggu penanganan lebih lanjut. “Gak ada antrean hari ini (kemarin) di Pancoranmas. Tertangani semua dengan baik, hanya ada enam kasus,” jelasnya.

Seluruh relawan pemulasaran berjumlah 20 orang yang tersebar di 11 kecamatan sejak 5 Juli lalu. Adapun, pihak kecamatan juga menambah personel tim pemulasaran untuk memudahkan penanganan.

Lokasi pemakaman Covid-19 terbagi berdasarkan wilayah. Untuk wilayah Barat Kota Depok yakni Pancoranmas, Cipayung, Beji, Sawangan, Bojongsari, Cinere dan Limo ditempatkan di TPU Pasar Putih. Sementara lainnya di Karabha, Cilangkap, dan Ciampeun wilayah Kecamatan Tapos.

“Kecuali yang non muslim di wilayah barat, dilarikan ke Karabha dan Cilangkap. Karena sekarang hectic, akhirnya pemakaman diperbantukan oleh DPUPR dengan alat freeder di Karabha dan Pasir Putih,” jelasnya.

Dia berharap, kedepan jumlah personil relawan tim pemulasaran dapat dilakukan penambahan untuk mengantisipasi adanya lonjakan kasus kematian akibat Covid-19. “Kalau saya pengennya ditambah lagi karena gatau apa besoknya melonjak drastis atau landai. kalau bisa ditingkatin,” tegasnya

Sementrara, Kabid Penanggulangan Bencana Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, Deny Romulo mengatakan, pasien Covid-19 yang meninggal di Kota Depok terbilang banyak membuat tim pemulasaran jenazah harus ekstra bekerja keras. Saat ini, jumlah tim pengurus jenazah itu ada 20 orang dan dibagi ke setiap kecamatan sesuai tempat tinggalnya.

“Karena kondisi jumlah yang overload. Tim pemulasaran jenazah sudah menunjukkan dedikasi yang sangat tinggi dalam kondisi risiko yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Dari 20 orang itu, empat diantaranya terpapar Covid-19,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Minggu (11/7).

Dia menambahkan, untuk memproses adanya informasi masuk dari masyarakat mengenai anggota keluarga yang meninggal akibat Covid-19. Pihaknya membuat list data, siapa saja yang masuk lebih dahulu, dialah yang akan di proses. “Dibikin list data, yang masuk duluan ke list itu yang akan diproses terlebih dahulu. Saya sampaikan kepada tim penulasaran jangan sampai kendor semangatnya,” jelasnya.

Kata Deni, apabila ada tetangga atau anggota keluarga yang meninggal akibat paparan Covid-19. Bisa menghubungi Hotline Pemulasaran Covid-19 di tiap kecamatan. “Sekarang sudah ada kordinator tiap kecamatan. Silakan dihubungi,” bebernya.

Adapun, saat ini, dirinya mengaku telah mengantisipasi keadaan kekurangan peti mati seperti yang terjadi pada beberapa hari lalu. Dengan menyiapkan jumlah yang lebih banyak. “Sudah dapat diantisipasi, per hari ada 50 peti masuk di kami,” tandasnya.

Perlu diketahui, salah satu kejadian keterlambatan yang menyedot perhatian adalah, kejadian meninggalnya anggota keluarga dari Edwin Sumampauw warga Kecamatan Pancoranmas pada Jumat, 9 Juli 2021 kemarin. Sejak sang adik menghembuskan nafas terakhirnya pada pagi hari, pemakam baru bisa dilaksanakan pada sore hari.

Muaranya, karena jenazah sang adik Ade Aditia Setiadi, 32 tahun, sempat ditelantarkan selama kurang lebih 5 jam karena pihak puskesmas tidak kunjung memberikan jawaban untuk mengurus jenazah sang adik.

Edwin mengaku pihak puskesmas sempat memberikan kabar pada pukul 08.00, tapi hingga pukul 10.00, tidak kunjung tiba. “Pihak puskesmas dari pagi nggak nyampe-nyampe, jenazah sudah kelamaan nggak diapa-apain,” kata Edwin, Jumat 9 Juli 2021.

Kekesalan Edwin rupanya sudah terakumulasi. Sebelumnya, ia sempat meminta sang adik di tracing karena dirinya yang tinggal bersama dalam satu rumah divonis positif Covid-19. Tapi hingga menghembuskan nafas terakhir tidak juga dilakukan.

“Sudah keluarga nggak dapat tanggapan soal swab, PCR, sekarang adik saya meninggal dunia, Puskesmas ditelpon nggak jawab-jawab,” klaim Edwin ihwal proses penanganan jenazah Covid-19 tersebut.(daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah

Editor : Fahmi Akbar