Sanggar Kinang Putra Depok
CERIA: Anak-anak Sanggar Kinang Putra berfoto bersama usai melakukan latihan menari di sanggar yang berlokasi di RT03/07 Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, sebelum adanya pandemi. FOTO: DOKUMEN PRIBADI FOR RADAR DEPOK

Mengenal Lebih Dekat Pemilik Sanggar Kinang Putra, Andi Supardi (3-Habis)

RADARDEPOK.COM, Eksistensinya di dunia seni, tak membuat Andi Supardi tak serta merta melupakan sebagai makhluk sosial. Ia turut berbaur di lingkungan, dan anak-anak sekitar mengikuti latihan di sanggar secara gratis.

Laporan : Lutviatul Fauziah

Prestasi yang sudah diraih oleh pria berusia 60 tahun ini, memang tidak bisa dianggap enteng. Dirinya sudah beberapa kali menjadi perwakilan Indonesia untuk mengenalkan kebudayaan khususnya budaya Betawi di sejumlah negara ternama.

Selain tampil dari panggung ke panggung, Andi juga mengajar di beberapa tempat. Seperti Sanggar Kinang Putra, Situ Babakan, SMPN 230 Jakarta dan beberapa tempat lainnya.

Sejak 2012, ayah tiga orang anak ini mulai mengajar di kawasan budaya Betawi Situ Babakan, Jakarta Selatan. Mulai dari mengajarkan tari hingga musik tradisional. Sedangkan di SMPN 230 Jakarta dia sebagai guru ekskul musik tradisional Betawi.

“Apalagi, menjelang adanya lomba seni biasanya saya dapat panggilan dibeberapa sekolah untuk mengajarkan anak-anaknya,” ucap penerus Sanggar Kinang Putra tersebut.

Tidak semua bisa dirinya pegang sendiri, saat ini Andi memiliki empat orang asisten yang membantunya mengajar dibeberapa tempat. Bahkan, anak-anak yang sempat dilatih olehnya ada juga telah sukses dan memiliki sanggar sendiri.

Untuk di Sanggar Kinang Putra sendiri, Andu tak pernah menungut biaya sepeserpun bagi anak-anak sekitaran tempat tinggalnya yang mau turut serta dalam melestarikan kebudayaan.

Namun, pandemi Covid-19 menghantam seluruh sektor yang ada. Andi dan kawan-kawan seprofesinya pun ikut merasakan dampaknya. Sejak awal pandemi, dirinya sempat vakum dari berbagai kegiatan yang sudah membesarkan namanya ini.

Tetapi dirinya tak keabisan akal, disela-sela waktunya diisi dengan membuat konten di Youtube. Sehingga, anak-anak didiknya dapat berlatih dirumahnya masing-masing dengan memutar video yanh ada di Youtube. Kontennya, mulai dari nari hingga bermain alat musik yang memang sesuai dengan keahliannya.

Sementara, anak bungsunya,  Nia Permata Sari sudah mulai ikut berlatih dan tampil sejak usianya masih menginjak 3tahun. Dirinya mengaku, hal ini lantaran Nia selalu melihat keluarganya berlatih sehingga membuatnya tertarik. “Sejak SD juga saya sudah ikut lomba-lomba tari, dan saat ini saya bantu Babeh untuk ngajar nari anak-anak di Sanggar,” ucap gadis berusia 22 tahun ini.

Darah seni yang mengalir padanya memang warisan turun menurun dari keluarga. Ditambah memang hobinya juga sama dengan sang babeh yang berkecimpung di dunia seni, membuatnya begitu senang dengan aktifitas seni yang tekuni bersama keluarga dalam mengembangkan kebudayaan. Khususnya seni Betawi. (rd/*)

 

Jurnalis: Lutviatul Fauziah

Editor: M. Agung HR