seks olimpiade

RADARDEPOK.COM – Hubungan asmara terlarang yang kerap terjadi di wisma atlet dalam perhelatan olimpiade. Untuk urusan itu, atlet dari tim Amerika Serikat (AS) dikenal sebagai tim yang paling ganjen dan gila seks.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu atlet Inggris Raya ketika berpartisipasi di gelaran Olimpiade London 2012. Ia mengak, telah digoda dua atlet renang AS peraih medali saat menghadiri pesta yang diselenggarakan sprinter Jamaika, Usain Bolt.

“Mereka meminta kami untuk kembali asrama mereka untuk bersenang-senang, tetapi kami menolak. Kami bersama atlet Ukraina dan berpikir akan tidak sopan untuk bertukar negara. Tim AS secara umum paling genit dan paling siap untuk itu (hubungan seksual). Sementara, orang Eropa Timur, mereka sangat santai,” ungkap atlet Inggris Raya yang tidak diketahui identitasnya ini kepada Daily Mail.

Menurut salah satu atlet Olimpiade lainnya, atlet-atlet yang berasal dari cabang olahraga renang, lari, voli pantai dan senam merupakan atlet yang paling terbuka dalam urusan hubungan seksual itu.

Mantan penjaga gawang Tim Sepak Bola Wanita Amerika Serikat, Hope Solo yang berhasil merebut medali emas di Olimpiade 2008 dan 2012 juga membeberkan pesta seks di gelaran olimpiade.

“Ada banyak seks yang terjadi di Olimpiade, saya telah melihat orang berhubungan seks di tempat terbuka, di rerumputan kotor di antara gedung-gedung,” ungkap wanita yang kini berusia 40 tahun dikutip melalui Daily Star.

Namun, pada Olimpiade Tokyo 2020, pesta seks di lingkungan wisma atlet akan sulit terjadi karena terdapatnya larangan dari pihak penyelenggara, sebab masih adanya virus corona.

Terlebih, pihak penyelenggara juga telah menyiasati hal tersebut dengan menyiapkan tempat tidur ‘anti-seks’.

Kendati demikian, Komite Olimpiade Internasional (IOC) dilaporkan tetap menyuplai kondom sebanyak 150.000 untuk para atlet. Namun, mereka menyarankan agar para atlet tidak menggunakannya di masa Olimpiade.

“Distribusi kondom bukan untuk pemakaian di wisma atlet Olimpiade, tetapi agar para atlet membawa itu pulang untuk meningkatkan kesadaran,” bunyi pernyataan IOC. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya