Vaksin Sinovac menjadi salah satu vaksin asal China.

RADARDEPOK.COM – Salah satu negara eksportir vaksin virus Korona (Covid-19) adalah China. Vaksin asal negara tersebut ada Sinovac, Sinopharm, dan Cansino dan sudah didistribusikan ke negara-negara berkembang.

Namun, pemberian vaksin ini sempat mendapat kecaman dari kubu Amerika Serikat (AS) dan sekutunya seperti Prancis dan Jerman. Mereka menganggap bahwa China dan Rusia menggunakan vaksin mereka sebagai alat untuk memenangkan pengaruh geopolitik.

Laporan ini diperparah dengan pemberitaan bahwa Beijing sedang mengancam Ukraina untuk memblokir pengiriman yang direncanakan setidaknya 500 ribu dosis jika Kiev tetap setuju memberikan akses kepala hak asasi manusia PBB ke Xinjiang.

Menanggapi hal itu, juru bicara kementerian luar negeri, Zhao Lijian mengatakan, vaksin Covid-19 bukanlah alat untuk kepentingan politik. Ia juga mengatakan China telah mengirim lebih dari 700 juta dosis vaksinnya ke luar negeri.

“Kami telah membantu lebih dari 100 negara menyelamatkan nyawa dan memerangi pandemi tanpa syarat politik apa pun. Jika ini dianggap sebagai diplomasi vaksin, ini sangat populer dan menjadi kepentingan bersama masyarakat internasional,” katanya dikutip Minggu (1/8).

Selain itu, Zhao menyebut bahwa Presiden China, Xi Jinping memiliki komitmen untuk membantu pemulihan Covid-19 di beberapa negara berkembang dengan dana sebesar US$ 3 miliar atau setara Rp 52 triliun.

Ia mengklaim, ekspor vaksin Covid-19 buatan China jauh lebih tinggi di atas pengiriman negara-negara seperti negara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS).

“Ekspor vaksin China 227% lebih banyak dari ekspor vaksin Eropa, dan 84 kali lebih tinggi dari sumbangan AS.”

Menanggapi isu vaksin Ukraina, Zhao menambahkan bahwa tuduhan ini keliru dan pembatalan dalam perikatan dengan Kiev secara legal mungkin terjadi.

“Tidak ada perikatan dalam perjanjian pengiriman itu,” ujarnya. (rd/net)

 

Editor : Pebri Mulya