Thamrin PTM
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Depok, Mohamad Thamrin. FOTO: IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dalam situasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Kota Depok, nampaknya belum bisa diberlakukan. Mengingat, kebijakan itu hanya berlaku pada satuan pendidikan di wilayah PPKM Level 1-3 dengan Risiko Rendah (Zona Kuning) dan Risiko Tak Terdampak (Zona Hijau).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohamad Thamrin menegaskan, bagi orang tua, sekolah, maupun para siswa harus lebih bersabar. Sebab, proses belajar mengajar di Kota Depok masih menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“PTM Terbatas itu yang diperbolehkan adalah satuan pendidikan di zona kuning dan hijau. Kalau zona merah dan oranye belum diizinkan,” ujar Thamrin kepada Radar Depok, Jumat (13/8).

Thamrin menjelaskan, jika kebijakan tersebut diberlakukan di Kota Depok, pihaknya telah menyusun pedoman PTM Terbatas. Di antaranya, membagi jadwal masuk para siswa. “Mungkin dua hari pertemuan (PTM), tiga hari online. Kemudian memerhatikan prokes ketat, membatasi jumlah siswa hanya 20 anak, serta terkait durasi pembelajaran 2×24 jam dengan 4 jam pelajaran,” bebernya.

Selain itu lanjut Thamrin, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk tenaga pendidik maupun tata usaha (TU) sudah hampir menyeluruh. Dari 15.000 orang di sekolah negeri dan swasta, sebanyak 85 persen telah diberikan vaksin.

“Itu bukan guru saja, tetapi ada TU dari Taman Kanak-kanak (TK), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP),” kata Thamrin.

Thamrin menuturkan, pihaknya akan membuat jadwal untuk tiap sekolah agar para siswa dapat tervaksin secara merata. Hal ini dilakukan, sebab capaian vaksinasi Covid-19 untuk siswa masih belum optimal. “Kalau siswa baru sedikit, karena yang dipersyaratkan pelajar 12 tahun keatas atau tingkat SMP. Dan baru ada beberapa sekolah laporan sudah divaksin tapi itupun belum 100 persen, karena keterbatasan stok vaksin di wilayah,” tuturnya.

Jika kondisi Kota Depok ke depannya dapat membaik, sehingga berdampak pada perubahan level PPKM dan kebijakan PTM Terbatas bisa terlaksana. Baik orang tua, siswa maupun sekolah perlu bersinergi mempersiapkan beberapa hal.  Thamrin menilai, apabila orang tua setuju anaknya mengikuti PTM Terbatas, maka harus siap mengantar jemput, kemudian menyediakan bekal makanan maupun minuman anak, sampai membekali masker cadangan. Dan anak tidak boleh lalai protokol kesehatan (prokes).

“Untuk sekolah harus membentuk tim Satgas Covid-19, penyediaan fasilitas kesehatan (faskes) bekerjasama dengan puskesmas atau klinik, alat cuci tangan atau hand sanitizer, dan thermogun. Perhatikan prokes serta Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” terangnya.

Sebetulnya, Pemerintah Kota Depok telah menyiapkan pedoman PTM Terbatas sejak pencanangan pada Januari 2021 lalu. Namun belum dapat berjalan akibat kondisi Covid-19. “Sudah siap sebetulnya baik pedoman maupun sekolah. Cuma melihat situasi dan kondisi (sikon) Depok akhirnya tertunda. Mudah-mudahan Depok membaik,” ucapnya.

Terpisah, terkait rencana pemberlakuan PTM, Ketua PGRI Cabang Kota Depok, Syamsudin Azhari mengaku, pihaknya mendukung apapun kebijakan yang nantinya akan diberlakukan.

“Kalau kami PGRI sifatnya mendukung apapun kebijakan yang dinilai terbaik,” ucap Syamsudin kepada Radar Depok, Jumat (13/8).

Menurutnya, hingga saat ini PGRI Depok belum melakukan berbagai upaya. Seperti sosialisasi ke sekolah maupun guru, karena masih menunggu keputusan resmi pemerintah. “Belum ada sosialisasi, kami menunggu Konferensi Kerja Provinsi. Setelah itu baru kami adakan sosialisasi,” terangnya.

Syamsudin menegaskan, jika kasus positif covid-19 sudah mulai melandai dan aman untuk PTM, ia tentu akan menyetujuinya. Tetapi, sebelum pelaksanaan PTM, kesehatan para guru dan siswa juga harus dinyatakan sehat. “Dalam pelaksanaannya juga setiap sekolah, siswa serta orang tua perlu mengikuti ketentuan yang nanti diberlakukan ketika akan di mulai PTM,” tuturnya.

Baginya saat ini yang terpenting yaitu menyiapkan kesehatan untuk semua yang terlibat. Salah satunya bisa dilakukan vaksinasi bagi tenaga pendidik. “Saya belum menerima data sudah berapa guru yang divaksin, tetapi diharapkan seluruh guru bisa mendapatkan vaksin,” tandasnya.

Sementara itu, Pakar Epidemiologi, Iwan Ariawan menyebutkan, saat ini yang dilihat bukan tentang zona, melainkan Level PPKMnya. Beberapa sekolah dapat menggunakan mixed metode, dimana orang tua dan siswa boleh memilih ingin PTM atau tetap online.

“Ini bukan soal zonanya lagi, tapi tentang level PPKMnya, kalau Level 4 orang tua bisa pilih mau PTM atau online,” ujar Iwan kepada Radar Depok, Jumat (13/8).

Iwan menjelaskan, sekolah harus ada kesiapan jika ingin PTM. Di antaranya, protokol kesehatan yang ketat agar tidak terjadi kasus covid-19. Dilanjutkannya, semua guru dan murid sudah vaksin dosis satu dan dua. “Protokol Kesehatan, vaksin dosis lengkap pada siswa dan guru hingga pemantauan apakah terjadi kasus Covid antar guru, murid yang melaksanakan sekolah tatap muka. Jika ada, sekolah ditutup kembali,” tandasnya. (daf/tul/cr1)

 

Jurnalis: Daffa Syaifullah, Lutviatul Fauziah, Ivanna Yustiani

Editor: M. Agung HR