pengolahan air PDAM
PRODUKSI AIR: Suasana produksi pengolahan air yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Asasta Kota Depok. Tahun ini PDAM Tirta Asasta terus menggencarkan jemput bola pelanggan dengan berbagai program. FOTO: PDAM TIRTA ASASTA KOTA DEPOK FOR RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pada tahun 2021 selama masa pandemi ini, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Asasta Kota Depok terus menggencarkan sejumlah program. Di antara yang menjadi konsennya yaitu meringankan masyarakat melalui penggratisan biaya sambungan, terutama pelanggan kawasan permukiman (residensial). Program tersebut sudah berlangsung dan memasuki bulan ke delapan.

Direktur Umum PDAM Tirta Asasta Kota Depok, Ade Dikdik Isnandar menyebutkan, program tersebut sebetulnya mulai diinisiasi sejak akhir 2020, dengan program diskon 100 persen, dan dilanjutkan hingga sekarang.

“Alhamdulillah program ini berdampak pada animo masyarakat. Ada sensitivitas dari sisi beban awal yang cukup besar dikeluarkan oleh calon pelanggan ketika menjadi pelanggan. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya diperoleh  4.000  sampai 5.000 SL per tahun, tapi sampai Agustus ini sudah mendapatkan 5.200 SL dan diharapkan sampai akhir tahun dapat mencapai target 7.200 SL, dan semoga bisa melebihi dari itu,” ungkap Dikdik kepada Radar Depok.

Kemudian program kedua, yaitu PDAM mulai berkolaborasi dengan stakeholder atau kolaborasi pentahelix. Lima variabel masyarakat yang diharapkan bekerjasama, yaitu Akademisi, Bisnis, Goverment, Community, dan Media (ABGCM). Terutama saat ini dengan goverment, dalam hal ini Pemkot Depok.

“Dulu lebih banyak menunggu bola. Nah, sekarang saya meminta ke pemasaran untuk aktif mendatangi camat, lurah, bahkan hingga RT/RW, termasuk dengan pengurus-pengurus perumahan. Jemput bola untuk memasarkan layanan PDAM kepada masyarakat,” tutur Dikdik.

Selain itu lanjut Dikdik disamping terjalin komunikasi yang semakin baik dengan pelanggan, program ini juga mempercepat hasil pemasaran. Untuk semua kantor kecamatan sudah semua dan hampir semua kantor kelurahan, serta RT/RW sudah kita didatangi. Program jemput bola melalui kerjaasama dengan Pemkot Depok ini sudah sampai ke level RT, hal itu juga berdampak pada peningkatan  minat masyarakat.

“Kami juga menitipkan ke pak Lurah imbauan-imbauan serta edukasi tentang pentingnya penggunaan air PDAM, dan mengurangi penggunaan air tanah,” tegas Dikdik.

Kemudian program yang sifatnya konvensional, seperti sosialisasi, pemasangan di media tetap berjalan dan dipertahankan. Hal ini agar ada awarness masyarakat terhadap keberadaan PDAM Tirta Asasta dan program-programnya. Lalu program lainnya, yaitu pada September-Oktober yakni Mobil Keliling (Moling). Berupa mobil layanan, mulai dari penyuluhan, pendaftaran, serta pembayaran. Tahun ini rencana sudah disiapkan dua unit Moling. Diharapkan ini membantu masyarakat yang masih ‘malas’ dengan layanan online atau  datang ke kantor PDAM.

Program-program tersebut berdampak pada capaian yang sudah diraih PDAM Tirta Asasta. Di antaranya meningkatkan jumlah pelanggan aktif, dan kemundian menambah antusias masyarakat. Antusias itu juga pengertiannya bahwa masyarakat h mulai teredukasi. Sampai sudah harus mulai mementingkan penyediaan kebutuhan air melalui air perpipaan yang lebih friendly terhadap lingkungan, daripada mengambil air tanah yang sebetulnya itu harusnya menjadi warisan anak cucu.

“Jumlah penambahan pelanggan sampai Agustus itu sekitar 5.200 pelanggan, dari target rencana sampai akhir tahun itu penambahannya mencapai 7.200 pelanggan. Insha Allah terlampaui. Dan sekarang pelanggan aktif itu ada 72.000 lebih SL,” terang Dikdik.

