boks 3 akhiran daffa
PEDULI: Relawan Komunitas GSB melakukan kunjungan ke rumah siswa asuh beberapa waktu lalu. IST

RADARDEPOK.COM – Pandemi Covid-19 yang masuk ke Indonesia mulai Maret 2020, membuat seluruh aktivitas menimbulkan kerumunan dibatasi. Termasuk Komunitas Gerakan Suka Baca (GSB) mengalihkan edukasi offline menjadi online. Bahkan, GSB menyalurkan bantuan para siswa dari jenjang SD-SMA setiap akhir semester.

Laporan: Daffa Andarifka Syaifullah

Berbagai cara GSB lakukan setiap minggunya secara rutin untuk para peserta didiknya. Sebelum pandemi, 74 siswa asuh merasakan proses belajar mengajar bersama Renita Yulistiana serta rekannya. Lokasinya di Sekolah Masjid Terminal (Master).

Terkadang, mereka harus menunggu giliran menggunakan ruangan di sekolah tersebut. Pernah satu ketika, jika tidak ada satu ruangan yang buka. GSB bersama para siswa rela hujan-hujanan.

“Dari awal sudah di Sekolah Master. Cuma masih pindah pindah, kadang di samping FO emperan pake koran, kadang di belakang, kadang di ruang kelas. Sekarang sih alhamdulillah udah dikasih tempat tetap di mushola belakang. Tapi kadang kurang juga kalau siswanya masuk semua, karena ada beberapa kelas jadi kurang fokus, banyak anak yang lari-larian,” ujar Inisiator GSB, Renita Yulistiana.

Ada dua program rutin yang digelar GSB, diantaranya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Minggu Cerdas, yang diikuti anak-anak dari TK-SMP. Serta Lapak Baca di Taman Lembah Gurame Depok, digelae setiap Minggu pukul 15:00-17:30 WIB. GSB memberikan akses buku bacaan gratis, targetnya anak anak usia TK-SMP. Jumlahnya random sesuai pengunjung taman.

“Nah, semenjak pandemi. Semua kita modifikasi jadi online. Pembelajaran offline jadi online, Lapak Baca jadi konten pembelajaran edukatif di Youtube atau Podcast. Serta kegiatan virtual lainnya,” tuturnya.

Kreativitas mereka lebih diuji selama pelaksanaan kegiatan online. Memutar otak guna mematangkan konsep pembelajaran maupun event agar tidak membosankan meskipun tanpa tatap muka.

“GSB sekarang bisa menjangkau lebih luas lagi selama pandemi. Bahkan beberapa siswa tidak hanya berasal dari Depok. Ada yang dari Jember, Jogja, Semarang, dan sebagainya,” ucapnya.

GSB juga memberikan beragam bantuan bagi siswa asuhannya. Salah satu program yang digulirkan adalah beasiswa pendidikan di setiap akhir semester. Dari 74 siswa, 20 anak saja yang akan lolos seleksi dengan poin belajar tertinggi.

“Jadi dari 20 anak itu, Dari 20 anak, kita seleksi lagi menjadi 6-10 anak. Dan kami beri mereka tugas membuat video. Siswa yang lolos akan mendapat bantuan uang saku parsial atau sebagian untuk kebutuhan pendidikannya. Dibantu oleh para kakak donatur. Jadi, satu kakak donatur akan membiayai satu siswa setiap semesternya,” imbuhnya.

Renita dan kawan-kawan juga punya inisiasi menolong para siswa untuk memberikan bantuan kuota belajar. Disamping adanya program bantuan kuota dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Sebagai sebuah komunitas nonprofit yang fokus di bidang pendidikan serta literasi. Kami tergerak menggalang dana karena tidak semua siswa memiliki kemampuan daya beli kuota yang sama. Jadi, kami ingin membantu untuk mendukung proses belajar mengajar lebih lancar. Melalui Kitabisa.com,

Alhamdulillah terkumpul donasi Rp2 juta lebih, terima kasih orang-orang baik,” terangnya.

Tahun demi tahun GSB menjajaki dunia pendidikan dan literasi, jumlah keanggotaan komunitas non profit itu kian bertambah. Berawal dari tiga orang, kini sekitar 20 orang siap berbagi ilmu, pengalaman, dan waktunya.

“Ada tim inti sekitar 20an orang yang handle Divisi Konten, Kurikulum, Relawan, dan Rumah Belajar. Untuk jumlah relawan yang berkolaborasi juga udah 1000+ dari berbagai daerah Indonesia. Kedepan, harapan saya GSB tetap konsisten dan tetap ada. Bagaimanapun kondisinya,” tutupnya. (daf)

Editor : Fahmi Akbar