Oleh : Ikravany Hilman

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Depok

 

Depok mendapatkan penghargaan Kota Layak Anak untuk yang keempat kalinya. Berita keberhasilan Kota Depok mendapatkan Penghargaan Kota Layak Anak beredar di berbagai Media Massa termasuk Media Sosial. Tentu saja diikuti ucapan selamat bagi Pemerintah Kota Depok untuk pencapaian ini. Melalui tulisan ini saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Pemerintah Kota Depok atas penghargaan yang didapatkan dan memberikan apresiasi kepada seluruh dinas terkait atas sejumlah kerja yang telah diberikan. Namun saya tidak akan merayakan penghargaan yang kita terima. Sebaliknya, saya akan mengajukan cara pandang yang berbeda.

Menurut uraian resmi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, evaluasi dilakukan untuk mengukur pencapaian kinerja pelaksanaan 24 indikator yang telah ditetapkan yang pada akhirnya bermuara pada Penghargaan Kabupaten Kota Layak Anak (KLA) yang terdiri dari 5 (lima) peringkat yaitu Pratama, Madya, Nindya, Utama dan KLA.

Pada tahun 2021 perolehan total penghargaan kabupaten kota layak anak (KLA) mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019 dari 249 menjadi 275 kabupaten/ kota. Artinya ada kurang lebih 26 Kabupaten/Kota yang sebelumnya tidak mendapatkan penghargaan sama sekali, sekarang mendapatkan penghargaan kategori Pratama/Madya. Sampai saat ini belum ada Kota/Kabupaten yang dapat meraih Kategori KLA sebagai penghargaan tertinggi. Penghargaan tertinggi yang bisa dicapai adalah kategori Utama. Setelah beberapa tahun hanya dua Kota yang bisa meraih Kategori Utama, yaitu Surabaya dan Surakarta (Solo), pada tahun 2019 Denpasar menyusul untuk mendapatkan penghargaan kategori Utama. Pada tahun 2021 Kota Yogyakarta, yang sebelumnya mendapatkan kategori Nindya, naik kelas menjadi kategori Utama. Dalam kesempatan riset berita yang saya lakukan, beberapa kabupaten/kota berhasil meningkatkan pencapaiannya dari kategori Pratama ke Madya, atau dari Madya ke Nindya.

Dengan menampilkan data dan informasi di atas, saya ingin mengajak kita semua melihat sisi lain dari pembangunan kota, yaitu progress. Artinya pembangunan harus menghasilkan kondisi yang lebih baik, lebih maju dari sebelumnya. Ada 26 kabupaten/kota yang menunjukan progress karena berhasil mendapatkan penghargaan untuk pertama kalinya. Denpasar dan Yogyakarta menunjukan progress, dari kategori Nindya menjadi Kategori Utama.

Bagaimana dengan Kota Depok? Penghargaan Kategori Nindya pertama kali kita dapatkan pada tahun 2017 dan dipertahankan pada tahun 2018. Dua tahun yang patut kita rayakan. Namun Ketika 2019 dan 2021 masih kategori Nindya juga, pertanyaan kritis harus kita ajukan. Kenapa kita tidak bisa beranjak dari “urutan ketiga”? Iya, Kategori Nindya adalah urutan ketiga setelah kategori KLA dan Utama. Apakah mendapatkan penghargaan Nindya dalam 4 tahun berturut-turut menunjukan keberhasilan pembangunan atau kemandekan?

Belajar dari kompetisi dan klub sepak bola besar, coba tanyakan kepada The Jak atau Viking apakah mereka akan merayakan posisi ketiga Persija atau Persib dalam klasemen akhir kompetisi? Jawabannya jelas tidak. Di liga Inggris misalnya, tim-tim seperti Manchester United, Manchester City, Liverpool dan Chelsea akan belanja pemain, berlatih dan bertanding setiap pekan untuk satu tujuan, Juara. Hanya tim medioker (sedang-sedang saja/biasa-biasa saja) yang akan merayakan dengan gembira ketika berhasil masuk empat besar karena mendapatkan jatah untuk bertanding di Liga Champions. Kita tentu tidak menginginkan Kota kita punya mental medioker. Anak-anak Depok bukan hanya masa depan keluarga, mereka juga harus dilihat sebagai masa depan kota bahkan bangsa ini. Bukan tidak mungkin akan ada Presiden RI yang lahir dan besar di Kelurahan Cimpaeun atau Bojongsari. Maka mentalitas medioker tidak punya tempat dalam pembangunan anak di Kota Depok.

Walikota Depok dalam sebuah wawancaranya dengan sebuah media menggambarkan bahwa penghargaan Kota Layak Anak Kategori Nindya yang didapatkan oleh Kota Depok 4 kali berturut-turut sebagai sebuah keberhasilan. Walikota juga menambahkan kutipan pepatah berikut, “Memang ada sebuah ungkapan, menuju puncak itu mudah, tapi kalau sudah ada di puncak itu lebih sulit,”. Saya percaya ungkapan itu bukan karena beliau medioker tapi karena mungkin lupa bahwa kategori Nindya itu sebenarnya urutan ketiga, bukan posisi puncak. Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan beliau.

Sebagai penutup, saya ingin menyatakan bahwa tulisan ini bukan hanya kritik namun (lebih sebagai) provokasi positif kepada kita semua untuk berbuat lebih baik lagi. Kita mungkin sudah bekerja keras namun jangan pernah merasa sudah maksimum. Maka Pemerintah Kota Depok, DPRD bahkan seluruh warga kota harus bertekad kuat bahwa tahun depan Depok tidak boleh lagi mendapatkan Penghargaan Kota Layak Anak Kategori Nindya, harus kategori Utama. Jika perlu, tekadkan Depok akan menjadi kota pertama di republik ini yang mendapatkan predikat teratas yaitu KLA. Seperti Bung Karno bilang, “Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,” Merdeka!!