YMPAI Pelatihan RKKI
VIRTUAL: Yayasan Masyarakat Peduli Indonesia (YMPAI), berkolaborasi dengan Rumah Keluarga Indonesia Kota Depok, menggelar pelatihan konselor Jilid 2, bagi Rumah Konseling Keluarga Indonesia, Sabtu (14/8). FOTO: YMPAI FOR RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Yayasan Masyarakat Peduli Indonesia (YMPAI), berkolaborasi dengan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Kota Depok, menghelat pelatihan  konselor jilid 2, bagi Rumah Konseling Keluarga Indonesia (RKKI), pada Sabtu (14/8).

Berbeda dari pelatihan konselor pertama, pada Juli  lalu. Kegiatan kali ini mengusung tema  “Komunikasi yang Produktif” dengan kembali menghadirkan narasumber seorang psikolog, Marnaria  A. Martinis.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB  ini dimulai dengan sambutan pendiri  Yayasan Masyarakat Peduli Indonesia (YMPAI), Julie Rostina. Ia beharap kedepannya akan ada kegiatan positif seperti ini kembali.

“Selain untuk silahturahmi, dan mengisi kegiatan positif di tengah pandemi pelatihan ini diharapkan mampu mengupgrade kapasitas para calon konselor RKKI. Semoga ke depan RKKI bisa memfasilitasi masyarakat menyelesaikan permasalahan terkait kesehatan mental keluarga terkhusus di kota Depok dan Indonesia pada umumnya., “ ungkap Julie.

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan dari  Marnaria  A. Martinis. Menurut  Psikolog yang hangat di sapa Zia ini, agar dapat membuat komunikasi yang baik, alangkah baiknya kita harus mengetahui prinsip komunikasi diantaranya respect, emphathy, audible atau dapat didengar, clarity atau jelas, dan memiliki kerendahatian

“Komunikasi konselor bisa terhambat saat melakukan konseling. Ketika merasa tidak pede, kekhawatiran contect yang kurang serta rasa takut sulit memberikan masukan, “ papar Zia

Zia juga menambahkan, bahwa seorang konselor harus memiliki keahlian mendengarkan, karena sebagian proses konseling adalah mendengarkan klien. Untuk itu pada saat momen penting tersebut, perlu diingat bahwa konselor selalu hadir untuk menerima pasien apa adanya dengan segala kekurangannya, mampu mendengarkan, dapat mengklarifikasi serta memberikan solusi perihal yang disampaikan pasien.

Pada sesi terakhir, para peserta diajak untuk berlatih one and one sebagai konselor dan mengungkapkan kesan nya terhadap pelatihan.  Salah satunya Hartini, yang membuatnya makin pede setelah mengikuti  2 kali pelatihan  RKKI ini .

“Kalau saya sih mudah utuk komunikasi dan adaptasi hanya tantangan terbesar  saya adalah canggung terhadap beberapa orang, dan setelah mengikuti kegiatan ini memebuat saya lebih pede untuk berkomunikasi dengan  pasien nantinya, “ tutup Hartini. (rd/gun/**)

 

Jurnalis/Editor: M. Agung HR