Kemudian target dalam meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan, pihaknya ingin masyarakat semakin mudah untuk menjadi pelanggan, dan semakin memahami pentingnya air PDAM. Apalagi saat ini era revolusi industri. Pihaknya juga akan membuat layanan-layanan itu mulai pendaftaran, pembayaran, pengaduan secara online, cukup melalui handphone pelanggan.

Tetapi tentunya itu dibarengi dengan sisi meningkatkan kualitas airnya. PDAM Tirta Asasta saat ini sudah akan melakukan sertifikasi terhadap pengelolaan air bersertifikat internasional (ISO), agar kualitas air dipelanggan itu semakin hari semakin membaik dan terstandarisasi. Demikian juga dengan pelayanan sedang melakukan proses sertifikasi layanan pelanggan.

“Yang satu ISO 14001 terkait lingkungan. Dan satu lagi ISO 9001 terkait layanan pelanggan. Hal ini sebagai wujud langkah konsistensi terhadap peningkatan layanan masyarakat, dan peningkatan secara berkelanjutan. Jadi kalau sekarang masih ada kekurangan kami akui itu, tetapi ke depan akan semakin ditingkatkan kualitasnya,” ucap Dikdik.

Selanjutnya, PDAM juga akan menggulirkan layanan berbasis Geografic Informasi System (GIS). Jadi setiap pelanggan dalam konteks pendaftaran  itu nanti akan terdata melalui satelit. Posisinya dimana, rumahnya dimana, sehingga akan lebih cepat pelayanan untuk memasangnya, dan lebih cepat pula untuk mengetahui klasifikasi atau kategori rumahnya.

Inovasi lainnya yang akan digulirkan adalah memberikan layanan gratis air minum isi ulang. PDAM akan  melaunching dalam waktu beberapa bulan ke depan layanan tambahan manfaatvl pelanggan dengan nama Rumah Air Asasta Plus. Rencananya pada Oktober mendatang akan mulai digulirkan. Dikdik mengatakan, air Asasta Plus itu akan memiliki kelebihan tidak hanya sekedar air biasa. Yaitu memiliki keunggulan tersendiri, dan tentunya bersih serta menyehatkan. Ini juga sebagai upaya PDAM dalam ‘melengkapi’ kebutuhan masyarakat terhadap air minum. Ia menyadari bahwa di beberapa tempat kadang masih terjadi air yang keruh dan sebagainya.

“Rencana ke depannya kami akan menyediakan mesin stannd-alone, seperti di Mal-mal. Jadi pelanggan PDAM ketika di Mal itu tidak perlu beli, dan cukup membawa tumbler tinggal pencet. Namun demikian, nantinya ada kualifikasi atau persyaratannya. Jadi pelanggan yang sudah memakai sekian kubik baru bisa mendapatkan air itu. Ini supaya mereka mau menggunakan air PDAM. Jadi, tidak hanya daftar kemudian tidak dipakai,” tutur Dikdik.

Perlu diketahui, rata-rata untuk pemakaian rumah tangga saat ini sekitar 16-17 meter kubik per bulan. Inilah yang ingin didorong agar pelanggan meningkatkan pemakaian itu. Sedangkan untuk produksinya dalam setahun sekitar 23 juta meter kubik, dan yang terjual sekitar 17 juta meter kubik. Sisanya adalah NRW (kebocora) karena faktor  komersial dan kontak teknis. Sekitar 30 persen tingkat kebocoran itu.

“Kalau jaringan perpipaan yang sedang dibangun tahun 2021 banyak dilakukan di kawasan Sawangan, Bojongsari, Cipayung, Cilodong, Tapos, dan Cimanggis dari sebelas kecamatan di Kota Depok. Kami juga berharap, PDAM ini bisa lebih inovatif memberikan layanan, semakin cepat, semakin memberikan kenyamanan kepada pelanggan. Sehingga disamping dikenal, memang masyarakat itu menjadi loyal,” pungkas Dikdik. (rd/gun)

 

Jurnalis/Editor: M. Agung HR