Ilustrasi Grafis Narkoba
Ilustrasi

RADARDEPOK.COM – Selama tiga hari seorang pengusaha Kota Depok Handiyana Sihombing mengalami penyekapan dengan kekerasan. Pria 44 tahun ini disekap di salah satu hotel kawasan Jalan Margonda Raya.

Handiyana mengaku, penyekapan dilakukan mulai dari 25 hingga Jumat 27 Agustus 2021. Kekerasan yang menimpa dia kuat dugaan pihak perusahaan tempatnya bekerja, yang memerintah seseorang untuk melakukan penyekapan ini.

“Saya sebagai Direktur Utama di perusahaan itu. Saya diminta untuk menyerahkan aset dan harta kekayaan,” terangnya saat dikonfirmasi Harian Radar Depok.

Penyekapan tersebut, menurut Handiyana, karena dituduh melakukan penggelapan uang perusahaan selama bekerja di perusahan tersebut. Dia diangkat jadi Direktur Utama pada perusahaan tersebut pada 6 Juli 2021 dan berlaku selama lima tahun.

Padahal, atas pengakuannya, justru perusahaan ingin memberikan kepemilikan saham perusahaan. Namun, dia keberatan sebab di sebut melakukan penggelapan uang perusahaan.

“Jadi seolah saya menggelapkan uang perusahaan. Jika ada kerugian, seharusnya ada dasar audit keuangan dulu. Tapi ini tidak, langsung menuduh tanpa dasar jelas,” ungkapnya.

Tak hanya itu, dia juga mengaku diminta tanda tangan surat pernyataan secara paksa agar mengakui telah menggelapkan uang perusahaan. Namu karena terus ditekan dan diancam, sehingga korban mau melakukan tanda tangan.

Handiyana menyebutkan, semua barang kekayaan dan aset miliknya telah diserahkannya, bahkan rumah yang telah lama ditempatinya di wilayah Kalimulya juga mau diambil oleh mereka. Bahkan, kediaman orang tua dari Handiyana juga disatroni, untuk mau menyerahkan aset yang dimilikinya.

Kejadian penyekapan itu berkahir Jumat (27/08) pada sore. Ketika Handiyana berteriak meminta tolong, karena tidak tahan disekap dan alami kekerasan fisik. Alhasil pihak keamanan hotel turun tangan dan segera melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Depok.

“Saya trauma, kami sekeluarga trauma. Istri juga sama. Saya tidak berani pulang ke rumah, keselamatan saya tidak terjamin saat ini,” tegasnya.

Laporan tersebut terdafat dalam surat tanda penerima laporan atau pengaduan dengan Nomor: LP/B/1666/VIII/SPKT/Polres Metro Depok/Polda Metro Jaya. Dalam surat tersebut tertulis diduga tindak pidana umum merampas kemerdekaan seseorang sesuai Pasal 333 KUHP. (arn/rd)

Jurnalis : Arnet Kelmanutu 

Editor : Fahmi Akbar