Komunitas Latte Art
KOMPAK: Komunitas Depok Latte Art saat berkumpul bersama anggotanya sebelum pandemi. FOTO: IST

Mengenal Komunitas Depok Latte Art (3-Habis)

RADARDEPOK.COM, Membangun Komunitas Depok Latte Art (DLA) awalnya hanya memiliki lima anggota. Namun, kini mencapai puluhan anggota. Seringkali menggelar workshop dan menjadi media partner, membuat DLA semakin berkembang.

Laporan: Ivanna Yustiani

Setelah menggelar kegiatan Depok Berbagi, beberapa kali Depok Latte Art juga mengadakan workshop, bekerjasama dengan coffeeshop di depok untuk menjadi media partner.

Pada akhirnya, anggota awal hanya lima orang kini menjadi puluhan tergabung menjadi member DLA. Member tidak hanya di Kota Depok, ada juga dari Jakarta, Tangerang dan sekitarnya.

“Saya juga gak nyangka bisa banyak yang join jadi member DLA, bukan di Depok saja tapi di luar Depok ikut bergabung,” ungkapnya.

Followers Instagram Depok Latte Art kini pun melonjak naik, banyak generasi muda yang ingin ikut bergabung sebagai anggota DLA setelah diadakannya berbagai event menarik. Acapkali, DLA mengadakan lomba demi kekompakkan bersama anggotanya, Dengan menyisihkan sebagian uang dari para anggota, DLA menggelar lomba kecil-kecilan. Selain anggota, orang lain pun turut mengikuti lomba tersebut.

“Kami juga sering adain lomba fun game, karena mereka nyarinya kan senang-senang. Kami patungan beli hadiah untuk pemenang,” katanya.

Salah satu yang membuat banyak calon member  ingin ikut bergabung adalah DLA selalu meramaikan tempat-tempat coffeeshop dan berkumpul bersama anggota resminya. Tak lupa, DLA rutin mengumumkan di sosial medianya mengenai event yang digelarnya, dan menjadi pengaruh bertambahnya anggota DLA.

“Intens diinfokan di sosial media kalau kami gelar acara. Misalnya, kumpul bareng anggota DLA. Instagram berpengaruh untuk kami,” jelasnya.

Fuji Yanto memiliki harapan yang sangat besar untuk DLA. Ingin seperti kota-kota lain yang memiliki komunitas dikelola secara serius. Saat ini, masih belum adanya potensi dari para anggota untuk menghadirkan generasi baru. Selain itu, kedepannya DLA ingin membuat suatu lisensi agar bisa menjadi komunitas resmi untuk membimbing orang-orang dalam membuat latte art.

“Selama ini kami hanya menyalurkan ke tempat lain, kedepannya Kami ingin membuat lisensi untuk DLA, biar kami juga bisa ajarin mereka membuat latte art. Jadi gak perlu menyalurkan ke tempat lain lagi,” pungkasnya. (cr1)

 

Jurnalis: Ivanna Yustiani

Editor: M. Agung HR