penutupan cabang bank
Ilustrasi

RADARDEPOK.COM – Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan saat ini bank-bank mulai enggan untuk membuka kantor cabang baru. Bahkan jumlah kantor cabang perbankan juga telah mengalami penurunan lebih dari 3.000 kantor cabang dalam waktu hampir enam tahun terakhir.

Hal ini lantaran adanya pergeseran pola transaksi nasabah dengan pemanfaatan digitalisasi. Dari yang sebelumnya melakukan transaksi di kantor-kantor cabang, kemudian beralih ke transaksi di ATM hingga saat ini transaksi di ATM pun mulai ditinggalkan oleh nasabah.

Deputi Direktur dan Perbankan Internasional OJK, Tony mengatakan, maraknya transaksi perbankan secara digital mendorong bank-bank memilih untuk tidak membuka kantor cabang baru karena dinilai tidak efisien.

“Dalam beberapa tahun terakhir sangat marak transaksi yang dilakukan di berbagai bank melalui mobile app mereka. Akibat maraknya transaksi melalui mobile mereka, itu berdampak bahwa masyarakat itu semakin jarang ke kantor cabang bank sehingga bank melihat pendirian kantor cabang menjadi tidak efisien dan mereka mulai menutupi sejumlah kantor dan mulai beralih ke layanan elektronik,” kata Tony.

Dari bahan paparan yang disampaikan oleh OJK, jumlah kantor cabang perbankan per Maret 2021 berjumlah sebanyak 29.889 kantor cabang. Jumlah ini turun dari posisi Desember 2020 yang sebanyak 30.733 kantor cabang.

Penurunan ini juga sejalan dengan berkurangnya jumlah bank umum dari sebelumnya 109 bank di akhir tahun lalu menjadi 107 bank di akhir kuartal I-2021.

Sedangkan pada akhir 2015, tercatat yang masih beroperasi sebanyak 32.963 kantor cabang dari 118 bank umum yang beroperasi di Indonesia.

Tren ini terus mengalami pergeseran. Saat ini bahkan transaksi nasabah pun mulai meninggalkan ATM dan beralih menggunakan aplikasi yang disediakan masing-masing bank.

Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Panji Irawan mengatakan, saat ini nasabah tak lagi mengandalkan ATM untuk melakukan transaksi, setidaknya hal itu terjadi di Bank Mandiri.

“Tren menunjukkan behaviour tak lagi menggunakan ATM, nasabah nyaman menggunakan aplikasi online,” kata Panji.

Bank Mandiri mencatat pada kuartal pertama 2021, transaksi di ATM sebesar Rp 200 triliun lebih kecil dari transaksi di aplikasi yang mencapai Rp 341 triliun.

Menurutnya, ini adalah salah satu tren yang dipercepat karena adanya pandemi. Masyarakat yang tetap di rumah memiliki pola yang berubah. Untuk itu, Bank Mandiri tak hanya berinvestasi untuk aplikasi.

Meski begitu, sebagai upaya terus meningkatkan kenyamanan nasabah, Bank Mandiri telah menarik sebanyak 5.000 ATM yang berusia tua. Sehingga saat ini, ATM yang tersedia dan dimiliki oleh Bank Mandiri memiliki performa yang mumpuni karena usianya yang masih muda. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya