Kadinkes Depok Novarita
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita. FOTO: IST

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengeluarkan Surat Edaran Kemenkes Nomor HK.02.01/I/2007/2021 tentang Vaksinasi Covid-19 bagi Ibu Hamil (dimulai 2 Agustus) dan Penyesuaian Skrining dalam Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19. Itu artinya, perempuan yang tengah mengandung sudah dibolehkan mendapatkan vaksinasi, termasuk di Kota Depok.

Namun, sesuai tanggal yang tertera dalam Surat Edaran Kemenkes tersebut, di Kota Depok, pelaksanaan vaksinasi untuk ibu hamil belum dilakukan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita mengatakan, Depok belum melakukan vaksinasi kepada ibu hamil, lantaran vaksin untuk ibu hamil belum tersedia di Depok.

“Vaksinnya belum ada. Yang ada sekarang hanya untuk pelaksanaan vaksin tahap ke dua, dan tengah berjalan,” kata Novarita kepada Radar Depok, Selasa (3/8).

Meski begitu lanjut Novarita, pihaknya sudah mengajukan penambahan vaksin ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mempercepat vaksinasi bagi seluruh warga Depok. Namun, ia tidak membeberkan berapa jumlah vaksin yang diminta dari provinsi tersebut.

“Kami masih nunggu kiriman dari Provinsi Jawa Barat. Kemungkinan satu atau dua hari lagi sampai. Jumlah yang kami minta sebanyak–banyaknya, tapi gak tahu nanti dikasihnya berapa dari provinsi,” tutur Novarita.

Dia menjelaskan, vaksin yang akan datang nanti adalah Sinovac. Vaksin ini diminta karena dianggap aman untuk digunakan semua kalangan, termasuk ibu hamil. “Kami minta Sinovac, karena untuk perempuan hamil yang direkomendasikan itu Sinovac. Sedangkan Astrazeneka tidak dianjurkan, karena mungkin efek sampingnya kurang bagus bagi perempuan hamil,” bebernya.

Dia menyebutkan, dari target 1,6 juta warga Depok yang akan divaksinasi, Dinkes Kota Depok sudah berhasil melakukan vaksinasi kepada 21 persen jumlah warga dari yang ditargetkan. “Jika ditambah jumlah vaksin yang dilakukan TNI dan Polri, mungkin capaiannya lebih dari itu,” jelasnya.

Dia menambahkan, tidak ada perbedaan proses screening maupun injeksi vaksin, baik kepada masyarakat umum, maupun perempuan hamil. “Semua prosedurnya sama saja, yang penting kondisinya sehat pada saat mengikuti vaksinasi,” tandasnya.

Terpisah, Ahli Epidemologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan, dia sangat menganjurkan ibu hamil untuk ikut vaksinasi ini. Sebab, jika berkaca dari negara maju saat ini perempuan hamil di sana sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19.

“Vaksinasi pada perempuan hamil sekarang sudah direkomendasikan WHO. Di Australia dan negara maju lainnya, kegiatan ini sudah berjalan,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, WHO juga merekomendasikan Indonesia untuk segera melakukan vaksinasi terhadap perempuan hamil, melihat prevalensi risiko penularan Covid-19 di Indonesia yang tinggi saat ini. “Bukan hanya perempuan hamil, ibu menyusui juga dianjurkan untuk divaksin,” tutur Dicky.

Akan tetapi, Dicky Budiman mengaku, merasa kurang puas dengan vaksin Sinovac yang direkomendasikan pemerintah untuk perempuan hamil. Dia lebih setuju jika perempuan hamil menggunakan vaksin jenis Pfizer yang lebih aman, dan efektif dalam menanggulangi Covid-19 varian Delta ini. “Sinovac aman, tapi kalau bicara data yang lebih efektif untuk Delta ya Pfizer,” bebernya.

Dicky menekankan, vaksinasi kepada perempuan hamil ini harus dipercepat. Mengingat perempuan hamil memiliki risiko tinggi terkena Covid-19, jika ditambah dengan komorbit, kondisinya akan lebih parah tiga kali lipat.

“Jadi vaksin itu banyak manfaatnya untuk ibu hamil. Apalagi perempuan hamil punya risiko seperti diabetes, hipertensi. Jika kena Covid-19 dengan kondisi seperti itu, risikonya bisa lebih tinggi dua hingga tiga kali lipat,” imbuhnya.

Dia menambahkan, sampai saat ini belum ada rekomendasi penggunaan vaksin Astrazeneka untuk perempuan hamil, lantaran banyak data yang menunjukan efek samping yang berlebih dari vaksin ini. “Sejauh ini untuk Indonesia yang memungkinkan adalah Sinovac. Tapi pertanyaannya ada tidak stok vaksinnya, cukup tidak vaksinnya di daerah itu,” tutupnya. (rd/dra)

 

Jurnalis: Indra Abertnego

Editor: M. Agung HR