jubir covid depok
Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana

RADARDEPOK.COM – Data pusat, Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Kota Depok acap kali tidak singkron soal update Covid-19. Jadi, Depok selalu di kucilkan dengan pesebaran yang dominan se-Jawa Barat. Minggu (22/8) hingga pukul 12:00 WIB misalnya, Jawa Barat mencatat tambahan kasus 1.192 kasus, menjadi kedua terbanyak setelah Jawa Timur.

Jabar terus menyalip DKI Jakarta yang sebelumnya sempat jadi hotspot kasus, pada hari yang sama penambahan kasus di DKI Jakarta tercatat 702 kasus. Wilayah di Jawa Barat yang menyumbang kasus terbanyak adalah Kota Depok. Wilayah tersebut berada di urutan pertama kasus terbanyak, ada lebih dari 20 ribu kasus terkonfirmasi hingga saat ini.

Wilayah di Kota Depok yang mencatat kasus tertinggi antara lain Kecamatan Pancoranmas, Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Cimanggis dan Kecamatan Tapos. Sebagai informasi, hingga saat ini tambahan kasus positif mencapai 12.408 kasus, lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya sebanyak 16.744 kasus. Secara total, konfirmasi kasus positif di seluruh Indonesia mencapai 3.979.456 kasus.

Kasus aktif turun 12.898 kasus menjadi 306.760 kasus. Ada 148.410 spesimen dengan suspek sebanyak 262.664 orang. Tercatat kesembuhan sebanyak 3.546.324 orang atau bertambah 24.276 dalam sehari. Sayangnya, kasus meninggal juga bertambah, ada 1.030 orang menjadi 126.372 kasus.

Menimpali hal tersebut, Kepala Divisi (Kadiv) Kebijakan dan Data Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana mengungkapkan, hari ini (Kemarin) baru selesaikan rekonsiliasi data dengan Pusdatin Kemenkes dan Provinsi Jabar. “Insyaa Alloh besok siang (Hari ini) sudah dirilis data hasil rekonsiliasi,” ujar pria yang juga menjabat Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, kepada Harian Radar Depok, Minggu (22/8).

Menurutnya, belum bisa merespon data tersebut, karena malam ini (semalam) baru selesaikan kesepakatan akhir rekonsiliasi data melalui replace data. “Semoga kekeliruan data anatra pusat, provinsi dan Depok tidak ada lagi,” tandasnya.(rd)

Editor : Fahmi Akbar