umkm
TAKE AWAY ONLY : Effendi Suryadi pemilik Rumah Makan Gado Gado Cimanggis ketika melayani pembeli dengan layanan bawa pulang atau take away di Jalan Raya Bogor. FOTO : ARNET/RADARDEPOK

RADARDEPOK.COM – Setelah Hotel dan restoran tak memberikan hak karyawan dengan alasan terdampak pandemi Covid-19. Kini giliran Unit Mikro Kecil Menengah (UMKM) sektor rumah makan. Setelah palu diketok mengesahkan PPKM Darurat diperpanjang Pemerintah Kota Depok, usaha kecil menjerit dan merana.

Rumah Makan Gado Gado Cimanggis salah satunya, yang terdampak kebijakan pemerintah. Pemilik Rumah Makan Effendi Suryadi menerangkan, take away dan delivery order bukan jalan keluar yang baik untuk usaha kecil menengah. “Tidak semua menu bisa atau enak di bawa pulang. Beda hal nya jika kita makan di tempat. Itu sangat berpengaruh,” jelasnya kepada Harian Radar Depok, Jumat (23/7).

Dia menerangkan, pendapatannya perhari merosot 60 persen, yang biasanya bisa mendapatkan Rp400 sampai Rp500 ribu, kini hanya Rp150 ribu sampai Rp200 ribu setiap harinya. Belum lagi harus menambah kemasan untuk pelayanan yang maksimal. “Sebenarnya jumlah segitu hanya bisa menutup modal, kadang juga kurang. Modal kan bukan hanya bahan makanan, ada air dan listrik, sampai gas,” beber Effendi.

Dia mengatakan, untuk membangkitkan kembali usahanya bukan perkara yang mudah, sebelumnya kebijakan PSBB telah melesukan pendapatannya. Setelah berusaha membangkitkan usahanya, namun kebijakan PPKM hadir kembali.

Menurutnya, bantuan atau stimulus dibutuhkan bagi usaha menengah bukan diberikan kepada sejumlah pengusaha besar, sebab usaha kecil menengah juga telah memberikan kehidupan pada masyarakat. “Sangat dibutuhkan sekali solusi yang tepat. Kebijakan terus berjalan dan usaha kecil tetap bertahan,” kata Effendi.

Tak hanya itu, bahkan saat ini usahnya terpaksa menunggak tagihan listrik selama dua bulan dan sudah masuk tiga bulan. Peringatan dari pihak berwenang telah disampaikan, namun dia pasrah dengan tetap terus aturan pemerintah, dari pada terkena harus terkena denda. “Itu namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Intinya kami sangat berharap ada solusi untuk membantu kami,” tandasnya. (arn/rd)

Jurnalis : Arnet KelmanutuĀ 

Editor : Fahmi AkbarĀ