ustad muda saepudin
SEMBELIH SAPI : Ustad Saepudin bersama panitia kurban sedang menyembelih sapi. INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK

Idul Adha tidak hanya sebatas menyembelih hewan kurban dan merayakannya dengan menyate bersama. Akan tetapi ada makna yang lebih dalam dari itu yang harus dipahami semua umat.

Laporan : Indra Abertnego Siregar

RADARDEPOK.COM, Pagi itu, Ustad Saepudin tampak berjibaku bersama temanya sesama panitia kurban untuk menumbangkan sapi berukuran besar untuk disembelih dalam rangka perayaan Idul Adha atau yang dikenal dengan sebutan Idul Kurban.

Sosok tokoh pemuda sekaligua tokoh agama di Kecamatan Bojongsari ini mengatakan, Hari Raya ya Idul Kurban kali ini tentunya sangatlah berbeda dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya, dikarenakan pandemi covid 19 yg nasih melanda Indonesia, ditambah dengan keputusan Pemerintah yang terpaksa harus menetapkan PPKM guna mencegah penularan semakin tak terkendali.

“Pasti sangat berbada dalam segala hal, mulai dari semarak hingga ibadahnya, lantaran pandemi saat ini memaksa kita untuk saling menjaga jarak,” kata Ustad Saepudin, di waktu istirahat kegiatan penyembelihan hewan kurban.

Semangat Idul Kurban harusnya menjadi momentum buat seluruh masyarakat agar manusia menyadari bahwa hidup inih tak bisa berjalan tanpa ada orang lain disekitar kita.

“Betapa tidak, harta yang dimiliki takkan berguna apa apa jika saat kita butuh terhadap sesuatu, akan tetapi hal tersebut yang kita inginkan tidak bisa kita dapatkan akibat tidak ada yang menjualnya atau tidak ada yang membuatnya atau tidak ada yang menanamnya dan tidak ada yang mengolahnya dan seterusnya,” ujarnya.

Hidup ini sudah diatur sedemikian rupa agar satu dengan yang lainnya saling terikat dan saling membutuhkan.

Di tengah nuansa pandemi seperti ini, warga yang sedang isolasi mandiri merasa terbantu jika jiwa sosial warga lain terpanggil meringankan kebutuhan keseharian mereka dan sebagai bentuk kesalehan sosial seseorang. “Agama memerintahkan kita agar memiliki kepekaan terhadap permasalahan sosial yang terjadi dimasyarakat,” bebernya.

Jika merujuk kepada ayat ayat Allah maka perintah itu akan terbagi menjadi kepada dua macam hal, pertama, At ta’dzim wa ta’abbud lillah, yaitu mengagungkan Allah dan beribdah kepadaNYA, kedua, As Syafaqotu likholqih, yaitu berbelas kasih terhadap sesama atau bisa diartikan memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah SWT.

“Suatu contoh dalam Alquran, Allah SWT, menyatakan Aqiimus Sholah wa Aatu zakaah. Artinya, dirikanlah salat dan Tunaikanlah zakat. Ini memiliki makna setelah seseorang diperintahkan beribadah kepada Allah melalui ibadah salat memperbaiki hubungannya kepada Allah maka dilanjutkan dengan perintah membayar zakat yg bertujuan menciptakan hubungan yang baik terhadap sesama manusia melalui membantu mereka dengan harta yang kita miliki,” terangnya.

Dalam ayat yang lain Allah menyampaikan, Fasholli lirobbika wanhar. Maka dirikanlah salar terhadap Tuhanmu dan berkurbanlah. Artinya setelah manusia diperintahkan untuk mengingat Allah lewat ibadah dilanjutkan agar manusia juga ingat kepada sesama dengan cara berkurban.

“Dengan demikian sangatlah jelas bagi kita bahwa agama sangat menekankan kepada kita agar senantiasa berupaya semaksimal mungkin memperbaiki kualitas imannya kepada Allah dan meningkatkan produktivitas Amaliah sosialnya diantara sesama,” tururnya.

Momentum hari raya Kurban ini semakin mempertegas terhadap kita bahwa hidup kita ini takkan berguna tanpa orang lain. “Sapi sebanyak apapun yang kita kurbankan takkan bisa kita lakukan sendiri dari mulai menyembelih, menguliti, menyacag dan hal-hal lainnya tanpa ada bantuan orang lain yang mengerjakan,” imbuhnya.

Harta yang dimiliki akan menjadi berguna dan bermanfaat manakala ada nilai manfaat yg dirasakan oleh orang lain. Mari sama-sama bahu membahu untuk memiliki jiwa sosial dengan cara kita mengorbankan apa yg bisa kita lakukan baik berupa waktu tenaga pikiran ilmu, harta dan kebijakan yang bermanfaat untuk membantu saudara saudara kita yg membutuhkan uluran tangan dari kita.

“Semoga apa yang kita lakukan menjadi nilai ibadah dihadapan Allah dan sebagai bentuk perwujudan pembuktian cinta kita kepada sang Kholiq yg kita tuangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya. (*)

Editor : Junior Williandro