Mimbar Jumat KH A Mahfud Anwar
Oleh: K.H. A. Mahfudz Anwar (Ketua MUI Kota Depok)

RADARDEPOK.COM, Ketika seseorang merasa mampu melakukan sesuatu biasanya lupa bahwa kemampuan itu datang dari Tuhannya Yang Maha Kuasa. Sehingga mengambil tindakan sesuai dengan seleranya sendiri. Bahkan yang lebih fatal, melakukan suatu pekerjaan dengan giat segiatnya menghabiskan waktu sepanjang hidupnya untuk kerja dan kerja. Dan ketika sukses, maka dia katakan inilah saya. Dan hanya sayalah yang mampu melakukannya. Kesombongan muncul dalam hatinya walau tidak nampak dari luarnya.

Begitu juga sebaliknya manakala dia gagal dalam mencapai keinginannya selalu menyalahkan dirinya sendiri. Hingga timbul kecewa, sedih, yang berlebih-lebihan. Maka jadilah putus asa, stress ringan sampai stress berat. Dan lebih fatal lagi, sampai ada yang berusaha bunuh diri. Dan peristiwa ini sekarang banyak melanda masyarakat modern. Karena hidupnya didominasi oleh pikiran yang serba duniawi dan serba instan. Segala sesuatu diharapkan segera keluar hasil. Lambat sedikit saja, sudah mengguncang jiwanya. Dan inilah yang kemudian banyak orang dilanda psikosomatik, yaitu gangguan fisik yang dipengaruhi oleh pikiran atau emosi. Akibat stress yang berlebihan bisa menimbulkan gangguan sakit fisik, seperti gangguan lambung, sakit punggung, sakit kepala, sesak napas, nyeri dada, dll.

Dan anehnya lagi kebanyakan manusia mengira bahwa sakit psikosomatik yang dideritanya hanya diakibatkan oleh faktor fisik semata. Seperti virus, bakteri dan sejenisnya. Padahal pengaruh dominan adalah kejiwaan. Yaitu jiwa yang lepas hubungan dengan Tuhannya. Keimanan yang menipis, bisa menyebabkan mudahnya stress dan sakit-sakit lainnya. Itulah sebabnya Allah SWT. telah memberitahu kepada umat Islam agar kembali kepada Tuhannya. “Rabbukum a’lamu bimaa fie nufuusikum,..” “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (Q.S.Al-Isra’ : 25).

Untuk itu bisa dipahami bahwa jika manusia itu baik (shalihien), maka Allah SWT. akan melindungi jiwanya. Dan jika jiwanya sudah terlindungi, insyaAllah fisiknya akan terlindungi juga. Dan penyakit yang melanda hanya secara fisik akan lebih mudah disembuhkan dari pada sakit fisik yang disebabkan oleh jiwa yang sakit. Maka di sinilah peran kejiwaan/batin yang seharusnya selalu berhunungan dengan Tuhannya. Bahasa agamanya hati dan lisan yang mudah berdzikir. “Alaa bidzikrallahi tatmainnul quluub”: ketahuilah dengan selalu berdzikir kepada Allah SWT akan mendapat ketenangan jiwa. Hanya jiwa yang tenanglah yang mampu meredam hawa nafsu. Dan watak hawa nafsu selalu ingin berbuat keburukan dan kesesatan.

Maka marilah kita berdekatan pada orang-orang ahli dzikir, ulama’-ulama’ yang selalu mengajak berdzikir, agar kita terpengaruh mudah berdzikir. Sehingga kita pun memperoleh ketenangan jiwa sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT. Semakin kita sering kumpul berdzikir bukan saja tenang dan damai, tapi rahmat Allah SWT pun akan turun meliputi kita semua. Malaikat-malaikat pun berdatangan turut hadir dan mendoakan peserta dzikir. Istighatsah, khataman Al-Qur’an, majelis dzikir Ratib, yang biasa kita baca pun sebenarnya menjadi bagian dari dzikir yang mengundang Rahmat Allah SWT. Demikian juga shalawatan bersama juga bagian dari dzikir bersama kekasih Tuhan Nabi dan Rasul.

Dan jangan biarkan orang-orang yang lupa berjalan dalam kesesatannya. Mari kita dakwahkan pembenahan jiwa mereka agar selalu terhubung dengan Tuhannya. Sebab hubungan baik sesama manusia akan membantu mempermudah hubungan baik antara kita (hamba) dengan Sang Pencipta. Demikian ini akan bisa diperoleh jika kita juga melibatkan jiwa kita dalam berdakwah. Tanpa melibatkan jiwa yang bersih, maka dakwah kita hanya akan menjadi buih di atas buih. Semoga Allah SWT. selalu membersihkan jiwa kita bersama orang-orang shaleh yang selalu menjadi pelita di sekitar kita. Sehingga mampu menerangi jalan kita menuju Rabb yang mengatur kita dan mengatur jagat raya ini. Wallahu a’lam.  (rd/gun)

 

Jurnalis/Editor: M. Agung HR