promosi doktor
SIDANG VIRTUAL: Promosi Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dengan Promovendus Sri Munawarah, dengan Ketua Sidang Dr. Adrianus L.G. Waworuntu, Promotor Prof. Dr. Multamia R.M.T. Lauder, dan Kopromotor Dr. Frans Asisi Datang, yang berlangsung Kamis (5/8). IST FOR RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menggelar Sidang Promosi Doktor Linguistik dengan Promovendos Sri Munawarah, disertasi yang disidangkan berjudul “Distribusi dan Variasi Bahasa di Daerah Urban: Studi Kasus di Depok Berdasarkan Kajian Sosiodialektologi”, berlangsung pada Kamis (5/8) secara virtual.

Sidang Doktor Linguistik tersebut menghadirkan Ketua Sidang Dr. Adrianus L.G. Waworuntu, yang juga Dekan FIB UI, Promotor Prof. Dr. Multamia R.M.T. Lauder, dan Kopromotor Dr. Frans Asisi Datang.

Persoalan kebahasaan merupakan persoalan yang tumbuh dan berkembang sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat penutur bahasa. Berbagai faktor, seperti peristiwa sosial, politik, sejarah, dan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia ketika berinteraksi atau melakukan kontak bahasa dengan bahasa-bahasa daerah dan asing, mengembangkan suatu bahasa. Perkembangan kebahasaan di Depok juga mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

Depok berbatasan langsung dengan Ibu Kota Jakarta dan menjadi penyangga sebagai pemukiman, pendidikan, perdagangan, pariwisata, dan daerah resapan air. Sementara itu, bagian selatan berbatasan dengan Bogor yang dahulu merupakan satu kesatuan kotamadya. Jumlah penduduk Depok berkembang pesat setelah bergabungnya beberapa wilayah kecamatan dari Bogor, seperti Cimanggis, Limo, dan Sawangan. Pada 1997 Depok masih berstatus kota administratif (kotif). Namun, pada 2007 Depok mengalami pemekaran wilayah sebagai kotamadya. Seluruh dinamika perkembangan Depok itu menjadi pemantik ketertarikan Sri Munawarah untuk meneliti bahasa-bahasa yang digunakan di Depok saat ini dalam penelitian disertasinya yang dipertahankan pada Sidang Promosi Doktor Linguistik di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok (5/8), dengan hasil cum laude.

“Hal kebahasaan yang diteliti di Kota Depok adalah bagaimana situasi kebahasaan di Kota Depok sebagai daerah urban yang di dalamnya terjadi kontak bahasa memunculkan variasi bahasa, yang pada gilirannya membawa pengakuan masyarakat Kota Depok menggunakan bahasa tertentu sebagai bagian identitas masyarakat Kota Depok,” ungkap Sri.

Sri Munawarah juga meneliti bahasa apa yang mempunyai daya sebar (distribusi) paling luas di Kota Depok dan yang dapat dijadikan pertimbangan sebagai muatan lokal dalam kurikulum pendidikan di Depok. Dengan ancangan sosiodialektologi, penelitian dilakukan atas 235 leksikon pada 63 kelurahan sebagai titik pengamatan. Sri menemukan adanya kontak bahasa yang intens antara penutur bahasa Betawi dan penutur bahasa Sunda di Depok. Mobilitas  penduduk yang tinggi akibat kemudahan akses transportasi dan komunikasi menjadi salah satu sebab semakin tingginya pemahaman antarpenutur bahasa Sunda dan bahasa Betawi yang tercermin pada penghitungan dialektometri.

“Namun, alih-alih bahasa Sunda, masyarakat Depok adalah pemakai bahasa Betawi Pinggiran (Ora), walaupun pemakaian kosakata ora semakin menghilang. Kosakata “wadon” (perempuan) merupakan ciri kosakata khas yang digunakan oleh penutur dialek Betawi Pinggiran, yang area distribusi pemakaiannya luas, yaitu 57%,” tuturnya.

Kemudian kosakata penanda dialek Betawi Pinggiran lainnya, yaitu “lanang” dan “bocah” masih digunakan di wilayah Kota Depok, namun wilayah sebarnya tidak seluas “wadon”. Kosakata “lanang” mempunyai area distribusi pemakaian 21%. Adapun kosakata “bocah” memiliki area distribusi pemakaian 24%.

Kontak bahasa terjadi pada kata sapaan untuk panggilan anak perempuan kecil dan remaja, dengan kosakata bahasa Sunda yang mempunyai daya sebar paling luas, yaitu kata “eneng” atau “neng”, sedangkan panggilan anak laki-laki kecil dan remaja kosakata Betawi mempunyai daya sebar paling luas, yaitu “entong” atau “tong”. Uniknya, dalam hal panggilan untuk wanita dewasa, daya sebar bahasa Betawi lebih luas daripada bahasa Sunda, yaitu “mpok” atau “empok”. Demikian juga untuk panggilan laki-laki dewasa digunakan bahasa Betawi, yaitu “abang”. Untuk sistem kata sapaan yang berasal dari kosakata kekerabatan untuk kakek dan nenek, yang mempunyai daya sebar paling luas adalah bahasa Betawi, yaitu “engkong” dan “nenek”.

“Berdasarkan wawancara dengan informan, banyak informan mengatakan bahasa yang mereka pakai adalah bahasa kampung setempat atau bahasa Depok. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat, bahasa yang dipakai di Depok disebut sebagai bahasa Melayu Depok. Dengan demikian, ada tiga definisi atas bahasa berdasarkan temuan riset ini,” terang Sri.

Pertama, bahasa sebagai penanda identitas diperlihatkan oleh label yang dilekatkan oleh masyarakat bahasa di area itu sendiri, yaitu bahasa Depok. Mereka lebih ingin dikenal sebagai orang Depok, yang dalam hal ini sudah tidak lagi terpisahkan antara orang Betawi dan orang Sunda serta kelompok pendatang lainnya. Kedua, bahasa dari sudut pandang politik pemerintahan merupakan identitas kewilayahan, berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat, yaitu bahasa masyarakat Kota Depok adalah bahasa yang tergolong dalam bahasa Melayu Depok. Ketiga, bahasa sebagai sebuah entitas linguistik yang eksistensinya tidak terlepas dari penghitungan secara metodologis yang dilakukan oleh para linguis. Inilah yang kemudian terlihat dari bahasa Melayu dialek Betawi. (gun/rd)

Jurnalis / Editor : Muhammad Agung HR