BNNN depok
BERIKAN: Sosialisasi Intervensi Ketahanan Keluarga Anti Narkoba Berbasis Sumber Daya Pembangunan guna mewujudkan Kelurahan Bersih Narkoba (Bersinar), di Aula Kelurahan Abadijaya, Selasa (22/6). FOTO : DAFFA/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Selama lima tahun dari 2016-2020, angka kasus penyalahgunaan narkoba di Kota Depok tidak pernah turun. Yang ada malah meningkat terus. Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok mencatat narkoba jenis ganja dan sabu masih mendominasi, dan angka kasus di 2020 mencapai 374 orang baik pecandu maupun pengedar.

Sub Koordinator P2M BNN Kota Depok, Purwoko Nugroho mengatakan, setiap tahunnya terhitung sejak 2016 sampai 2020. Kasus penyalahgunaan narkoba di Kota Depok mengalami peningkatan. “Berdasarkan data yang kami dapatkan ada peningkatan. Kalau 2021 masih belum ada datanya karena belum selesai,” ujarnya kepada Harian Radar Depok, Selasa (3/8).

Berdasarkan data BNN Kota Depok, yang bersumber dari Polresto Depok, jumlah kasus narkoba pada 2016 mencapai 321 orang. Lalu 2017, terjadi kenaikan 18 orang menjadi 339 orang. Jenis narkotikanya sendiri dominan kepada ganja dan sabu, meski ada beberapa jenis lainnya seperti tembakau gorilla  sampai penyalahgunaan obat G (obat keras) semacam Tramadol juga kadang ditemukan. “Lalu 2018 ada 344 orang, 2019 itu 357 orang, dan 2020 mencapai 374 orang,” bebernya.

Dia menambahkan, angka tersebut terdiri dari pengedar maupun pecandu. Proses penangkapan dilakukan bekerjasama dengan pihak kepolisian, yang nantinya diproses ke kejaksaan. “Kalau dia ketika ditangkap bukan sebagai pengedar, melainkan pecandu, maka akan diantar ke BNN untuk dilakukan Assesment oleh Tim Assesment Terpadu (TAT) supaya nanti vonis hakim adalah rehabilitasi,” ucapnya.

Adapun, lanjutnya, BNN akan mengupayakan rehabilitasi pada tiga lokasi bagi para pecandu yang melaporkan dirinya. hal ini sejalan dengan amanat UU No 35 Tahun 2009 pasal 54 dan 55. “Kami punya klinik sendiri untuk rehabilitasi, namanya Klinik Pratama BNN Kota Depok. Lalu ada dua yayasan milik masyarakat yang bekerjasama dengan kami yaitu Yayasan Kaki dan Yayasan Kuldesak,” katanya.

Peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba didasari berbagai macam faktor. Diantaranya Kota Depok merupakan kawasan strategis lantaran berbatasan dengan DKI Jakarta, Tangerang, dan juga Bogor yang memiliki kasus narkoba cukup tinggi.

“Kemudian kalau based on geography, ibarat kita (Kota Depok) mudah menjadi jalur transit. Misalkan, pernah kami menangkap orang dari luar daerah mau menuju Bekasi, kemudian transit di Depok dan sebagainya,” terangnya.

Faktor Demografi padat penduduk juga membuat bandar atau pengedar narkoba lebih bisa leluasa dan berkamuflase di lingkungan masyarakat. Disamping itu, ketahanan keluarga turut berperan penting dalam menjaga anggota keluarganya dari bahayanya narkoba.

“Masyarakat di Depok masih banyak yang belum tau bentuk narkoba seperti apa. Ini menjadi pr juga buat kami untuk lebih gencar memberi edukasi, terutama di masa pandemi,” tuturnya.

Sebetulnya, beragam upaya telah digerakan BNN Kota Depok, kolaborasi antara pemerintah melalui kelurahan dan kecamatan guna menjangkau edukasi ke masyarakat di lingkungan RT/RW.

“Melalui Kelurahan Bersih dari Narkoba (Bersinar) dan Ketahanan Keluarga Anti Narkoba, kami mengajak masyarakat untuk melawan narkoba. Ini permasalahan bersama,” tuturnya.

Terpisah, Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan Kota Depok, Rudi Kurniawan menjelaskan, keluarga memiliki peran penting dalam mengawasi kebiasaan dan pergaulan anak. Jika ketahanan keluarga sudah baik, maka penyalahgunaan narkotika tidak akan terjadi.

“Harus dijaga betul-betul anak itu oleh keluarga masing-masing supaya tidak terpengaruh hal negatif. Kemudian anak diberikan kegiatan positif yang terkontrol,” katanya.

Kota Depok sendiri, lanjut Rudi, sudah sangat baik karena tidak terdapat minuman keras yang dijual di toko secara bebas. Serta tidak adanya tempat tongkrongan remang-remang seperti di Kota besar lainnya.

“Tapi kenyataannya masih ada saja yang bisa dapat (miras). Semua unsur miras dan narkoba pasti menimbulkan kejahatan, makanya di agama pun dilarang. Sebetulnya cukup sulit karena Kota Depok ini penyangga ibukota. Cuma bagaimanapun caranya, ketahanan keluarga yang paling utama diperkuat,” tandasnya. (daf/rd)

Jurnalis : Daffa Syaifullah 

Editor : Fahmi Akbar