pembacaan teks proklamasi

RADARDEPOK.COM – 17 Agustus 1945 menjadi hari yang bersejarah untuk negara Indonesia. Dimana, tepat hari itu Indonesia menyatakan merdeka dan terbebas dari segala hal penjajahan.

Banyak fakta yang ternyata terjadi pada momen pembacaan teks proklamasi tersebut. Berikut ada 7 fakta dari momen bersejarah tersebut :

1. Soekarno sedang sakit saat membacakan teks proklamasi

Ketika membacakan teks proklamasi di depan rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Cikini, Jakarta Pusat, Soekarno sedang dalam kondisi sakit malaria.

Dua jam sebelum membacakan teks proklamasi, pria yang akrab disapa Bung Karno ini masih tertidur. Sekitar pukul 10.00, dia dengan semangat berapi-api membacakan teks proklamasi dan menyatakan kemerdekaan Indonesia.

2. Teks proklasmasi dibuat di rumah perwira Jepang

Rumah perwira Angkatan Laut Jepang, Laksamanan Maeda, di jalan Imam Bonjol No 1 Menteng menjadi saksi penyusunan teks proklamasi. Usai tersusun dengan rapi, terks tersebut ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.

3. Teks asli Proklamasi ditemukan di tempat sampah

Naskah asli teks proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno ditemukan di tempat sampah di rumah Laksamana Maeda.

Putra asal Aceh yang berprofesi sebagai wartawan, BM Diah, menemukan teks tersebut lalu menyimpannya selama hampir 47 tahun. Dia menyerahkan teks tersebut kepada negara pada 29 Mei 1992.

Naskah tersebut kini tersimpan utuh dan aman di Museum Arsip nasional.

4. Foto saat pembacaan proklamasi hampir disita Jepang

Seprti halnya naskah asli yang sempat dibuang, dokumentasi proses proklamasi juga tidak disimpan dengan baik. Beruntung, seorang pemuda bernama Frans Mendoer berhasil menyelamatkan dokumentasi itu.

Dia lalu menanamnya di bawah sebuah pohon di kantor Harian Asia Raja. Tak lama berselang, tentara Jepang meminta negatif film dokumentasi proklamasi tersebut. Frans berkata tidak memiliki dokumentasi tersebut.

5. Bendera Pusaka Merah Putih terbuat dari kain sprei

Saat pembacaan proklamasi, berndera Merah Putih yang ada terlalu kecil yaitu 50 centimeter. Fatmawati pun mengambil sprei putih dari dalam lemarinya. Lalu untuk kain merah, seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo membelinya dari penjual soto.

Fatmawati yang tengah hamil besar lalu menjahit kain tersebut hingga terbentuklah bendera Merah Putih. Bendera pusaka ini disimpan dengan rapi oleh pemerintah.

6. Pembacaan proklamasi dilakukan saat bulan Ramadan

Pembacaan Proklamasi dilakukan saat bulan Ramadan 1945, tepatnya pada 9 Ramadan 1334 H. Momen bersejarah ini semakin menambah indahnya Ramadan kala itu.

7. Suara Bung Karno saat membacakan proklamasi direkam ulang

Suara Bung Karno saat membacakan proklamasi seperti yang selama ini kita dengar, ternyata tidak direkam langsung saat pembacaan teks proklamasi.

Rakaman tersebut memang benar asli suara Bung Karno, tetapi dilakukan pada 1951 di Radio Republik Indonesia (RRI) untuk kebutuhan dokumentasi negara. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya