RADARDEPOK.COM – Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan periode emas untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Masa ini dimulai sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun. Pada tahap ini, otak mengalami perkembangan pesat yang akan menentukan kualitas kesehatan janin di masa yang akan datang. Kondisi kesehatan sebelum merencanakan kehamilan juga akan mempengaruhi kesehatan pada saat konsepsi. Sejak perinatal, yakni dari usia kandungan 22 minggu hingga tujuh hari pasca melahirkan dipengaruhi kondisi ibu sebelum dan pada saat hamil. Gizi yang adekuat, baik zat makro dan mikro, selama periode hamil akan berdampak pada kondisi janin pada saat lahir.

Bayi yang dilahirkan dengan kondisi nutrisi ibu yang memadai akan menjadi peluang awal untuk melalui tahap periode neonatal. Periode ini dimulai sejak kelahiran hingga 28 hari kehidupan. Pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif menjadi strategi untuk menyediakan sistem perlindungan pada bayi yang baru lahir. Di tahun 2015 dilaporkan ada 2,5 juta bayi yang meninggal dunia selama periode neonatal. ASI yang diberikan secara ekslusif sejak 24 jam pertama kehidupan terbukti mengurangi risiko kematian neonatal dibandingkan dengan bayi yang menerima ASI setelah 24 jam. Pemberian ASI dalam 24 jam pertama kehidupan dikenal dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Organisasi Kesehatan Dunia / World Health Organization (WHO) mencatatkan cakupan ASI ekslusif hanya 50% di seluruh dunia, di Indonesia sendiri menargetkan pemberian ASI eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No: 33 Tahun 2012 mengejar target IMD 50% di tahun 2019. Cakupan IMD secara nasional bertengger pada 75,58%, target yang dapat terlampaui di tahun 2019. Sementara, pemberian ASI ekslusif mencapai angka 67,74% secara nasional berdasarkan Data Profil Kesehatan tahun 2019. Cakupan pemberian ASI yang melebihi target menjadi awalan baik dalam usaha menurunkan prevalensi stunting pada balita. Sebelumnya, berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017, Laksono dkk melaporkan cakupan pemberian ASI 35,7%.  Menurut Laskono dkk,  pemberian ASI ekslusif rendah pada kelompok ibu yang berpendidikan rendah dan kelompok ibu bekerja.

ASI yang diberikan pada IMD memiliki kandungan kolostrum yang dapat membunuh kuman sehingga dapat menurunkan risiko mortalitas pada bayi. Kolostrum yang berwarna kekuningan dihasilkan sejak hari pertama sampai hingga ketiga pasca melahirkan. Pada hari keempat hingga kesepuluh, ASI mengandung immunoglobulin, laktosa, dan protein lebih rendah daripada kolostrum namun lemak dan kalorinya lebih tinggi dengan warna susu yang lebih putih. Selain kandungan zat gizi, pada ASI terdapat enzim tertentu yang berfungsi sebagai zat penyerap yang tidak akan menganggu enzim lain di usus. Enzi mini yang menjadi pembeda dengan susu formula. Ketiadaan enzim pada susu formula yang meyebabkan penyerapan zat gizi bergantung pada kondisi usus bayi sehingga pemberian susu formula pada awal kehidupan seringkali menyebabkan gangguan pencernaan. Berbeda dengan susu formula, jumlah zat gizi pada ASI tergantung pada durasi pemberian, semakin lama kegiatan memberikan akan meningkatkan kandungan nutrisi. Studi klinis menyebutkan pemberian ASI yang melebihi waktu 1 tahun memiliki energi dan lemak yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang memberikan ASI dalam kurun waktu yang lebih pendek.

Di dalam artikel yang dimuat di International Breastfeeding Journal, Siregar dkk melakukan perhitungan biaya perawatan di fasilitas kesehatan disebabkan karena tidak menerima dan memberikan ASI sesuai rekomendasi. Angka yang dirilis berkisar pada angka USD 118 juta/tahun. Biaya ini mencakup USD 88.64 juta dari penyedia jasa kesehatan dan USD 29.98 juta dari non-medis. Dalam perspektif ekonomi, pemberian ASI menurunkan risiko penyakit sejak dilahirkan diantaranya diare dan pneumonia. Ibu yang memberikan ASI memiliki risiko rendah untuk mengalami kanker payudara dan ovarium, dan mengalami diabetes mellitus tipe 2.

Pekan ASI sedunia yang berlangsung 1-7 Agustus 2021 lalu yang mengambil tema “Perlindungan Menyusui Adalah Tanggung Jawab Bersama”. Pesan yang disampaian dalam kampanye tahun 2021 menekankan pentingnya partisipasi semua pihak untuk mendukung kegiatan menyusui. Kegiatan menyusui menjadi kegiatan yang harus menyenangkan dan memberi manfaat bagi ibu dan bayi. Dukungan tenaga kesehatan, pasangan, keluarga, masyarakat menjadi kunci meningkatkan cakupan pemberian ASI, selain tetap melanjutkan edukasi pada ibu mengenai manfaat pemberian ASI. Walau di masa pandemi memang terjadi penurunan ke pusat layanan kesehatan karena khawatir terinfeksi Covid-19.

Kampanye untuk meningkatkan promosi, proteksi dan dukungan pada layanan kesehatan sebagai kegiatan promotif dan preventif untuk menghemat ongkos perawatan kesehatan. Kesadaran untuk meningkatkan cakupan sebagai usaha untuk meminimalkan dampak yang merugikan dari meniadakan memberi ASI ekslusif. Kampanye dengan memanfaatkan layanan digital atau mobile clinics mengenai manfaat ASI dapat dioptimalkan dan dikembangkan lebih baik lagi. Berangkat dari kesadaran bahwa manfaat pemberian ASI berdampak pada ongkos belanja kesehatan, kognitif dan tumbuh kembang yang optimal demi sumber daya Indonesia berkualitas di masa yang akan datang.(rd/**)

Lestari Octavia