RADARDEPOK.COM – Pandemi yang diumumkan pada 11 Maret 2020 oleh badan kesehatan dunia / World Health Organization (WHO) berdampak luas untuk semua aspek kehidupan. Aturan yang ditetapkan pihak otoritas untuk mencegah meluasnya infeksi virus severe acute respiratory syndrome – corona virus 2019 (SARS-CoV-2) berakibat terbatasnya aktivitas ekonomi dan membuat pertumbuhan ekonomi melambat. Beratnya beban ekonomi akibat restriksi bepergian, berkumpul dan kontak dengan individu lain adalah dampak lain pengaturan untuk menghindari infeksi dan kasus aktif yang meluas. Data yang dirilis Satgas Covid-19 menyebutkan pada tanggal 21-27 Juli Indonesia mencatatkan angka kematian yang tinggi, bahkan pada tanggal 27 Juli menyentuh 2.069 kasus kematian sehingga pengetatan pergerakan dilakukan yang disebut dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).  Bagi pekerja di sektor informal yang mendapat upah harian, PPKM berarti terganggunya pendapatan dan kemampuan daya beli. Menurunnya tingkat pendapatan menganggu pemenuhan kebutuhan primer yakni kemampuan mengakses bahan pangan yang sehat dan bergizi.

Organisasi kesehatan anak dunia / United Nation International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada tanggal 3 Juni 2020 melaporkan jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akibat pandemi meningkat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, di tingkat nasional jumlah baduta yang dikategorikan gizi buruk dan kurang mencapai 15,2%, pendek 29,9%, serta kurus dan sangat kurus 11,7%. Malnutrisi merupakan masalah yang harus mendapat perhatian serius dari semua pihak, termasuk otoritas, karena pengaruhnya terhadap kualitas kesehatan pada usia produktif. Di masa pandemi ini, kelompok anak-anak dan remaja termasuk kelompok rentan yang akan mengalami defisit konsumsi dan akhirnya akan berisiko mengalami kurang gizi. Kepala keluarga yang mengalami penurunan pendapatan akan berdampak pada menurunnya daya beli untuk pemenuhan kebutuhan keluarga. Kemampuan untuk membeli bahan pangan yang variatif, jenis dan jumlah, mengalami penurunan drastis. Padahal pemenuhan kebutuhan gizi mutlak untuk tahapan tumbuh kembang dan pembentukan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi infeksi. Terlebih lagi, varian virus dari mutasi semakin beragam dan dapat menyerang kelompok usia lebih muda. Kurang gizi pada anak-remaja berisiko memperburuk infeksi dan menambah kasus positif yang dapat menyebabkan mortalitas. Lingkaran tak berujung yang harus diatasi untuk meminimalkan dampak pandemi.

Bak dua sisi dari keping mata uang, risiko kurang gizi dapat muncul bersamaan dengan kasus lebih gizi. Tekanan mental, peristiwa traumati akibat kehilangan menjadi beberapa hal yang akan mendorong perubahan pola konsumsi makanan. Kerentanan kelompok muda pada kesehatan mental akan menyebabkan terjadi pergeseran pola makan menjadi tidak seimbang dan menyalahi panduan. Studi yang dilakukan oleh Jia dkk yang diterbitkan di jurnal Appetite di tahun 2021, melakukan pengumpulan data di kalangan muda di Cina secara daring. Hasil penelitian yang melibatkan 10.082 anak muda menyebutkan terjadi perubahan pola makan secara signifikan pada beberapa kelompok bahan pangan. Kelompok makanan yang mengalami penuruan konsumsi diantarnya beras, daging, produk unggas, sayuran, olahan kedelai dan turunan susu dan produknya. Pergeseran pola makan ini juga ditemukan pada sekelompok remaja di Italia, terjadi peningkatan konsumsi berbeda dibandingkan sebelum pandemi. Di Indonesia belum ada data resmi mengenai perubahan pola makan yang dilaporkan, namun kecenderungan ini sudah dilaporkan melalui data Riskesdas 2018. Prevalensi gemuk mencapai 8% dan 20%, untuk kelompok usia balita dan 5-12 tahun berturut-turut di tingkat nasional di tahun 2018, meningkat dibandingkan dengan data tahun 2013. Penambahan populasi berat badan lebih dan obesitas juga cenderung meningkat pada populasi dewasa. Obesitas sudah

Dua kejadian kurang dan lebih gizi harus mendapat perhatian serius dari orang tua, pendidik. dan otoritas untuk merancang program migitasi. Bagi otoritas perlu mengkampanyekan secara masif pesan gizi sehat dan seimbang bersama dengan pentingnya aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan. Di masa pandemi ini, larangan berkumpul membuat keengganan untuk melakukan aktivitas fisik meningkat dan kerap disebut dengan generasi rebahan. Kampanye Germas  (Gerakan Masyarakat Sehat) sebagai tindakan preventif perlu diintensifkan dengan mengadopsi aktivitas fisik yang dapat dilakukan di lingkungan rumah. Mengoptimalkan program melalui pesan gizi pada semua tingkatan sejak dari nasional, daerah hingga ke RT/RW akan membantu penerapan gaya hidup sehat. Pemerintah Indonesia juga sudah menerbitkan Panduan Gizi Seimbang dan Isi Piringku untuk sebagai panduan untuk konsumsi harian. Memanfaatkan kanal-kanal digital secara rutin akan memudahkan dalam menyampaikan pesan pada kelompok target.

Pandemi ini dapat menjadi titik balik untuk mengkampanyekan hidup sehat dan seimbang untuk mengurangi risiko terinfeksi dan mengalami perburukan yang dapat berakibat fatal. Usaha preventif melalui sistem kekebalan tubuh, yang merupakan simultan dari gaya hidup sehat dan seimbang, menjadi peluang untuk menghadapi gempuran infeksi virus. Semoga kita bisa melalui badai pandemi dengan menerapkan pola hidup sehat dan seimbang. Tetap sehat, tetap semangat !

Lestari Octavia

Dosen Universitas Gunadarma, Depok